15. di Bawah Cerahnya Langit Kota

82 22 48
                                              

Siang ini nabastala benar benar cerah. Membiru bersama mentari dan beberapa mega. Lumayan panas, tapi entah mengapa suasananya terasa menyenangkan.

Sky berniat untuk pergi ke rumah keluarga Kanemoto. Ia telah memesan taksi untuk mengantarnya pergi. Ia sudah bersetelan rapi dan melenggang keluar kost-nya.

Baru saja ia sampai di ambang pintu utama gedung tempatnya menumpang tinggal. Alisnya bertautan, kala taksi pesanannya telah melaju tanpa dirinya. 

Sky berlari keluar mengejar taksinya. Dan daksanya kecilnya terlonjak kaget, matanya terbelalak. Hingga ia sempat mundur dua langkah kebelakang.

Yang Sky temukan bukan taksinya yang berhenti melaju, melainkan sosok Asahi yang menunggunya di depan gedung.

"Jangan bilang Kau yang menyuruh supir taksi itu pergi." Ucap Sky dengan nada dinginnya seraya membalikkan badan untuk masuk kedalam kembali. "Kau memang tak pernah tau sulitnya mencari uang, Pak CEO."

"Tenang, Saya tak melakukan kekerasan. Saya memberinya uang tiga kali lipat dari yang seharusnya Kau bayar." Asahi perlahan melangkah mendekati Sky.

"Mau apa Kau kemari lagi? Saya sudah bilang tak akan pulang, bukan?" 

Sky melirik Asahi sekilas. Ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaket yang dikenakannya. Gadis ini tetap menjaga ruang jarak pembatas keduanya. Sejujurnya, ia juga takut tangannya kembali dicengkeram, karena itu sangat menyakitkan.

"Saya ingin berbicara baik baik denganmu, tolong dengarkan Saya dulu." 

"Untuk apa? Saya sudah bilang tak akan pulang walau Papamu itu sampai berlutut, bukan?"

Brukk..

Asahi yang semulanya berdiri kini menjatuhkan dirinya ke bumi. Menyerahkan sepasang lutut empunya untuk menumpu badannya. Di tengah halaman gedung yang luas nan panas, tak berpayungkan sehelai dahan pohon pun.

"Kalau begitu biarkan saja Saya yang berlutut." Ucap Asahi lantang dengan menatap Sky.

Namun, Sky tak menoleh kebelakang sedikitpun. Dengan seluruh rasa muak dan tak peduli, ia melangkah pergi meninggalkan Asahi seorang diri di bawah sinar matahari terik siang ini. 

Asahi mengusak wajahnya kasar, kala punggung dan daksa Sky telah hilang ditelan dinding. Dengan sengaja ia datang sendiri tanpa anak buahnya kali ini. Tekatnya benar benar bulat untuk berbicara baik baik dengan adiknya. 

Beruntungnya pemuda asing ini adalah tipikal manusia yang pantang menyerah walau sekilas tak ada celah. Dan ia tak bercanda dengan tekatnya. Sky memang masuk, tetapi ia tetap bertahan diposisinya tanpa mengasihani lututnya. Ia yakin, Sky pasti kembali. Atau mungkin ia tak tau sekeras kepala apa adiknya kini.

Hingga sudah tiga puluh menit berlalu sejak Sky masuk. Keringat Asahi sudah bercucuran hebat, lututnya sudah terasa sakitnya. Tak disangka mentari siang ini begitu menyengat kulit putih langsatnya.

Pandangan Asahi mulai kabur, mungkin akibat kemasukan banyak keringat. Wajahnya tampak memucat, daksanya pun terasa lemas. Ia menurunkan pandangannya menatap bumi yang tampak bergetar menurutnya.

Indra pendengarannya menangkap suara derapan mendekat. Tampak jelas antusiasnya mendongakkan kepala berharap Sky yang datang kepadanya. Tetapi yang netranya tangkap hanyalah orang asing yang melaluinya.

Asahi menyisisr kasar rambutnya yang basah kebelakang. Ia juga membuang nafasnya berat. Ingin sekali beranjak meninggalkan hal bodoh yang sedang dilakukannya, tapi keinginannya tak mampu mengalahkan tekatnya yang bulat.

Tiba tiba ada payung berwarna biru gelap yang terbuka menghampirinya, menghadangi ganasnya sinar matahari panas yang menyiksa daksanya. Payung ditinggalkan oleh seseorang di atas pundaknya, tanpa adanya basa basi ataupun suara derap yang bisa didengar indranya.

"Pakailah, matahari bisa membakar kulitmu."

Ucap sosok pemberi payung dengan nada rendah. Walau masih sedikit terasa ketusnya. Sosok itu tak lain adalah Nona Jerman yang kini sudah berbalik lagi meninggalkan abangnya. Walau rasa benci memboikot segalanya namun rasa sayangnya tak pernah pudar.

"Maafkan Saya selama ini tidak menjadi Abang yang baik. Maaf Saya tak pernah mencoba memahami apa yang sebenarnya Kau rasakan. Maaf juga Saya mencarimu dengan cara yang salah. Kau boleh tetap membenciku, tapi Saya mohon Sky, pulang lah."

Asahi mengucapkannya dengan lantang tanpa bergetar sedikit pun, terdengar jelas rasa menyesalnya tertuang dalam kalimat yang diucapnya. Ia juga berharap banyak dengan kalimatnya ini.

Getaran penyesalan Asahi mampu menghentikan langkah kaki Sky yang terangkat pergi. Tapi si Nona Jerman sama sekali tak membalikkan badannya. Ia sempat mengembuskan nafasnya berat sebelum memulai kata untuk menjawab.

"Saya maafkan, tetapi tetap Saya tak akan pulang. Saya lelah, tolong sudahi saja semua ini, biarkan Saya hidup bahagia tanpa Kau dan Papa." Hanya itu, dan Sky melanjutkan langkahnya lagi.

"Sky, sekarang ini Papa sedang sakit, dokter bilang kondisi Papa sudah parah. Saya takut Papa akan pergi meninggalkan kita seperti Mama."

Sky tampak tak peduli dengan penuturan Asahi. Langkahnya pergi terus tak berhenti. Hingga Asahi berkata lagi.

"Cukup Mama saja yang pergi tanpa Kau temani saat saat terakhirnya, Saya benar benar memohon padamu Sky pulang lah."

Asahi memohon mohon dengan suara yang terdengar penuh getaran. Kemudian terdengar jelas isakan dari seorang pemuda ini. Kini tak hanya keringat yang bercucuran, tapi air matanya juga.

Sky menghentikan langkanya lagi. Tapi kali ini ia membalikkan daksanya. Hanya berdiri menghadap Asahi yang menangis sendiri. Ternyata kakak laki lakinya yang kasar ini juga rapuh sama dengannya.

'Mungkin jika Kau berusaha berdamai dengan keadaan semuanya akan lebih baik. Cobalah berdamai dengan Ayahmu.'

Suara berat Yoshi itu tiba tiba menggema di telinga si Nona Jerman. Seberkas ingatan saat di dalam kabin kincir ria mampu menyentuh hati kecilnya. Sky kini mengambil langkah cepat mendekati Asahi.

"Papa sudah tak bersama wanita itu lagi, Papa sudah menceraikannya. Wanita jalang itu telah berselingkuh dengan sekretaris Papa. Dan kini hanya tersisa Saya sendiri yang mengurusnya dan mencari Kau." Asahi dengan maniknya yang memerah penuh air mata menatap lekat Sky yang mendekat. "Tolong pulanglah Sky, temani Papa melawan penyakitnya."

Sky yang kini telah berdiri tepat dihadapan Asahi, ia menghapus buliran air mata di pipi tirus kakaknya serta menariknya untuk berdiri. Lalu, ia dan daksa kecilnya tenggelam dalam dekapan pemuda yang bernama Hamada Asahi Von Richtofen.

TBC

Terimakasih sudah mau baca♡
Jangan lupa votmentnyaa _/\_

Terimakasih sudah mau baca♡Jangan lupa votmentnyaa _/\_

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mr. Soldier ✓ Kanemoto YoshinoriTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang