Part 11 - Boss Devil

12 5 0
                                    

"Nisaaa!" teriak sang boss kepada Nisa yang tengah duduk menyantap kopinya di ruang kerja milik Dimas, membuat Nisa tersedak.

"Bapak mau bikin saya kena kasus siraman air panas!" bentak Nisa. Tak sadar jika ia sudah berani mengatakan semua itu pada boss-nya sendiri, siap-siap saja turun gaji.

"Sini!" Dimas memandang Nisa dengan tatapan tajamnya.

"Maaf, nggak sengaja. Lagian itu kopinya masih panas, Pak," terangnya.

"Kamu ngapain sama kertas-kertas ini?" tanya Dimas menginterogasi.

"Ngapain?" Kening Nisa berkerut. "Saya nggak ngapa-ngapain Pak, saya masih normal kali, Pak."

"Sudah saya bilang kemarin, kalau belum vit nggak usah masuk kerja dulu!" bentaknya penuh murka.

"Ya, tapi saya salah apa, Pak?"

"LIAT!" Dimas menyodorkan map berisi kertas putih. Bertuliskan bahwa sekretaris Dimas Argio Mahesa telah menyetujui kerjasama proyek di Malang, beserta tanda tangan milik Nisa dengan kontrak selama dua bulan.

"Apaaa," kaget Nisa, ia sendiri tak sadar jika sudah keliru dalam menandatangani dokumen.

"Kamu ini punya mata? Atau mau saya belikan kacamata minus?"

"Tapi saya nggak lakuin ini, Pak."

"Terus ini tanda tangan siapa kalau bukan milik kamu?"

"Iya, Pak. Kemarin saya memang menandatangani dokumen ini, tapi saya nggak tahu kalau isinya kerjasama kontrak selama dua bulan, Pak," ucapnya sembari menunduk, tak berani menatap Dimas.

"MAKANYA BACA DULU SEBELUM TANDA TANGAN!" teriaknya kasar. "Kamu ini!" Ia geram, mencengkram tangannya sendiri. "Bisnis kita aja belum beres semua, malah kamu setuju kontrak sama perusahaan lain dua bulan. Terus perusahaan kita gimana sekarang? Kamu yang tanggung jawab!" tuntut Dimas.

"Iya Pak, maaf. Ini kesalahan tehnis Pak," ujarnya.

"Maaf maaf! Kita bisa rugi kalau begini NISA!" Dimas menekan ucapannya pada nama Nisa.

"Iya maaf, Pak." Nisa kembali menunduk dengan rasa bersalahnya.

"Ahhh!" Dimas mendengus, diam dan rasa amarah pun kini menguasainya. Ia menjambak rambutnya frustasi karena kesalahan yang sudah diperbuat oleh sekretaris barunya itu.

"Kamu pulang sekarang, kita packing terus berangkat ke Malang!" titahnya.

"Lho nggak bisa gitu dong, Pak. Saya nikah bentar lagi, saya nggak bisa ikut sama Bapak," sergah Nisa menolak permintaan boss-nya.

"Bukan urusan saya, kamu harus tanggung jawab!" Dimas meninggalkan Nisa dengan acuhnya tanpa sudi memandangnya lagi.

"Paaak," panggil Nisa sembari berlari kecil mengejar Dimas.

"Pak, Bapak tau pernikahan 'kan, Pak? Mana bisa ditinggal Pak," sambungnya.

"Saya nggak peduli mau kamu nikah mau nggak."

"Tap,"

"Kalau nggak mau kena malu di perusahaan ini, nurut sama saya!" tangkas Dimas memotong ucapan Nisa.

The Past [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang