chapter 17

694 79 5
                                    

         Di bawah pencahayan cukup tamaram, detik yang terus berlalu hampir menuju pukul tengah malam, kedua obsidan itu saling beradu, salah satu nya penuh tanya yang siap menghunus sang lawan dengan banyak pertanyaan.

"Oh. Jadi itu alasan mu meninggalkan ku begitu saja dulu, tertanya tidur dengan wanita lain rupa nya."

Bukan nya gelapan atau nyaris terkejut, Taehyung justru terkekeh hingga mata nya menyipit.

"Aku akan menjadi penulis dadakan jika menjabarkan semua nya, bisa berbab-bab."Taehyung merubah posisi nya terlentang menatap langit-langit kamar dengan hellaan napas pelan sebelum mungkin ia akan menjelaskan kesalahpahaman yang membelenggu selama ini.

"Aku menemukan Jiha hampir terkapar di kafe waktu itu, aku tidak punya cara lain untuk membawa nya kemana, tidak ada tujuan."jedah Taehyung sesaat."aku menyewa satu kamar di kafe, setidak nya sampai Kiha sadar dari  pengaruh alkohol yang ia minun padahal saat itu ia sedang hamil."

Airin masi menatap Taehyung lamat-lamat, seperti seorang bocah yang sedang mendengarkan dongen dari Ayah.

"Jiha prustasi karena hubungan mereka tidak di setujui orang tua Jungkook, tapi justru pertemuan ku dengan nya di kafe itu menimbulkan mala petaka yang lebih besar, aku tertidur di samping nya karena lelah, aku tidak melakukan apaun dengan nya, sungguh, karena tidak mungkin aku meninggalkan nya sendiri. Hingga pagi, Jungkook datang, dia salah paham mengira jiha berselingkuh dengan ku"

Taehyung menoleh sesaat ke arah Airin, gadis itu masi begitu antusias mendengar cerita nya, padahal beberapa menit lalu ia bilang sangat mengantuk.

"Jungkook marah, hingga tidak mempercayai anak yang Jiha kandung adalah anak nya, sampai Jiha prustasi ingin bunuh diri, dan aku menawarkan diri untuk bertanggung jawab, tapi tuhan berkata lain, Jiha mengalami kecelakaan saat ingin menyusul Jungkook ke bandara, dan dokter hanya bisa menyelamatkan satu nyawa, yaitu anak nya."Taehyung memejamkan mata ia tak sanggup mengulang hal itu lagi."aku merasa begitu bersalah kepada Jiha."lanjut nya kali ini dengan jeda yang cukup lama.

Usapan penuh afeksi terasa di pipi nya manakala Airin mendekatkan tubuh nya lalu memberi satu kecupan di pipi."tidak apa-apa kau hebat Taehyung, Jiha pasti bahagia di sana ketika kau merawat Jungki dengan baik, hingga kini Jungkook menyadari semua nya."

Taehyung tersenyum, ia meraih tangan Airin yang berada di pipi nya, lalu mengecupi punggung tangan sang gadis berkali-kali."terimakasih sudah menerima ku kembali".

Cahaya bulan mulai meredup bersamaan dua jiwa yang memejam untuk menyambut hari esok yang lebih baru setidak nya suara rintik hujan kian menambah kantuk yang semangkin larut.

____

Jungkook menarik atensi penuh pada anak laki-laki usia tiga tahun itu, mata nya mengerjab beberapa kali menyesuaikan cahaya,rasa nya dunia Jungkook kembali kala vokal menggema cukup lirih itu menggumam kan kata Appa. Tapi jauh di lubuk hati kecil nya Jungkook merasa terhempas menyadari sosok appa yang Jungki maksud bukan lah diri nya.

"Anak appa sudah bangun rupa nya."Jungkook menarik senyuman penuh ketulusan lalu memberi kecupan pada pucuk kepala.

"Appa mana?"pertanyaan mudah tapi begitu sulit untuk Jungkook utara kan dengan gamblang.

"Paman adalah appa mu nak, bukan appa Taehyung"terdengar lirih Jungkook mengelus sayang surai hitam putra nya dengan binar penuh harap agar sang putra mengerti maksud nya dan menolak kenyataan bahwa Jungki adalah bocah usia tiga tahun yang tak mengerti apa-apa.

Tidak ada respon Jungki menatap Jungkook dengan netra yang mengerjab beberapa kali tampak bingung dengan sosok asing di hadapan nya, lantas menggeleng lalu berujar."paman masi muda, pasti belum punya anak"

Hiraeth | Kth  ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang