2. SALAM PERKENALAN

2.5K 334 151
                                    

Pweendd! I'm back! Hehe😋

Btw, berhubung cerita Arthur hampir tamat dan mau pindah ke sini, aku mutusin buat manggil pembaca ku dengan sebutan 'Pwend' yang berasal dari pelesetan kata Frend. Cuz u guys udah aku anggap sebagai temen hehe😋👋

Spam love favorit kamu dong!

Absen dulu sesuai asal kota kamu!

Vote, share dan komen yaw😗

Selamat membaca~~

✩✩

❝Orang yang terlihat kuat diluar bukan berarti sepenuhnya demikian. Kadang, mereka hanya berpura-pura kuat untuk menyembunyikan lemahnya❞
—Monokrom.

.
.
.

IBLIS Berparas Malaikat. Ruby tentu tahu untuk siapa julukan itu. Ya, untuk cowok jangkung bermata hitam pekat yang kini berada tepat di depannya tengah menatap Ruby tajam. Alis yang menukik dengan rahang kokoh yang mengetat membuat sekujur tubuh Ruby bergetar ketakutan. Sementara dua cowok yang juga hadir di sana hanya bersidekap menonton, tidak ada yang berinisiatif meloloskannya dari jeratan iblis tampan ini.

"A-aku ... aku g-gak kemana-mana, kok. Aku--"

"Ngomong yang jelas bego! Lo gagu apa gimana, hah?!" sentak Raden.

Kasar. Sifat itu sudah mendarah daging pada seorang Raden Gandana Mahesa. Sekalipun hanya tahu nama, Ruby jelas ingat bagaimana orang-orang selalu bercerita tentang Raden yang hangat namun kejam.

"Udahlah, Den. Eksekusi aja sekarang. Nih, cewek mencurigakan. Jangan-jangan dia mata-mata Toro di sekolah kita." Ruby menatap horor cowok yang baru saja berbicara itu. "E-enggak!!" bantah Ruby cepat. "A-aku bukan mata-mata!"

Ia menatap Raden, berharap dilepaskan namun justru cengkeraman cowok itu kian mengerat membuat Ruby yakin lengannya akan memerah.

"Kayaknya bukan, deh. Gue tau nih cewek. Dia Ruby Almera, anak sebelas IPA 1. Temen kelasnya Arga sama Pandu. Ituloh yang selalu jadi peringkat umum kedua sampe semua orang bilang dia musuhnya Arga dalam adu nilai."

Raden menatap Ruby yang terlihat akan menangis. Senyum manis yang tiba-tiba terbit di bibir ranum cowok itu membuat pupil Ruby membesar. Demi Tuhan, senyum manis Raden adalah hal yang paling dihindari oleh orang-orang. Senyum kelewat hangat yang justru menjadi simbol sebuah bencana. Senyum itu, seperti waktu perhitangan mundur kematian seseorang.

"Gue gak peduli dia siapa. Orang yang berani-beraninya ngacauin 'pesta' gue, harus dikasih pelajaran." Suara Raden yang rendah dengan pembawaan berat membuat aura disekeliling Ruby mencekam.

Ia dapat merasakan tubuhnya disentak paksa kemudian tas punggungnya sudah berpindah kepemilikan. Raden membuka tasnya, kemudian mengguncangnya dengan posisi terbalik hingga seisi tas Ruby berjatuhan. Cewek itu terpaku.

Buku-bukunya, tempat pulpen, kotak makan, mukenah, dan botol air minumnya jatuh ke lantai. Akibat botol minumnya yang tidak tertutup rapat, sisa air dibenda itu mengenai bukunya hingga basah. Ruby mengepalkan kedua tangan dengan bibir menipis membentuk satu garis seperti menahan kekesalan. Matanya berkaca-kaca.

Belum sempat keterkejutannya reda, tiba-tiba Raden merebut ponselnya lalu detik berikutnya benda itu sudah hancur akibat menghantam lantai dengan suara nyaring. Mulut Ruby terbuka kaget. Matanya bergerak menatap Raden yang justru terkekeh tanpa merasa bersalah.

Dua cowok yang Ruby tahu sebagai sahabat Raden itu hanya menatap Ruby iba.

"Bener kata orang. Kamu emang iblis. Dasar gak punya hati!" sentak Ruby sebelum memungut barang-barangnya, air matanya sudah luruh tanpa ia sadari. Raden benar-benar keterlaluan! Tidak pernah sekalipun Ruby merasa begitu membenci seseorang pada interaksi pertama.

RADENTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang