Menutup pintu tak lupa menguncinya sontak saja Auva terkejut dan berbalik menatap Damares yang kini menatapnya horor.

"Ngapain lo kunci pintu?"

"Jelaskan ke gue, tradisi jaman mana yang lo kasi tau ke gue!"

Auva menjadi gugup, "Ja-jaman baheula lah!"

"Bang Raka bilang nggak ada!"

Shit!

Apa yang harus Auva lakukan sekarang Yatuhan. Tolong selamatkan Auva dari tatapan nakal Damares saat ini.

Lelaki itu semakin mendekat padanya. Auva pun memundurkan langkahnya hingga badannya bertabrakan dengan dinding.

Tamatlah! Senjata makan tuan.

"Lo bi-bisa ganti pakaian dulu 'kan!" ucap Auva terbata-bata.

Damares meletakkan kedua tangannya disisi tubuh Auva. Mengunci gadis itu agar tak bergerak kemana-mana.

Gugup yang Auva rasakan sekarang. Apalagi saat ini lelaki itu bertelanjang dada didepannya. Damares semakin memajukan wajahnya hingga deru napasnya bisa Auva rasakan.

"Lo tau berurusan sama gue?" tanya Damares dingin.

Sumpah demi keluarga Gempano yang dijuluki keluarga bencana alam. Saat ini Auva bukan berhadapan dengan Damares yang seperti biasa. Melainkan berhadapan dengan Damares yang sudah terkenal bringasnya kepada musuh.

"Gu-gue..."

"Apa?"

Auva seketika menjadi mati kutu. Tak bisa berkutik sama sekali, memasang wajahnya memelas agar Damares kasihan padanya.

Memindahkan tangan Auva pada lehernya. Terkejut saat tangannya mengalung di leher Damares dengan sempurna, lelaki itu menyentuh pinggulnya yabg semakin membuat Auva gugup.

"Auva," panggil Damares menatap Auva lekat.

Sial! Jantungnya saat ini serasa ingin copot. Keluarkan Auva dari dunia halusinasi otak kotornya ini yatuhan.

"Lo harus percaya sama gue, dalam keadaan apapun itu. Perlahan gue akan belajar mencintai lo."

Kening Auva berkerut. "Lah maksudnya?"

"Lo harus yakin sama gue. Kalo terjadi apa-apa di kemudian hari, itu salah paham. Gue akan mencintai lo perlahan."

"Dam, nggak usah ngasi harapan ke gue. Kalo hati lo masih punya orang lain."

Auva tau dimata Damares tak ada kebohongan sama sekali. Mungkin lelaki itu mencintai dirinya, namun kehadiran Indri membuar Auva terganggu.

"Gue bakal selesaikan masalah gue sama Indri. Gue masih nyari bukti kalo dia bohong sama gue. Gue akan lupain, Indri."

Kini tangan kekar Damares melingkar sempurna di pinggul Auva, membawanya semakin mendekat pada dirinya. Mata itu terus saja menatap lekat dirinya.

Auva tiba-tiba tersenyum penuh kemenangan, ia pun tertawa membuat Damares bingung.

"Yes gue menang! Kali ini lo kalah, ingatkan taruhan kita di depan supermarket kemaren? Lo kalah dan kata-kata lo nggak boleh ditarik lagi."

"Gue ngalah demi cinta."

Auva terdiam saat satu kecupan mendarat sempurna di bibirnya. Benda kenyal itu perlahan melumat bibirnya dengan lembut. Ini ciuman pertama bagi keduanya.

Damares melepas ciumannya. Auva masih syok, jantungnya ingin berhenti berdetak saja.

"Gue serius, gue nggak akan main-main sama cinta gue sendiri."

"Dam---"

"Lo harus percaya sama gue, kemudian hari jika lo terima kebenaran yang nggak enak. Itu semua masa lalu dan sekarang gue cinta sama lo."

Damares yakin, Ferdy akan berulah lagi. Perlahan Auva akan tau taruhan mereka ini. Tapi, sekarang Damares melupakan Indri dan mulai berlabuh pada hati Auva.

Gadis itu melepaskan tangannya yang mengalung pada leher Damares. Duduk ditepi kasur dan masih mencerna permintaan Damares.

Kemudian hari? Kebenaran apa? Apa ada yang ditutupi Damares selama ini padanya?

"MAMAAA!! PAPAAA!!" teriakan dari luar membuyarkan lamunan keduanya. Auva pun membuka pintu untuk putrinya itu.

🐈

Auva berada di ruang tamu keluarganya yang kini membahas masalah pertunangan Raka dan Meira. Hanya sebagai pendengar yang baik saja.

"Ini, Ma." Ranayya menyerahkan sisir dan ikat rambutnya pada Auva.

"Minggu depan aja tunangannya. Biar Paman, Bibi, Eyang, sama Nenek Ani hadir disana. Auva nggak mungkin hadir karena dia juga sekolah," jelas Bianca pada Raka dan Meira.

Memilih menghubungi orangtua Meira. Bianca dan Adi sebagai pengganti orangtua Raka.

Auva mengikat rambut anaknya yang tampak diam.

Damares pun datang duduk disebelah Auva dan ikut mendengarkan pembicaraan orangtua itu

Йой! Нажаль, це зображення не відповідає нашим правилам. Щоб продовжити публікацію, будь ласка, видаліть його або завантажте інше.

Damares pun datang duduk disebelah Auva dan ikut mendengarkan pembicaraan orangtua itu.

"Papa disini ada pasar malam, nanti malam Rayya mau kesana," ajak Ranayya saat melihat Damares duduk disebelah Auva.

"Boleh, malam kita pergi ya," ujar Damares mengusap lembut pipi anaknya.

"Gue butuh bukti bukan ucapan," bisim Auva pada Damares.

Lelaki itu menoleh, Auva mengedikkan bahunya acuh.

"Sudah sudah! Bahas lah masalah pernikahan cici dan kekasihnya sekarang," seru Eyang yang mulai bosan dengan tanggal pernikahan.

Uhuk! Uhuk!

Auva dan Damares tersedak air liurnya sendiri saat mendengar ungkapan Eyang yang secara tiba-tiba.

Laki-laki itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Auva memohon pada Bianca.

"Ck, Eyang! Mereka masih sekolah. Seharusnya yang dibahas itu ujian sekolah mereka nanti. Bukan pernikahan," tegur Bianca.

"Nikah muda bisa." tetap kukuh pada pendiriannya.

"Lihatlah, Eyang macam apa dia ini. Wajar saja cicitnya selalu menanyakan kematianmu," ungkap Adi yang mendapatkan pukulan dari Nenek Ani.

"Sstt, Adi kalo ngomong nggak ada filter," tutur Nenek Ani.

"Rencana nya sih secepatnya," jawab Damares jujur membuat mereka melongo dan Eyang tertawa puas tanpa giginya.

"Dia sudah tidak sabar lagi." Eyang masih tertawa kemenangan.

Auva memukul lengan Damares cukup keras hingga mengaduh kesakitan dan mengusap lengannya.

"Canda doang!" gumam Damares.

"Nggak lucu!" ketus Auva kasar.

Keluarga mereka malah tertawa melihat perdebatan Damares dan Auva. Sekarang sifat jahilnya datang lagi. Nanti berubah lagi bikin orang kesal, gitu aja terus berubah sifat.

-JAGA JARAK KEMATIAN-

Pegang omongan Damares yaw tentang perasaannya sama Auva. Kalo dia bohong gorok aja lehernya gapapa, Auva ikhlas lahir batin. Suka benar mainkan perasaan anak orang.

SEE YOU

P R A G M A ✓ (TERBIT & LENGKAP)Where stories live. Discover now