Tolong, dibaca Sebentar

53.2K 11.2K 2.5K
                                    

Belakangan ini mulai banyak lagi yang nagih-nagih buat update Narasi, 2021 dan works yang lainnya. Terus pas saya speak up ke instagram, ada satu balasan yang benar-benar bikin saya jengkel:

 Terus pas saya speak up ke instagram, ada satu balasan yang benar-benar bikin saya jengkel:

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ah, kita tu nunggu capek juga kak"

Saya jadi penasaran secapek apa seorang pembaca saat sedang nunggu update work yang dia suka? Sementara penulisnya kadang baru pulang jam 2 pagi karena lembur di kantor, lalu berangkat jam 8 pagi. Hectic seharian sampai lupa jam makan siang. Weekend pun kadang rasanya nggak berasa seperti weekend, dan apa? "AH, kita tu nunggu CAPEK JUGA kak"???

Sakit hati saya HAHAHAH.

Tahu kenapa banyak work saya yang butuh waktu lamaaa banget buat update ke chapter berikutnya? Karena untuk menulis sebuah cerita itu kita butuh otak untuk berpikir tentang apa yang harus kita tulis. Sesuatu yang ketika dibaca harus punya dampak baik, bukan asal-asalan nulis tanpa value. Dan ketika kamu ada di titik buntu di tulisanmu, apa yang kamu lakukan? Nggak ada. Kalau otak bisa di refresh kayak android, mungkin udah dari lama bakalan saya refresh berulang-ulang. Supaya kalian nggak kelamaan nunggu.

Terakhir saya update Narasi itu 22 april. Sementara pernah saya berhenti menulis Tulisan Sastra selama 1 bulan lebih. 22 april sampai hari ini hanya 11 hari. Belum terlalu lama, hanya kamu saja yang memang nggak bisa memahami betapa sulitnya jadi saya.

Saya menulis di wattpad itu tidak ada yang bayar. Kalian pun membaca gratis untuk itu. Saya sadar diri untuk nggak pernah menuntut vote, komen, follow, atau apapun itu karena saya berharap kalian bisa melakukan hal yang sama ke saya: memberi pengertian dan tidak menuntut apapun. Mencoba memahami saya seperti halnya saya yang terus mencoba untuk memahami kalian.

Ada yang berkali-kali mencerca saya gara-gara masalah ini. Yang katanya, "penulis tuh harusnya seneng tulisannya banyak yang nungguin, artinya banyak yang suka." Saya seneng kok tulisan saya ada yang suka bahkan sampai ditungguin meskipun saya jarang banget update (seandainya kamu lupa, saya juga pernah rajin update bahkan double-double). Tapi ditagih-tagih ketika kita belum mampu untuk update, rasanya itu kayak kita lagi sarapan di rest area. Udah nggak napsu makan, menunya pun nggak sesuai sama selera, tapi terpaksa harus kita telan hanya gara-gara takut bisnya tiba-tiba jalan. Rasanya nggak enak. Saya tahu kalian nunggu tuh jenuh. Sama, saya ketika menunggu bacaan favorit saya juga capek, jenuh, tapi saya sadar bahwa saya tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup dia di luar hal tulis-menulis itu.

Saya sadar, tanpa pembaca, saya bahkan nggak akan seperti sekarang. Saya menghargai dan menghormati kalian, sangat. Tapi saya juga sadar, bahwa kalian nggak akan pernah bisa memenuhi kebutuhan hidup saya, biaya pendidikan anak saya nanti, biaya masa tua saya nanti. Untuk itu saya kerja, yang pastinya jauh lebih saya prioritaskan lebih dari work-work dan buku-buku saya. Kalian tahu bahwa struggle hidup ini melelahkan sekali terutama kalau kalian berasal dari keluarga dengan status ekonomi yang biasa-biasa saja.

Saya nggak lagi marah-marah. Saya hanya ingin kalian paham tentang masalah sepele ini. Bukan hanya untuk saya, tapi mungkin juga untuk penulis lain. Saya takut kehilangan kalian loh, jujur. Bahkan pernah saya malam-malam live sambil nangis karena nggak bisa tidur hanya karena saya khawatir kalian ninggalin saya. Tapi saya juga nggak punya pilihan lain. Ada hidup banyak orang yang harus saya nafkahi, harus saya perjuangkan.

Beberapa dari kalian pasti paham bagaimana rasanya dipandang skeptis oleh sebagian orang hanya karena kalian melakukan apa yang kalian suka. Nggak ada yang mendukung saya menjadi penulis. Nggak jarang ketika saya mencoba mengingat-ingat siapa saja yang ada di belakang saya selama ini, saya nggak menemukan siapapun.

Ah, ada satu. Mama saya. Tapi tahu kenapa alasan saya masih tidak berhenti sampai sekarang? Ya karena menulis adalah hal yang saya suka, saya merasa kalian sudah lebih dari cukup untuk saya punya. Tapi di titik ini, ketika ada yang bilang bahwa kita sama-sama capek, saya paham. Saya juga capek banget. Berkali-kali saya bilang ke sahabat saya, temen-temen sesama penulis, bahwa saya pengen berhenti. Saking capeknya.

Kita manusia berdosa memang, tapi saya jelas nggak sudi disebut pendosa. Karena selama saya masih bernapas, saya berusaha keras untuk terus menjadi yang terbaik versi saya. Saya berusaha keras untuk selalu menjadi orang baik seperti apa kata mama saya.

Jadi kalau menunggu saya adalah hal yang melelahkan, jangan ditunggu. Kamu bisa menulis sendiri bacaan yang memang kamu mau atau cari penulis wattpad pengangguran yang punya banyak waktu untuk menulis cerita untuk kalian. Jangan menunggu saya karena sampai kapanpun saya nggak akan pernah bisa memenuhi ekspetasi tinggi dari kalian. Sekarang saya dengan tangan terbuka mempersilahkan kalian untuk berhenti menunggu saya kalau memang mau. Karena bisa jadi, saya akan jarang main wattpad, main sosmed lain lebih lama dari ini.

Mohon maaf kalau ada salah penyampaian dalam hal ini, tapi setidaknya saya berharap kalian bisa paham dengan maksud saya.



Salam,
Ten.

Narasi, 2021 | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang