*Psst* Notice anything different? 👀 Find out more about Wattpad's new look!

Learn More

Part 6 - Closer

1.1K 34 0

Satu pekan telah berlalu semenjak insiden itu. Kejadian itu masih menyisakan tanda tanya besar, tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semenjak kejadian itu pula tak terdengar kabar apapun dari Adrian. Ia tidak terlihat lagi di sekolah, bahkan tidak ada yang bisa menghubunginya dan tidak ada yang tahu dimana keberadaannya.

Rasa kekhawatiran pun muncul dibenak Cloudy, ia menyesal, sangat amat menyesal. Hari dimana kejadian itu terjadi, hanya dialah yang ada disana bersama Adrian, dan dia pula yang terakhir terlihat bersama Adrian. Cloudy merutuki dirinya sendiri, tak henti-hentinya ia menyalahkan diri sendiri, tetapi sekeras apapun ia berusaha namun tetap nihil, tak ada hasil apapun.

Senna yang merupakan kakak kandung Adrian juga menghilang tanpa jejak. Saat ini, ia hanya bisa berdoa setiap malamnya, berharap agar dimana pun Adrian berada semoga masih dalam keadaan baik-baik saja.

Setiap harinya Cloudy berharap ketika membuka pintu apartemennya maupun ketika ia datang ke sekolah ada sosok Adrian disana, namun sayangnya harapan itu tidak pernah terwujud. Seperti misalnya hari ini, ia berdoa agar ketika membuka pintu kelasnya nanti ada seorang teman lelakinya -yang duduk tepat dua baris didepan mejanya- menyambutnya dengan poker face-nya seperti biasa.

Lucu jika dipikir bahwa Cloudy sangat merindukan wajah itu. Membayangkan wajahnya yang serius ketika kewalahan membawa hadiah dari para fans-nya di sekolah atau wajah kesalnya saat dikelilingi para siswi di sekolahnya.

Namun, lagi-lagi kursi itu hanya dipenuhi oleh hadiah-hadiah, tidak dengan pemiliknya. Cloudy hanya bisa menghela nafas, memandangi kursi yang pemiliknya tak pernah terlihat lagi.

-----

"Segitu kangennya ya sama Adrian sampe nggak mau makan siang?" Terdengar suara Aubrey ketika Cloudy sedang terdiam di balkon sekolahnya.

Cloudy hanya menghela nafas berat. "Ini semua salah gue, Brey. Coba waktu itu gue ngeluarin 'jurus kuda lumping kesiram air panas' pasti Adrian nggak bakal diculik."

Aubrey hanya mendengus geli, ia kenal sahabatnya ini kalau ingin membela diri pasti mengeluarkan jurus ciptaannya yang sangat unik itu, tapi itu selalu berhasil membuat orang-orang yang menjahatinya pergi.

Aubrey membayangkan kalau Cloudy melakukan itu di depan Adrian "Duh, mending nggak usah deh. Daripada image lo makin jelek. Kelakuan lo selama ini aja udah absurd banget."

Cloudy hanya mendelik.

"Tapi lo yakin Adrian diculik? Bisa jadi dia dikerjain kayak acara yang di TV itu." Cloudy hanya melemparkan tatapan tak percaya pada sahabatnya itu.

Ini siapa sih sebenernya yang otaknya absurd?

"Ya kali dikerjain sampe seminggu gini. Udah gitu, Kak Senna juga engga tau ada dimana."

Cloudy menghela nafas berat, lantas menatap nanar lapangan basket yang ada dibawahnya.

-----

Sepulang sekolah, Cloudy dan Aubrey pergi ke sebuah mall ternama Ibukota. Aubrey yang berinisiatif untuk mengajak Cloudy ke tempat ini, katanya ia ingin agar Cloudy tidak terlihat murung lagi dan supaya Aubrey bisa update di path-nya, sungguh gagasan yang luar biasa.

Kegiatan mereka diawali dengan makan disebuah restoran yang tidak menguras kantong anak sekolah, kemudian ke salon hanya sekedar untuk creambath, dan melakukan window-shopping alias liat-liat toko hanya dari luarnya saja, sambil meminum bubble tea. Cukup standar bagi jalan-jalan versi anak SMA.

"Brey, pegel nih kaki gue mending nyemil-nyemil cantik dulu di 'toko donat' itu." Keluh Cloudy, mengingat mereka hanya jalan-jalan tanpa tujuan yang pasti.

Only One [Completed]Read this story for FREE!