19|Jarak yang ada

3 1 2
                                              

Ruangan yang tidak terlalu besar namun tidak bisa disebut sempit juga ini menjadi tempat Riana berdiri. Cat berwarna putih dengan dominasi abu-abu menghasilkan kesan maskulin untuk kamar anak laki-laki. Riana tidak begitu yakin jika kamar ini benar-benar dihuni oleh anak laki-laki, pasalnya ini terlalu... Rapih.

Di sisi kanannya terdapat kaca besar dan tebal pengganti dinding, gorden putih dengan sedikit abu-abu menjuntai dengan anggun. Rak buku yang diisi dengan berbagai mainan berdiri kokoh di sebelah meja belajar. Di atas tempat tidurnya terpasang sebuah gambar dengan figura yang cukup besar, mungkin ukurannya lebih besar daripada yang di ruangan keluarga tadi.

Potret keluarga bahagia tergambar sempurna. Senyum-senyum mengagumkan terpancar dari keempatnya. Sosok laki-laki dewasa beridir gagah dengan seragam pilotnya, dengan seorang perempuan yang mengandeng tangannya mesra. Perempuan itu memakai kebaya Abu-abu dengan bunga-bunga payet hitam. Keluarga ini terlihat sempurna dengan dua anak laki-laki yang terlihat gagah berdiri di samping kanan dan kiri keduanya, anak-anak muda itu kompak memakai jas formal lengkap dengan dasinya.

Jas berwarna navy itu terlihat cocok dengan tubuh atletis Reyhan, tingginya pun sudah bisa melebihi sang Bunda. Setelah melihat foto keluarga ini, Riana jadi tahu senyum indah Reyhan itu ia dapatkan dari sang Bundanya. Dari foto ini, Riana jadi tahu bagaimana dulu laki-laki itu hidup dengan sempurna.

Pemuda yang berdiri di samping sang Papah pun tidak luput dari pandangan Riana, laki-laki itu terlihat tampan. Senyum dan matanya persis seperti Reyhan, tulang rahang yang tegas menjadi penyempurna wajah itu.

Mata Riana beralih melihat pajangan-pajangan bingkai berukuran sedang yang berjejer rapih di meja belajar. Potret Reyhan bersama laki-laki yang biasa Reyhan sebut Abang mengisi bingkai-bingkai cantik itu.

Tuhan, Bagaimana cara laki-laki ini bisa kuat? Ia hidup bersama masa lalunya yang tidak baik-baik saja.

Pintu kamar digedor dengan paksa dari luar membuat Riana keluar dari lamunannya, sepertinya suara Azkiya dengan mamah Reyhan yang berada di balik pintu itu.

"Ri, buka!" Suara Azkiya terdengar memerintah.

Suaranya masih terdengar memaksa dengan suara gedoran yang terus terlontar. Mata Riana hanya bisa memandangi gagang pintu yang terus bergerak.

"Ri, jangan ngelunjak! Buka!"

Kepala Azkiya dipenuhi amarah untuk Riana. Bisa-bisanya wanita itu langsung memasuki kamar Reyhan padahal baru pertama kali datang, dirinya saja yang sudah berpacaran tidak pernah mendapatkan izin untuk memasuki kamar ini. Jangankan Azkiya, mamah tiri Reyhan saja belum pernah menginjakkan kaki di ruang yang dianggap keramat oleh orang-orang terdekat Reyhan.

Maaf, ka. Batin Riana menjawab. Bukannya Riana mau ngelunjak ataupun tidak sopan, pasalnya sekarang ia tidak bisa apa-apa. Pintu itu dikunci Reyhan dari luar, dan laki-laki itu membawa kuncinya.

Kalaupun Riana mampu membukanya, gadis itu dilarang keras untuk membuka pintu itu kecuali dengan izin Reyhan. Di situasi seperti ini, rasanya Riana ingin pergi dari tempat ini. Ini bukan tempat untuknya. seharusnya Reyhan tidak perlu membawanya kesini dan kejadian seperti tadi tidak akan terjadi. Hidup laki-laki itu sudah rumit ditambah lagi dengan kehadiran Riana yang menjadi beban.

"Kamu bisa di sini dulu, ngga apa-apa, kan?" lirih Reyhan dengan tatapan bersalah.

"Mau kemana?" bukannya menjawab, Riana lebih tertarik melontarkan pertanyaan.

"Sebentar dulu, ada seauatu yang perlu diselesaiin."

"Rey, aku pulang aja, yah?"

"Iyah, nanti pulang. Sabar yah? Oh iya, di balkon ada bunga yang di kasih mama waktu itu, loh. Dia tumbuh dengan sehat, cantik tau!"

Riana Ziyya (On Going) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang