Pilihan

11 3 0
                                    

"Aku ingin menjadi bagian dari mereka. Menemukan tempat di mana ada ketenangan dan kedamaian yang kudapat."

Faraz Fazwan

Seorang cowok dengan hoodie putih berjalan menyusuri koridor kampus dengan tergesa-gesa. Netranya fokus menatap benda pipih yang ada di genggamannya dengan jari tangan yang menari-nari diatasnya. Cowok itu tak memperhatikan jalannya, hingga tak sengaja ia menabrak seseorang hingga buku-buku yang di bawa orang itu berserakan di lantai.

"Maaf, Pak," ucap Awan ketika melihat sekilas orang di depannya adalah seorang dosen kampus.

Awan bejongkok dan membantu dosen itu merapihkan kembali barang yang di bawa. Tak lupa ia mengucap kata 'maaf' hingga beberapa kali dan membuat dosen itu merasa bosan mendengarnya.

"Terima kasih. Lain kali lebih hati-hati." Awan mengangguk patuh. Entah kenapa, Awan merasa senang setiap kali bertemu Pak Ahnaf. Beliau terkenal sebagai dosen yang ramah, bijak, serta taat pada agamanya.

"Bapak hari ini ada jadwal pengajian lagi?" tanya Awan. Beberapa kali ia pernah ikut Pak Ahnaf mengisi pengajian di mesjid terdekat. Walaupun pada akhirnya Awan hanya duduk di teras mesjid.

Pak Ahnaf tersenyum dan mengangguk. "Kebetulan pagi ini. Mau ikut lagi?"

"Tentu!"

Awan mengikuti Pak Ahnaf dari belakang. Ia akan segera menghubungi Samuel—sepupunya— agar menunda pertemuan mereka.

Sekarang Awan dan Pak Ahnaf telah sampai di sebuah mesjid yang lumayan jauh dari daerah kampusnya.  Bangunan yang cukup besar dari beberapa mesjid yang pernah Awan lihat. Bangunan di depannya itu terlihat lebih indah dengan cat warna putih yang berpadu dengan warna biru muda dan beberapa ukiran lainnya dengan cat kuning emas.

Sepeti biasa, setelah Pak Ahnaf masuk ke dalam sana, Awan menunggu di luar. Duduk pada teras mesjid atau membeli makanan pada penjual di sekitaran mesjid. Cilok adalah salah satu jajanan yang sering kali Awan temui disetiap kali ia menghadiri acara kajian. Awan tak pernah absen untuk membelinya.

Tiba-tiba penglihatan Awan jatuh pada satu orang gadis yang baru saja masuk area mesjid. Jilbab lebarnya yang tertiup angin menambah kesan cantik pada gadis itu.

"Ilmi, gue kangen," gumamnya. Netranya tak lepas dari gadis itu.

* * *

Dua pemuda tengah duduk pada kursi panjang di pinggiran jalan dekat tukang kopi yang biasa jualan di malam hari. Asap dari rokok yang baru saja dihisap oleh Samuel mengepul di udara. Awan, lelaki itu hanya memutar-mutar rokok milik Samuel tanpa berniat menghidupkan rokoknya seperti apa yang tengah Samuel lakukan.

Sudah hampir satu jam keduanya berada di sana hanya sesekali mengobrol atau mengomentari sesuatu yang mereka lihat. Tidak ada obrolan serius seperti apa yang Awan pikirkan sebelumnya. Awan sendiri bingung untuk berbicara mulai dari mana. Karena kemungkinan Samuel tidak akan percaya dengan keputusannya.

"Sam," panggil Awan. Samuel menoleh. "Gue mau ngomong hal penting sama lo. Gue harap, lo dengerin baik-baik dan nggak motong pembicaraan gue."

Samuel mengangguk paham.

"Satu lagi. Lo jangan kaget denger keinginan gue nanti."

Samuel menautkan kedua alisnya. "Lebay, lo."

Awan menatap indahnya langit malam  dengan bertaburan bintang yang berkelap-kelip. Semilir angin malam terasa menusuk kulit tangannya. Awan menarik nafas lalu membuangnya secara perlahan sebelum akhirnya ia akan berbagi cerita dengan Samuel. Segala kemungkinan sudah ia pikirkan dan Awan siap menerima segala resikonya. Termasuk jika Samuel akan marah padanya.

"Gue pengen masuk Islam!"

Samuel mengerjap beberapa kali kemudian menatap Awan dengan tatapan yang sulit ditebak. Entah tatapan marah atau kecewa, hanya itu yang Awan tahu.

"Gue harap lo cuman bercanda." Aura tak bersahabat muncul dari Samuel. Cowok itu bersikap dingin layaknya angin malam yang sedari tadi menusuk-nusuk kulitnya.  Bahkan sepertinya Samuel ogah-ogahan melihat Awan.

"Sejak gue kenal dengan orang-orang Islam yang taat pada agamanya, gue ngerasa ada magnet yang narik buat gue supaya masuk ke dalamnya dan menjadi bagian dari mereka. Gue ngerasa tenang kalo lagi sama mereka."

"Candaan lo ngga lucu." Samuel memalingkan wajahnya saat beberapa detik beradu mata dengan Awan.

"Gue nggak  bercanda, Sam. Gue serius. Gue mau masuk Islam!" Mantap dengan keinginannya tak membuat Awan Beru ah pikiran.

"Lo cuman mikirin diri lo sendiri. Lo ngga mikirin gimana nyokap lo kalo denger hal konyol yang mau lo lakuin."

Samuel tersenyum sinis. Baginya Awan sangatlah egois dengan mementingkan keinginan sendiri dan melupakan Mamahnya dengan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

"Gue ngga bisa tunda lagi keinginan gue, Sam."

Samuel menghadap Awan dan menatapnya dengan serius. "Semua pilihan itu ada resikonya. Termasuk apa yang lo pilih itu juga ada resikonya. Bisa jadi apa yang nggak mungkin terjadi bisa terjadi setelahnya. Apa lo siap dengan segala resiko yang akan datang?"

Beberapa detik Awan diam untuk menetralkan hatinya yang semakin tidak karuan. Walaupun ia yakin dengan pilihannya, tegap saja ada rasa takut yang sering muncul. Apalagi mengingat penyakit Mamahnya yang tengah kambuh.

"Gue siap. Nggak akan ada lagi yang bisa ngerubah keputusan gue. Gue percaya setiap apa yang terjadi itu yang terbaik dari Tuhan buat gue. Tuhan nggak pernah ninggalin kita dalam keadaan apapun. Tapi, kita yang sering lupa akan adanya Tuhan."

Samuel diam. Tidak ada sepatah katapun yang ia katakan lagi pada Awan. Cowok itu berdiri dari duduknya menyambar kunci motor yang tergeletak di atas meja dan berjalan mendekati motornya.

"Gue harap lo nggak akan benci gue."

Samuel berbalik dan berkata, "gue nggak bisa biarin lo pergi ninggalin Tuhan. Gue akan bilang ini ke nyokap lo."

Awan berusaha menghentikan Samuel untuk tidak bilang pada Mamahnya sekarang. Awan tidak ingin Mamahnya tambah sakit.

"Gue mohon, Sam. Jangan kasih tahu Mamah sekarang," ucap Awan memohon pada Samuel.

"Gue nggak peduli seberapa marah nyokap lo nanti. Gue kecewa sama keputusan lo."

"Setidaknya lo peduli sama nyokap gue, Sam. Penyakit Mamah kambuh."

Samuel mengentikan langkahnya beberapa detik. Setelah itu ia kembali berjalan menuju motornya. Memakai helm dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Awan yang terdiam dengan pikirannya.

Entah apa yang akan dilakukan Samuel. Benar-benar pergi pulang ke rumahnya atau rumah Awan? Satu yang Awan harapkan, semoga Samuel tidak benar-benar memberi tahu Mamahnya tentang keinginannya untuk masuk Islam. Bagaimana juga, Awan sangat menyayangi Mamahnya melebihi apapun.

***
K

alo urusannya udah sama nyokap ya serba salah sih. Intinya mimin doain yang terbaik buat Awan ya xixi

Oh iya, jangan lupa tekan bintangnya sama komen, ya. Lempar kritik dan sarannya juga. Sekalian bagiin ke temen-temen😍.

hope you enjoy it😚
See you next time!

Cahaya ImanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang