Part 6 - Closer

Mulai dari awal

"Saya mau ketemu sama Adrian. Adriannya ada?"

Merasa tidak familiar dengan wajah Cloudy, asisten itu bertanya lagi. "Maaf kalo boleh tau, Kakak ini siapa ya?"

"Oh iya, Saya Cloudy teman sekelas Adrian di sekolah. Saya cuma ingin tau gimana keadaan Adrian, soalnya sudah seminggu dia tidak masuk."

"Tunggu sebentar ya, Kak."

Setelah beberapa lama, asisten rumah tangga itu menemui Cloudy lagi. "Mas Adrian ada dikamarnya, mari saya antar."

"Terima kasih." Cloudy menyunggingkan senyum terbaiknya.

"Ngomong-ngomong orangtua Adrian ada? Soalnya agak nggak sopan kalo nggak ketemu pemiliknya." Tanya Cloudy ketika sedang berjalan memasuki rumah Adrian.

"Tuan lagi di luar negeri, mengurus bisnisnya disana."

Cloudy hanya menganggukan kepalanya.

Setelah menunjukkan letak kamar Adrian yang berada di lantai 2, asisten rumah tangga itu pun pergi. Kemudian Cloudy mengetuk pintu kamar Adrian, dan setelah beberapa kali ketukan, pintu itu pun terbuka.

"Cloudy?"

-----

"Mind telling me the truth?" pinta Cloudy dengan hati-hati. Saat ini, dirinya dan Adrian sedang duduk di sofa kamar Adrian.

Adrian menghela nafas berat. "You mean... every single thing?" dan Cloudy hanya mengangguk.

"Gue nggak tau harus mulai darimana." Lanjutnya.

"Kenapa gue nggak bisa hubungin handphone lo?"

Adrian pun mulai menjelaskan "Semenjak gue 'ketangkep' waktu itu, gue dikurung dirumah, engga boleh kemana-mana termasuk sekolah, dan handphone gue juga diambil sama bokap, makanya lo engga bisa hubungin gue."

"Itu semua gara-gara lo kabur dari rumah?"

Adrian mengangguk setuju.

"And the reason is..." Cloudy mau agar Adrian menceritakan semuanya padanya.

Adrian menatapnya ragu.

"Gue pendengar yang baik dan gue janji engga bakal ngasih tau ke siapa pun, termasuk Aubrey."

"Janji?" Cloudy tersenyum simpul. Adrian pun mulai mempercayai dirinya.

"Ini semua dimulai pas gue kelas 1 SMP. Orangtua gue bertengkar hebat, alesannya gara-gara kegilaan bokap gue yang masih suka main perempuan, sampe pada akhirnya orangtua gue bercerai dan nyokap gue pergi, sekarang engga tau nyokap gue ada dimana." Mata Adrian berubah menjadi sayu seketika.

Cloudy mengusap-usap bahu Adrian, mencoba menenangkannya.

"Kaya yang lo tau, gue udah 5 kali pindah sekolah. I was a troublemaker back then. Gue nyoba buat nyari perhatian bokap supaya dia berhenti dari kegilaannya itu, tapi cara gue yang salah." Lanjutnya.

"Dan karena itu pula Kak Senna nggak mau lagi tinggal disini. Karena hampir tiap hari perempuan simpenannya bokap selalu dateng, entah maunya apa. Dan karena itu juga Kak Senna sering gonta ganti cowo, katanya ini bentuk bales dendam dia buat bokap." Adrian hanya bisa menghela nafas berat.

Cloudy mendekat, meragkul Adrian seraya mengusapnya secara perlahan. "Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, Dri. Walaupun orangtua lo bermasalah tapi gue yakin masih banyak orang yang sayang sama lo. Dan Tuhan pasti nunjukin jalan yang terbaik buat lo dan keluarga lo."

Adrian tersenyum simpul mendengarnya. Cloudy membalasnya dengan senyum terbaiknya.

"Eh by the way, kenapa lo engga ikutan jadi playboy aja?" tanya Cloudy yang membuat Adrian heran. "Oh iya, lo kan maho." Gumamnya pelan.

"Heh! Gue denger." Adrian mencubit pipi Cloudy. Kemudian mereka pun jadi saling mencubit dan mengelitik satu sama lain, tawa dan gurauan terdengar dari dalam kamar Adrian.

"Dasar maho! Hahaha."

"Gue engga maho, gue masih normal!!"

"Alah, buktinya tiap cewe-cewe heboh liatin lo. Lo malah biasa aja, berarti lo emang nggak suka cewe, kan? Hahahaha."

Sejak sore itu hubungan keduanya pun semakin akrab dan semenjak itu pula perasaan Cloudy berubah pada Adrian, tanpa disadari oleh dirinya sendiri.

-----

"Eh, Dri. Berarti mulai senin lo udah bisa masuk sekolah lagi dong?" tanya Cloudy ketika mereka sudah kelelahan akibat kebanyakan bercanda.

Adrian menggeleng lemah. "Gue disuruh home schooling."

Only One [Completed]Baca cerita ini secara GRATIS!