12. Hari yang tenang

119 115 18
                                    

Di rumah hanya Cedric sendirian tidak ada Nicholas, Briant, dan Loris. Dirinya hanya duduk di kursi kayu menghadap ke jendela memainkan tongkat sihirnya sambil menunggu air mendidihkan.

Menatap ke luar jendela melihat penduduk desa dan murid Charbirline melakukan aktivitasnya masing masing. Terlihat tidak ada beban pikiran padahal di dalam kepalanya banyak pikiran yang selalu muncul.

Mata yang tertuju ke satu bunga yang layu di depan jendela. Tangan yang mengayunkan tongkat sihir ke arahnya dan mulut berucap.

"Aquair"

Cedric memunculkan air di ujung tongkatnya untuk menyiram tanaman yang layu. Semakin terlihat dari atas banyaknya penduduk desa berjalan saat Cedric mengeluarkan kepalanya dari jendela.

"berada di sini bisa membuatku tenang. Andai ada Ibu dan Ayah, mereka akan bisa merasakan apa yang ku rasa sekarang" ucap Cedric yang telah menyiram tanaman yang layu di depannya dan sekarang terlihat segar.

Suara bunyi air mendidih dari lantai bawah terdengar di kuping Cedric. Kaki langsung melangkah turun melewati tangga menuju dapur dan mematikan api. Tangan yang mengambil satu cangkir dan sebuah teh lalu menuangkan air yang mendidih dan mengaduknya.

Setelah membuat teh Cedric naik ke lantai atas dan duduk di teras. Sambil menikmati teh di sore hari. Melihat para murid bermain mantra memunculkan garis gambar unicorn dari tongkatnya dan terlintas Georgia di pikiran Cedric membuat dirinya tersenyum atau melihat seorang ibu yang sedang membeli bahan makanan di pasar.

Ada Loris di sana bersama Nicholas di tempat hewan. Nicholas sedang melihat burung merpati sedangkan Loris di tangannya ada satu hewan kadal. Kemungkinan mereka akan membelinya atau tidak sama sekali.

Seseorang membuka pintu untuk masuk ke dalam rumah, dia adalah Briant. Dirinya berpikir bahwa di rumah tidak ada orang padahal sudah ada Cedric yang sedang duduk santai di teras atas sambil menikmati satu cangkir teh panas.

Briant melangkah menaiki tangga setelah dirinya menaruh bahan makanan di dapur. Setelah tiba di lantai atas Briant melihat Cedric yang duduk santai di teras. Namun dirinya lebih ke tempat tidur untuk mengganti pakaian lalu melangkah mendekati Cedric.

Cedric terkejut saat di hadapannya ada Briant yang sedang berdiri melihat ke arah depan. Lalu Cedric menaruh cangkir teh di sampingnya.

"di situ ada kursi duduklah" perintah Cedric. Lalu Briant menurutinya.

"mau teh? Aku bisa buatin untuk kamu" tawar Cedric. Briant menolaknya "tidak perlu".

"ngomong ngomong kemarin gimana saat kamu piknik berdua dengan Crala?" tanya Cedric.

"dia menggambar unicorn bernama Georgia" jawab Briant.

"oh ya malam ini jangan lupa" sambung Briant dan beranjak dari kursi lalu turun ke lantai bawah.

Loris dan Nicholas baru saja pulang dari toko hewan yang mereka kunjungi. Terlihat Briant menuruni tangga dan menuju ke arah dapur. Nicholas melihat Briant menuju dapur mengikutinya.

"Briant, ngapain?" tanya Nicholas. Loris datang sambil membawa kadal kecil yang ia beli di toko hewan tadi.

"aku melihat Cedric meminum teh di teras atas, jadi aku pengen juga" jawab Briant sambil mengambil cangkir teh dengan sebuah sihir. Artinya cangkir teh itu melayang mendekati Briant dan tertata sendiri di meja.

"akan ku buatkan untuk kalian berdua juga" sambungnya. Nicholas langsung duduk di ruang makan. Sedangkan Loris dirinya bermain kadal di dekat Briant.

"kapan makan malam di rumah ibu mu? Aku tidak sabar karena aku sudah lapar" tanya Loris sambil mengelus kepala kadal.

"kamu lapar? Situ ada bahan makanan kenapa ga masak aja dulu" jawab Briant dan membawa tiga cangkir teh ke ruang meja makan di ikuti oleh Loris di belakangnya.

"nih coklat dan kukis" tawar Briant sambil memegang toples.

Loris langsung duduk dan membiarkan kadalnya di atas meja. Dirinya membuka toples dan memakan isinya. Nicholas hanya menikmati secangkir teh yang dibuat oleh Briant.

Cedric mendengar suara tertawa dari lantai bawah. Dirinya beranjak dari kursi dan masuk ke dalam lalu menutup pintu. Kakinya melangkah ke arah tangga dengan satu cangkir teh di tangannya. Terlihat tiga sahabatnya tertawa entah apa yang mereka tawakan.

"ini hewan peliharaan baru mu, Loris?" tanya Cedric dan menyimpan cangkir teh di atas meja lalu memegang kadal milik Loris. Loris mengangguk sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya.

Cedric duduk di samping Loris sambil bermain dengan kadal dan di depannya adalah Nicholas. Nicholas melihat sekeliling dinding ada yang membuatnya bertanya tanya tentang satu lukisan.

"sejak kapan ada lukisan unicorn di sana?" tanya Nicholas. Dengan cepat Briant menjawab "itu Georgia di lukis oleh Crala. Katanya biar kita bisa melihat wujud asli Georgia. Tadi saat kalian pergi aku memajangnya di sana".

Crala, Silvia, dan Leuni datang ke rumah mereka berempat. Karena Briant yang menyuruh mereka datang ke sini. Dan saat malam tiba mereka akan pergi bersamaan menggunakan sapu terbang.

"hai Cedric, apa kadal itu hewan peliharaan baru mu?" tanya Leuni. Cedric ingin menjawab tetapi kalah cepat di banding Loris yang merasa tersinggung.

"itu peliharaan ku bukan peliharaan Cedric!" sahut Loris dengan suara yang sedikit kencang. Leuni tertawa kecil begitu juga dengan yang lainnya karena sahutan Loris yang menjawab pertanyaan Leuni.

"ngomong ngomong kalian bertiga mau teh? Kalo mau biar aku buatin" tawar Cedric. Silvia dan Leuni menjawab iya sedangkan Crala dengan respons khasnya hanya mengangguk.

Crala beranjak dari tempatnya menuju ke dapur. Berniat ingin membantu Cedric yang sedang membuatkan teh untuknya juga Silvia dan Leuni.

"kamu bikinnya tidak memerlukan sihir?" tanya Crala sambil melihat Cedric mengambil cangkir teh tanpa sihir. Tidak seperti Briant.

"tidak" jawab Cedric lalu mengambil teh dan meletakkan teh dan cangkir di meja.

"sini biar aku tuang air panasnya" ucap Crala dan mengambil alih.

"tidak semuanya harus menggunakan sihir. Kadang lebih enak gini tanpa sihir. Tapi sihir juga menyenangkan" ucap Cedric sambil memperhatikan Crala menuangkan air panas ke cangkir teh.

"iya kamu benar. Di sini memang banyak sihir tetapi di sana di tempat tinggal kita dulu tanpa melakukan sihir jauh lebih menyenangkan. Bukan berarti di sini tidak menyenangkan" sahut Crala dan mengaduk teh lalu memberikan dua cangkir teh kepada Cedric.

"untuk Silvia dan Leuni"

Cedric langsung membawakan dua cangkir teh kepada Silvia dan Leuni. Semua orang di ruang makan terlihat bahagia. Cedric meletakkan satu cangkir di meja Silvia dan satunya lagi di meja Leuni.

Lalu saat Cedric duduk Crala keluar dari pintu dapur membawa banyak cangkir teh.

"aku membuatkan teh untuk semuanya. Kalo hanya aku, Silvia, dan Leuni yang minum teh sedangkan kalian tidak itu tidak adil namanya, ah lebih tepatnya biar kita bersama saja. Walau kalian akan minum teh dua cangkir teh" ucap Crala dan membagikan teh kepada semua orang yang ada di ruang makan.

Semuanya terlihat seperti biasa. Saat mereka semua berkumpul mereka akan tertawa dan merasa bahagia.

♡⃛◟( ˊ̱˂˃ˋ̱ )◞⸜₍ ˍ́˱˲ˍ̀ ₎⸝◟( ˊ̱˂˃ˋ̱ )◞♡⃛

Follow IG:
@anrzqmdya_
@essay.story_

♡⃛◟( ˊ̱˂˃ˋ̱ )◞⸜₍ ˍ́˱˲ˍ̀ ₎⸝◟( ˊ̱˂˃ˋ̱ )◞♡⃛

28 April 2021

Cedric & Crala of School Charbirline [Hiatus]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang