"Lalu kapan kau memberikan padaku?"

"Bukannya sudah? Kalung, gelang, cincin? Kau mau apalagi?"

"Itukan kau beli pada brand Tiffany&C.O, aku mau yang seperti renjun juga"

"Kalau itu tidak bisa?"

"Kenapa?"

"Ahli profesional pembuat cincin itu sudah meninggal dua minggu yang lalu dan cincin renjun adalah karya terakhir nya"

"Apa!? Tidak adil"

Jaemin mengangkat bahu acuh. "Aku bukan Tuhan mau mencegahnya untuk tidak meninggal"

Ji in mendengus kesal kemudian bangkit dan menduduki paha jaemin, pria itu tampak kesal dan menyimpan ponselnya.

"Ada apa lagi?" Tanya jaemin jengah.

Ji in tidak menjawab dan mencium bibir pria itu, jaemin diam dan menatap ji in dengan datar.

Wanita ini tampak agresif, ia mencium jaemin penuh nafsu dan sengaja menggesekan bokongnya pada penis jaemin yang masih tertidur di balik celana.

Ia membuka tiga kancing kemeja jaemin, lalu menciumi leher pria itu.

Jaemin menahan bahu ji in saat wanita itu ingin menggesekan buah dadanya pada dada bidangnya.

"Jangan membuat tanda, aku tak suka melihat renjun menangis" Jaemin menjauhkan lehernya saat merasa ji in menghisap pelan kulit lehernya.

"Kau kenapa sih!!?"

Ji in melihat jaemin kesal, pria itu banyak menolak cumbuannya.

"Tidak apa apa, hanya saja aku belum putus dari renjun, kau tidak ada hak menandaiku"

"Kau masih mencintaiku, kenapa tidak berhak?"

"Aku hanya tak mau renjun menangis hanya karena tanda darimu"

"Renjun, renjun, renjun. Bisa tidak sih kau tidak mengingatnya sehari saja!?"

"Tidak bisa, dia masih pacarku"

"Lalu aku apa!?"

"Kau juga pacarku"

"Kau gila!? Jaemin yang dulu tidak seperti ini"

"Kalau begitu jaemin yang sekarang tidak seperti dulu"

"Berhenti membalik perkataan, kau menyebalkan"

"Sudahlah aku mau pulang, tidak enak di lihat anak anakmu bertamu terlalu lama"

Jaemin bangkit, mengambil dompet dan kunci mobilnya lalu melenggang pergi dari hadapan jaemin.

"Huang renjun sialan" Desis ji in.

000000~

Renjun melangkahkan kakinya malas memasuki kamarnya, ia baru selesai mengerjakan semua tugas dan ini sudah pukul sepuluh malam, mark baru saja pulang setelah ia paksa.

Renjun terdiam di depan pintu melihat satu buket bunga mawar pink besar yang terletak di sana.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
 SUGAR DADDYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang