PROLOG

583 250 178
                                    

Multimedia:
End of a Day by Jonghyun
(Orchestra Ver.)

Adviced to play the music above!

◈ ━━━━━━━━━━ ⸙ ━━━━━━━━━━ ◈














Pertengahan Desember ....

Tempat itu terdapat di daerah pusat Seoul. Orang-orang pergi dan berlalu lalang, melangkah terburu-buru dengan raut wajah yang mudah ditebak. Pakaian berwarna putih berada di mana-mana, bergerak secara fleksibel dengan kecepatan yang berbeda.

Tampak mereka yang menangis—terlihat lemah, meski terkadang masih ada beberapa manusia yang memasang wajah tegar nan luluh. Tidak terhitung berapa jumlahnya, tetapi tempat itu bisa dikatakan sebagai salah satu pusat yang sangat dibutuhkan. Dindingnya didominasi oleh warna putih. Pintu-pintunya bercorak polos dengan warna yang suci.

Di sebuah lorong lantai enam, terdapat suatu pintu yang dibuka oleh seseorang. Rambut hitam, mata elang, serta wajah rupawan terkadang membuat para perawat terpesona akan aura karismatik yang menguar. Memasang wajah biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa, tangan pucat yang menggenggam selembar kertas itu pun dimasukkan ke dalam saku mantel cokelatnya.

Derap sepatunya menggema mengisi keheningan. Ia berjalan di tengah-tengah lorong dan berbelok ke arah tangga menuju lantai bawah. Kedua iris gelapnya yang sekelam malam menatap ke depan, berakting seolah ia tetaplah sosok sempurna seperti yang dibanggakan semua orang.

Sampai di pintu keluar, ia mendongak—menghitung setiap butiran putih yang turun untuk pertama kalinya.

Keluar dari area rumah sakit, Kim Taehyung berjalan dengan arogan. Ia tidak peduli dengan tatapan para gadis yang bersinggungan dengan miliknya. Yang ia inginkan saat ini adalah pergi secepatnya dari sana, lalu merebahkan diri di apartemennya.

Taehyung berhenti di halte, menunggu entah apa atau siapa. Meski begitu, manik hitamnya tampak kosong seperti melamun. Pemuda berusia 23 tahunan—yang telah menginjakkan tahun terakhirnya dalam mengejar gelar magister itu memiliki pemikiran yang dihiasi oleh awan berkabut.

Tenang, namun terkesan gelap dan kalut.

Kepanikan itu memang tidak ada, melainkan rasa kecewa terhadap dirinya sendiri yang telah menjadi kuasa atas otak dan mentalnya.

Kertas yang sedari awal berada dalam saku semakin digenggamnya erat. Rasa sakit di dalam dada kembali memaksa masuk, membuat gigi pria itu saling bersinggungan, menandakan adanya kemarahan terhadap suatu fakta yang membuatnya muak.

Tidak lama, salju pun kembali jatuh. Di depannya. Tepat di kedua mata hitam yang membulat perlahan.

Kim Taehyung berdiri tegap, menandakan bahwa dirinya adalah pria yang kuat. Karena itulah, saat air mata keluar dan mengalir di pipi kirinya, ia sama sekali tidak terisak atau pun berteriak. Melainkan mengukir sebuah senyuman.

Kim Taehyung tersenyum lirih, merasa lega, sekaligus bahagia disaat yang bersamaan.









TWILY #PROLOG

Hei, dirimu yang bodoh sekaligus kucinta

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hei, dirimu yang bodoh sekaligus kucinta. Bagaimana kabarmu sekarang?

TO BE CONTINUED.

THE WAY I LEAVE YOU【END】Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang