41 | Kabar Duka

440 105 104
                                    

Song recommendation in this chap!Eddy Kim- When Night Falls

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Song recommendation in this chap!
Eddy Kim- When Night Falls

Happy Reading^•^
Bacanya pelan pelan aja

________________________________________

"Banyak orang yang bilang, katanya, yang lebih menyakitkan dari perpisahan itu, adalah pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal.
Dan, Itu benar."

Jika seandainya di dunia ini ada satu keajaiban. Bolehkah, Jaerin memintanya buat Doyoung?

Ketika diri ini ingin mengikhlaskan. Tapi justru hati ini malah menolak tak mau melepaskan. Oh jadi seperti ini yang namanya kehilangan?

Hati Jaerin sudah tercabik-cabik saat mendengar ucapan Taeyong soal keadaan kakanya yang kembali memburuk. Ada hentakan keras yang mengenai tepat pada jantungnya yang berdetak membuatnya terasa berhenti untuk sejenak.

Sebenarnya, Jaerin sudah tahu jika hari ini bakal terjadi. Tapi, apa harus sekarang?

"maafkan saya. Ka-"

"engga..."potong Jaerin cepat dengan nada yang melirih. Gak sanggup mendengar ucapan sang dokter.

Bayangan bahwa dokter itu akan meminta maaf tak pernah sedikitpun terbayang dalam benak Jaerin. Jaerin masih menanamkan pemikiran bahwa Doyoung gak pernah selemah yang orang liat. Doyoung adalah abangnya yang paling kuat. Semua itu gak mungkin mengalahkannya begitu saja. Sebab, Doyoung udah janji berkali-kali gak akan pernah meninggalkannya.

Tapi Jaerin keliru satu hal. Bahwa manusia cuma bisa berencana, namun Tuhan yang bakal tetap memutuskan. Jaerin lupa bahwa Tuhan sendiri lebih sayang sama kakanya. Jadi seperti ini kah akhirnya?

"waktu kematian-"

"-Enggak!" teriak Jaerin kembali memotong ucapan dokter. Jaerin yang sedari tadi menangis dalam pelukan Jaehyun itu langsung menerobos masuk ke dalam ruangan Doyoung.

Gak peduli sama semua orang yang berusaha buat menahannya. Jaerin cuma mau menemui kakaknya. Dia ingin melihat kondisi Doyoung. Dia ingin memastikan jika kakaknya itu masih bernafas hari ini.

Namun, begitu menginjakkan kakinya di dalam, jantung Jaerin berdentum menyiksa kala melihat dua orang perawat melepas semua alat yang menopang hidup Doyoung.

"enggak! Enggak. Kalian gak boleh melepas alat-alat itu. Abang masih hidup...!" teriaknya lagi sambil berlari mendekat, Jaerin mendorong para perawat itu agar menjauh dari kakaknya.

Kosan Bu Suzy | EnhypenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang