19. LAMARAN DAN PERSIAPAN HARI BAHAGIA

5.2K 1.1K 62
                                              

"Aku sedang dalam proses perceraian dengan Kiran." Zayn berkata pelan, kepalanya merunduk menghadap meja, napasnya terhela berkali-kali dengan lelah. Sementara, jemari tangan kanannya mengetuk-ngetuk meja kerja dengan irama teratur.

"Cerai?" Suara di seberang telepon terdengar berat dan dalam.

"Dia yang minta, Pi," sahut Zayn.

"Tidak pernah ada yang bercerai dalam keluarga kita, Zayn ...." Sekarang yang bicara adalah suara lembut yang terdengar cemas.

"Aku tau." Zayn menghela napas lelah. "Tetapi Kiran yang menginginkan perceraian pada awalnya. Dengan alasan aku mandul."

"Kamu mandul?" Suara lembut itu--suara ibunya--terdengar bergetar.

"Nggak, Mi," sahut Zayn cepat. "Ternyata nggak ...." Ketukan jemarinya terhenti.

"Bagaimana bisa tau kalau ternyata kamu tidak mandul?" Suara ibunya terdengar mendesak.

"Karena setelahnya, aku membuat seorang wanita hamil." Zayn menengadah seraya memejamkan mata, bersiap mendengarkan reaksi dari orang tuanya.

Setelah beberapa waktu tidak bersapa di telepon, tiba-tiba seorang Zayn memberikan kabar tidak menyenangkan untuk orang tuanya. Kabar perceraian, kabar menghamili seorang gadis, dan ....

"Karena itu aku akan segera menikahi wanita itu sebentar lagi. Kurang dari dua minggu ...."

Oke! Silakan memaki anak kalian sekarang. Zayn membatin, mempersiapkan hati dan jiwanya untuk sebuah khotbah panjang dari ayah dan ibunya.

"Ben je gek?!" (Apa kamu gila?!--Belanda) Suara ayahnya seperti halilintar.

"O mijn God, Zayn!" (Ya Tuhan, Zayn!--Belanda) Ibunya terdengar meraung.

"Papi nggak pernah ngajarin kamu berbuat seperti itu? Masih menuju proses cerai, tapi sudah mau menikah dengan perempuan lain? Di mana otak kamu?!"

"Dia sudah hamil. Aku harus bertanggung jawab, Pi. Karena itu aku mau minta izin---"

"Terserah! Lakukan semaumu, Pria dewasa tak punya otak!" Lalu, telepon ditutup.

Kening Zayn mengernyit, napasnya terhela tak beraturan. Ditarik-tarik rambutnya sendiri dengan gemas, sebelum akhirnya berteriak. Sekali. Cukup sekali untuk meredakan sesak di dadanya.

Setelah sesah itu sedikit memudar, tangan Zayn bergerak lagi untuk melakukan panggilan ke sebuah nomor.

"Sudah sampai Bandung, Ma?" tanyanya dengan intonasi yang jelas lebih ceria dan hangat, dari pada intonasinya saat berbicara dengan ayah dan ibunya tadi. "Syukurlah kalau begitu. Uhm ... oiya, Ma. Bagaimana kalau aku datang tiga hari lagi ke Bandung, untuk melamar Aubree secara resmi? Satu minggu sebelum kami menikah ...."

***

"Syukurlah masih ada kebayaku yang layak pakai." Aubree mendengkus, sambil sesekali melirik kebaya merah jambu yang melekat di tubuhnya. Zayn benar-benar gila. Kemarin, mendadak pria itu memboyongnya ke sebuah mal dan membelikan beberapa perlengkapan yang katanya untuk seserahan. Kemudian, dalam satu malam, entah bagaimana caranya ... semua yang mereka beli sudah terbungkus rapi pada nampan berenda.

"Kamu cantik. Iya, 'kan, Hans?" Zayn menatap Hans yang duduk di jok belakang melalui spion tengah, berdampingan dengan macam-macam hantaran untuk melamar Aubree. Di pangkuan pria berambut kecokelatan itu, bahkan terdapat sebuah nampan berisi sepatu bertumit tinggi yang dihias secantik mungkin.

Hans membalas tatapan di cermin tengah itu dengan cemberut. tetapi, akhirnya dari bibirnya berkata, "Aubree cantik sekali ...." Sebelum matanya kemudian berputar dan melengos ke luar jendela.

FROM A TO Z, I LOVE YOU (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang