36 : Koarktasio Aorta

624 69 36
                                    

*Mohon koreksi dan kasih tau ya kalau ada typo dan salah penulisan*

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*Mohon koreksi dan kasih tau ya kalau ada typo dan salah penulisan*

Tinggalin jejak kalian ya, komen dan vote pliiisss biar aku semangat nulisnya... Yang vote sama komen baik banget deh, suer....

❤️
❤️
❤️

Harry memperhatikan beberapa lembar kertas yang berada di genggaman kedua tangannya. Pikirannya kacau, matanya memerah, pikirannya hanya terfokus pada satu orang. Putrinya, Arabbel. Ia meremas kertas itu perlahan lalu melempar kertas itu di atas meja kerjanya. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sesekali memijat pelipisnya. Hatinya merasa sesak, perkataan dokter saat ia mengambil hasil pemeriksaan Arabbel tadi selalu terngiang di kepalanya.

"Koarktasio aorta. Kelainan jantung ini banyak di temukan pada bayi, begitu juga Arabbel. Apa sewaktu bayi Arabbel sering kesulitan bernapas atau menyusu?"

Harry menggelengkan kepalanya, "hampir tidak pernah. Mungkin hanya sekitar tiga kali dia sering bangun tengah malam, menangis karena kesulitan bernapas. Kita sudah membawanya ke rumah sakit tapi dokter bilang itu normal."

"Pak, ini bukan penyakit yang ringan. Arabbel sudah menderita ini sejak bayi, tapi entah kenapa dia baru merasakan gejalanya sekarang. Sudah seharusnya ini diobati sejak lama. Bahkan penyakit ini sudah memicu gagal jantung sejak Arabbel berumur delapan tahun."

🥀🥀🥀🥀🥀

"Jevan!" teriak wanita yang berlari menghampiri Jevanno dan Arabbel yang hendak memasuki mobil.

Jevanno segera menoleh ke asal suara itu, begitu pun dengan Arabbel yang baru membuka pintu mobil. Ia kembali menutup pintu mobil itu, lalu mengitari bagian depan mobil untuk menghampiri Jevanno.

"Sei?" Jevanno mengerutkan dahinya melihat Seina, pacarnya menghampirinya di parkiran sebuah toko kue dengan wajah yang tidak bersahabat.

"Dia siapa?" tanya Seina menunjuk Arabbel yang berdiri di sebelah Jevanno.

"Adek gue."

Seina terkekeh miris mendengar jawaban dari Jevanno. Bukan karena Jevanno yang menggunakan kosa kata 'gue-lo'. Jevanno memang selalu memakai kata itu walaupun bersama Seina yang notabenenya adalah kekasihnya. Seina merasa emosi dengan jawaban Jevanno yang santai seakan ia tak membuat kesalahan. Atau mungkin Jevanno memang tidak pernah membuat kesalahan?

"Tadi kamu bilang nggak bisa ngantar aku ke sini karena ada urusan 'kan?"

Jevanno menaikkan sebelah alisnya, "iya. Nih gue jalan sama adek gue. Dia minta ke sini buat beli cheese cake."

Goresan ARABBELTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang