Part 6 - Terungkitnya Masalalu

27 20 16
                                    

Hidup adalah pilihan. Sesulit apapun yang ditawarkannya, kamu tetap akan memilih.

Pukul delapan malam, Nisa tidak ikut makan malam seperti biasa, ia sibuk menimbang-nimbang sesuatu yang akan menjadi keputusan terakhirnya.

"Akek, Mama ana nda iku akan ma Ila?" tanya Akira pada sang kakek.

"Mamanya Kira lagi istirahat, capek habis kerja," balasnya memberi pengertian.

"Ila au emuin Mama ulu." Akira beranjak meninggalkan tempat makannya.

Nisa masih ragu dengan keputusannya, tidak yakin tentang hubungannya dengan Rian untuk ke depannya.

"Mama," panggil Akira.

Nisa langsung menepis pikirannya, tidak ingin terlihat sedih di depan Akira.

"Iya Sayang, kenapa?"

"Mama ayo, ulun akan ulu." Akira menarik-narik tangan ibunya.

"Mama nggak lapar, Sayang. Kira udah makan?" Akira menggeleng.

"Ila auna akan ma Mama," pintanya.

"Ya udah, nanti temani Mama ke luar ya?"

"E lual, etemu papa?"

"Bukan Sayang, kita jalan-jalan."

"Api Mama alus akan ulu, na?"

"Iya sayang, iya." Nisa mengecup kening putri kecilnya itu, hidupnya dan sumber bahagianya ada pada Akira.

Entah menerima atau menolak, rasanya Nisa tak sanggup memutuskan keduanya.

Rian tidak tahu apapun mengenai masalalu Nisa. Nisa bukan lagi wanita suci, ia telah terkotori oleh seseorang, dan memiliki anak dari seseorang yang tidak bertanggung jawab itu.

Putri kecil Nisa yang kini sudah berumur tiga tahun, membutuhkan kasih sayang dari seorang ayah. Setiap hari Nisa sedih memikirkannya, anak perempuannya itu tumbuh besar tanpa kehadiran sosok ayah di sisinya.

Setelah selesai makan malam bersama Akira, Nisa memberitahu pada keluarganya bahwa ia akan menemui Rian setelah membuat kesepakatan untuk bertemu di kedai. Ia mengajak Akira bersamanya, ia harus mengatakan yang sebenarnya, Nisa tidak ingin menjebak Rian dalam kehidupan pahitnya ini.

***

Di bawah naungan malam yang tenang, dihiasi oleh gemerlap bintang. Seseorang berjalan dengan tujuan untuk membuat hidupnya lebih bercahaya.

"Udah lama nunggu ya, Ian," ucap Nisa sembari melangkah menghampiri Rian di kursi paling pojok. Saat ini Akira tidak ada bersamanya, ia tidak ingin putri kecilnya itu mendengar semua kenyataan pahit yang akan ia katakan pada Rian.

"Nggak juga. Gimana?" Rian sangat penasaran dengan jawaban Nisa, namun sebenarnya Nisa lah yang tengah menunggu jawaban dari Rian setelah tahu semuanya.

"Kamu yakin mau nikahin aku, Ian?" tanya Nisa memastikan.

"Yakin Sa, aku udah sangat yakin buat nikahin kamu," sanggahnya.

The Past [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang