35 | Perang Dingin

453 111 53
                                    

Happy Reading


Moga suka ya^^

_________________________________________

Di malam yang semakin larut, Jaerin memasuki ruangan Doyoung dengan perasaan takut. Suasana disana begitu mencekam. Kedatangannya di sambut oleh tatapan sendu dari kedua orang tuanya.

Air matanya udah kembali mengalir di pipi sejak Taeyong memberitahu soal Doyoung yang sadar. Bukannya Jaerin gak senang, tapi justru Jaerin malah merasa takut. Takut akan kehilangan, sebab itu terasa begitu semakin nyata dalam benaknya.

Dengan langkah gemetar, Jaerin mendekat ke bangsal Doyoung. Terisak pelan, melihat kondisinya yang sekarang. Siapa yang tega ngeliat seseorang yang kita sayang dalam keadaan kaya gini? Sekujur tubuh Doyoung nyaris di penuhi banyak luka. Rambutnya tersibak kebelakang, menampilkan jahitan yang masih basah di kepalanya. Tubuhnya di penuhi kabel. Sementara mesin elektrokardiograf di sampingnya, menampilkan tekanan darahnya yang terus menurun. Miris sekali.

Rasanya baru kemarin Doyoung masih becanda dengannya, menggodanya, tapi kenapa sekarang cowok itu terlihat begitu tak berdaya?

"abang.....?"

Perlahan, walau rasanya memberat, sepasang kelopak mata Doyoung terbuka. Matanya menatap sayu Jaerin di sampingnya, menyiratkan pendar teduh yang begitu menyakitkan.

"ini aku... Abang bisa denger aku kan?" Jaerin memegang tangan Doyoung, menggenggamnya begitu erat bersamaan dengan rasa sesak yang begitu terasa.

Irene sudah menangis sesenggukan. Memeluk suaminya yang sama-sama bergetar. Tak sanggup melihat. Rasanya begitu menyakitkan ketika melihat putranya yang seperti ini, di tambah dengan Jaerin yang terus berusaha buat menguatkan kakaknya.

Sedangkan Jaehyun dan Taeyong sendiri, hanya bisa melempar tatapan nanar. Dalam keadaan seperti ini, mereka semua gak tahu harus berbuat apa. Ini benar-benar menyakitkan untuk mereka semua.

"abang udah janji kan......? Sabtu nanti mau jemput aku. Tapi kenapa sekarang abang malah kaya gini?" Jaerin kembali melirih. Dia semakin menguatkan genggamannya. Sumpah demi apapun, Jaerin benar-benar takut sekali.

Doyoung hanya bisa menatap adiknya itu, seiring dengan tatapanya yang semakin terasa memberatkan. Doyoung ingin mengatakan banyak hal, tapi rasanya bibirnya begitu kelu, di tambah dengan selang ventilator yang terpasang di mulutnya membuat Doyoung begitu sulit untuk mengeluarkan satu kata pun.

Jaerin makin terisak. Tangisannya menggema di setiap penjuru ruangan. Irene datang mendekat, mengusap lembut bahunya.

"adek......"

"jangan gini, bang..... Abang harus sehat lagi, ya....?"

Suara isakan benar-benar memenuhi ruangan. Bahkan Taeyong juga Jaehyun pun ikut menangis di buatnya.

"aku janji... Nanti bakal sering pulang, bakal sering ngabarin....."

"abang harus sembuh ya.... Biar kita bisa sama-sama lagi"

Air mata Jaerin gak berenti mengalir, bahkan sampai menetes mengenai tangan Doyoung yang dia genggam.

Demi Tuhan....
Doyoung ingin memeluknya sekarang juga. Tapi jangankan untuk memeluk, untuk berbicara saja rasanya begitu sulit. Sekujur tubuhnya sakit luar biasa, nyaris gak tertahan. Maka yang bisa Doyoung lakukan hanya menangisi keadaannya.

Kosan Bu Suzy | EnhypenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang