Prolog.

406K 36.8K 5.8K
                                    

" tentang kisah gelap ku yang bertemu dengan bintang kecil." - Gionatan -

Sebelum membaca harap sediakan stok kesabaran yang banyak. Dan bagi para temperamental tolong menjauh.

                           ⚔️⚔️⚔️

" Arghhh..." Wanita itu semakin meringis kala laki-laki yang menindihnya mencengkram kuat perutnya.

" Jangan kak, pliss..." Rai memohon ampun.

Tapi semakin Gio menguatkan cengkraman tangannya, semakin pikiran dia di penuhi wajah seorang bayi mungil yang menatapnya polos. Bayi itu tersenyum lebar menampakkan gusinya yang belum ditumbuhi gigi.

" Bangsat, janin ini harus mati." Batin Gio yakin.

" FUCK, ANJING." Gio menjatuhkan vas bunga yang berada di atas nakas.

Sementara Rai yang sudah terbebas segera meringkuk memeluk perutnya sendiri, berjaga-jaga jika Gio kembali menyakiti sang calon bayi.

Matanya masih bengkak disertai rambut yang acak-acakan. Malam yang seharusnya malam romantis bagi pasutri baru tapi berbeda dengan mereka. Malam ini adalah malam mencekam dari pernikahan paksaan bagi pasutri itu.

Gio mendekat lalu menarik dagu istrinya kasar membuat nafas mint menerpa wajah Rai.
" Kalo sampai mulut Lo ini ngomong tentang kejadian sekarang, gue pastiin bayi itu beneran gak ada."

Setelah mengatakan itu, Gio mencium bibir Rai kasar.

                           ⚔️⚔️⚔️

Mata elang berwarna gelap di balik helm full face menatap lurus ke depan, tangannya terkepal kuat, nafas memburu ditemani sorakan-sorakan para penonton. Kelima motor besar berbaris rapi di garis start, siap memenangkan lomba pada malam ini.

Perempuan berbaju seksi and hot berjalan ke tengah dan mengangkat tinggi-tinggi bendera warna merah lalu melemparkannya ke atas. Di detik itu juga suara semakin heboh karena ke lima motor tersebut meng-gas habis-habisan serta melesat dalam sekejap mata.

" GIO, GIO, GIO,"

mungkin jika salah satu dari kelima motor itu membonceng seseorang, maka dapat di pastikan orang itu akan K.O

Motor sport warna hitam itu menggeser ke samping membuat dia memimpin balapan. Ia membuat kelajuan tinggi dengan lika-liku sehingga saingannya berdecak emosi dan sebagian dari mereka hampir oleng.

Senyum miring tercetak saat melihat garis finish berada di depan mata. Gas lebih tinggi, melirik lawan dari kaca spion, menggeser ke kanan, lalu mengacungkan jari tengah tinggi-tinggi bersamaan dengan ban depan yang sudah mencapai garis kemenangan.

" GIOOOOO......!!!!!"

" UMMMAHHHHH....!!!"

Tangan yang terbalut sarung tangan berwarna hitam itu bertos ria bersama kepada teman-temannya yang langsung datang menghampiri.

" Jadi gimana bang?" Suara berat yang membuat perempuan stroke ringan tertuju pada ke empat peserta lagi yang ikut balapan tapi dalam artian kalah.

Mereka berdecih disertai rasa malu dan penyesalan. Berjalan lalu bersujud dan mencium sepatu hitam milik Gio.

Sungguh rasa malu luar biasa.
Setelah itu mereka yang kalah menaiki motor masing-masing sehingga melesat pergi dari hadapan laki-laki devil itu.

" Anjing emang Lo Gii, orang-orang yang lagi malam pertama itu harusnya bertempur di atas ranjang bukan di atas jalanan!" Seru Franklin disambut tawa kencang teman-temannya.

" Babiii, masih gak nyangka gue kalo si Gio udah married." Lanjut Galang dan langsung di tunjang Gio tidak terlalu kuat.

" Suara Lo anjing, ntar ada yang denger babi." Sentak Gio.

Delon merangkul bahu Gio seraya berkata, " cie, yang perhatian. Ntar kalo ada yang denger pasti bini si Gio dalam bahaya Lang."

" Fuck, bangsat. Mau cewek itu mati gue juga gak peduli." Sarkas Gio lalu menghidupkan motornya bersiap untuk pergi dari sana.

" Pipiw, pipiw, si Abang udah gak sabar mau pulang nih. Ketemu sama bini!" Ejek Revion kembali.

Gio memakai helm lalu mengacungkan jari tengah dan melesat pergi dari sana.

" GIIIIII, MALAM PANASNYA LO LIVE STREAMING YA.." teriak Anton mengundang tawa teman-temannya.

                           ⚔️⚔️⚔️

Ini cerita baru author.
Cerita awal judulnya Dear Pluto.
Cek di lapak sebelah ya 😉

Gionatan ( SUDAH TERBIT )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang