Together.

13.9K 702 66
                                    

Happy Reading.

*

Suara bising dari jalanan kota terdengar mendominasi, kendaraan terus berlalu lalang dan  bergerak kesana kemari. Waktu menunjukkan pukul 18.15 KST. Waktunya orang pulang dari rutinitas pekerjaan yang membebani seharian.

Waktunya kembali kerumah untuk istirahat bukan.

"Park Jimin sudah aku bilang cuci kaki cuci tangan dulu" suara melengking Aliya terdengar keras saat sang suami terus saja berbuat ulah. Belum lagi tas dan jas yang langsung dilempar. Tidak membersihkan diri dulu, justru menyusul dirinya yang berbaring nyaman di tempat tidur.

Aliya jelas mengamuk, memang Jimin tidak bau tapi tetap saja jorok. Menyebalkan sekali laki-laki ini. "Sayang aku rindu" mengabaikan Aliya yang marah-marah, Jimin semakin mengeratkan pelukanya pada perut Aliya yang sangat besar. Sesekali mencium gemas perut Aliya.

Rutinitas kantor yang Jimin tinggalkan dulu membuatnya pusing sekarang. Pekerjaan yang terus menumpuk dan tidak mau berhenti. Jimin kadang jengkel dan berakhir menghambur semuanya.

"Iya tau. Tapi tidak seperti ini juga. Mandi dulu Ji. Astaga" oke Aliya jadi semakin berisik sekarang, Jimin jadi semakin susah diatur. Setelah kepulangan mereka dari New Zealand mereka kembali kerumah lama. Mencoba memulai semuanya dengan awal baru dan hanya berdua. Semua ditoleransi dan di maafkan. Memang itu yang seharusnya terjadi karena Jimin juga korban.

Apalagi dengan Aliya yang dengan tegas menjawab tidak mau melepaskan Jimin. Sama-sama keras kepala dan ingin bahagia masing-masing. "Sekali ini saja aku sangat merindukanmu" Nafas lelah Aliya menguar saat melihat sorot mata Jimin yang sendu. Terlihat sekali kelelahan terpancar disana. Suaminya Ya Tuhan.

Akhirnya Aliya diam dan melanjutkan membaca bukunya. Meninggalkan Jimin yang tersenyum tipis dan kembali memeluk perut berisi Aliya. Menciumnya dengan sayang. "Anak ayah...."

Aliya hanya diam mendengarkan celotehnya Jimin, terus saja mengoceh hingga kadang-kadang Aliya terkekeh geli. Kekanakkan Sekali suaminya ini. "Aliya...."

"Ya..." oke Aliya menyesal sekarang membiarkan Jimin memeluknya. Aliya sudah melihat pancaran mata Jimin yang berubah menggelap dan berkabut. Sepertinya menginginkan sesuatu yang sudah lama tidak dijamah.

Jemari kecil itu sudah bergerak masuk kedalam terusan pendek yang dirinya kenakan. Dan yang lebih sial adalah Aliya tidak mengenakan dalaman selain celana dalam. "Euhhh...."

Aliya sensitif karena sudah 5 bulan tidak dijamah. Jelas rindu hanya saja mencoba menahan diri. "Jiihhh..." tubuh Aliya bereaksi sangat cepat hingga terus menggeliat dan Jimin mengambil alih kendali atas semuanya. Menarik buku yang Aliya pegang lalu melemparkannya. Menarik tubuh Aliya hingga berbaring dan Jimin menindihnya tidak sempurna, jelas sebagai penahan agar untuk anaknya.

Jemari Jimin bergerak gesit melepaskan bajunya dan baju Aliya. Gairah Jimin sudah pada batasnya, 5 bulan dirinya menahan diri dari semua godaan Bianca dan semuanya. Jimin terlampau normal.

"Epmmm..." bibir keduanya menyatu dengan ritme perlahan, saling membelit dan mencecap. Melepaskan rindu yang tertahan.

"Agrhhhh...." Aliya memekik dalam ciumannya, jemari Jimin sudah masuk didalam sana, mengaduk-aduk dan keluar masuk tanpa tau aturan. Tubuh Aliya menggeliat hebat Antara nikmat dan sakit. Belum terlalu basah disana dan Jimin tidak tau aturan.

Ciuman itu lepas karena Aliya kehabisan nafas dan Jimin beringsut kebawah, menuju leher hingga Aliya harus mendongak ke atas untuk memberikan akses yang luas. Tidak satu bagian yang Jimin lewatkan, semuanya dirinya sesap dan penuhi dengan tanda. Penuh dengan warna merah pudar. "Kenapa ini semakin besar sayang?" Pertanyaan yang tidak akan dijawab Aliya, sebab mulut laknat Jimin sudah melahap puncak dadanya dengan rakus. Menghisapnya dengan kuat hingga hanya pekikan yang Aliya suarakan. Suara desahan mendominasi di sore hari.

All About Sex! 21+Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang