33 | Believing In Me

492 108 33
                                    

Happy Reading^^

_______________________________________

Motor Sunghoon membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi malam itu. Jaerin di belakangnya memeluk dengan erat, sembari sesekali masih terisak. Terkadang, Sunghoon sering menolehkan pandangannya, sekedar buat memastikan cewek itu baik-baik saja.

Di perjalanan, mereka saling terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Bahkan Sunghoon masih bertanya-bertanya, kenapa bisa dia berbuat seperti ini? Apa sebenarnya yang lagi dia pikirkan? Hhh ayolah Park Sunghoon.

Hampir memakan waktu sejam, kini motor Sunghoon telah terparkir di sebuah rumah sakit besar di kota. Beruntung, jalanan gak macet. Dan Jaerin langsung saja turun, melepas helm, seraya kemudian langsung berlari masuk kedalam. Sunghoon mengikuti di belakangnya.

Di depan ruang IGD, keluarga Jaerin tengah berkumpul disana. Ada Irene, Suho, dan kerabat-kerabat lainnya. Jaerin langsung aja memeluk Irene, berhambur dalam pelukan ibunya.

"abang gimana, ma...?"

"abang lagi di tangani dokter, sayang" hanya itu yang mampu Irene ucapkan pada putrinya. Karena emang nyatanya Irene juga tidak tahu bagaimana keadaan putranya di dalam sana.

Suho datang mendekat, seraya kemudian ikut memeluk Jaerin. Beliau tidak menangis, namun raut mukanya menunjukkan kepedihan.

"abang gak papa" ucap Suho pelan sembari mengusak surai putrinya. Seolah dengan begitu beliau bisa menenangkan sejenak perasaan Jaerin yang kalut. Suho tahu, kabar itu pasti begitu mengejutkan untuk Jaerin sendiri.

Sunghoon menatapnya dari kejauhan. Ragu-ragu buat mendekat, mengingat jika dirinya ini bukan siapa-siapa. Lantas, baru saja Sunghoon memutuskan untuk berbalik pergi, langkahnya tertahan saat seseorang menepuk bahunya.

Sunghoon menoleh, menatap bingung orang itu yang tengah tersenyum padanya. Taeyong.

"pacarnya Jaerin, ya?" ucap Taeyong. Sunghoon awalnya mengerut, tapi setelahnya ia tersenyum.

"bukan, bang. Temen" jelas Sunghoon.

Entah apa maksudnya, tapi setelah mengucapkan itu, Taeyong justru terkekeh dan langsung saja membawa Sunghoon untuk duduk di kursi tunggu yang gak jauh dari sana.

"gue Taeyong. Temen abangnya Jaerin."

Sunghoon cuma ngangguk singkat, agak susah buat berinteraksi sama orang baru. Selain hanya bisa menebar senyum kecil doang.

"sebelumnya thank's ya. Udah anterin Jaerin kesini"

"ah mmm iya... Tadi soalnya Jaerin nangis" jelas Sunghoon sedikit gugup. Dia emang kurang bisa bersosialisasi.

"ya pastilah. Adik mana yang gak sedih dapet kabar kaya gitu, apalagi ini kakaknya sendiri"

Lagi. Sunghoon cuma nampilin senyum kecilnya.

"lagi pdkt berarti?"

"hmmm?" Sunghoon mengernyitkan dahinya, namun sedetik setelahnya dia menggelang pelan, "ohh engga, emang temen biasa"

"menurut gue gak mungkin sih, cowok seganteng lo di anggap temen doang sama Jaerin. Apalagi Jaerin juga gak tanggung-tanggung ngajak lo kesini. Biasanya yang suka dia ajak kemana-mana itu Sungchan, kalau bukan dia, ya berarti pacarnya" ucap Taeyong seraya terkekik pelan.

"becanda. Jangan masukin ke hati" lanjutnya sembari menepuk pelan bahu Sunghoon.

Tapi sedetik kemudian, Taeyong mendesah kasar. Menatap sendu pada pintu yang masih tertutup rapat, belum ada tanda-tanda orang di dalamnya akan keluar. Dan Jaerin yang masih terisak dalam pelukan Suho.

Kosan Bu Suzy | EnhypenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang