I Want To Be Happy-

34 7 2
                                                  

Rangkaian peristiwa menghujam batin ini.
Seolah ribuan panah tengah menyerang.
Bosan akan kejamnya semesta.
Tak kuat akan siksa dunia ini.
Lagi... Dan lagi...

–Griselda Gavriel–

-

Grisel terkejut ketika mendapati Bram yang menatap Grisel dengan raut jelas tak suka. Tatapan selama 16 tahun ini.. sama saja.

"Kau harus bertanggung jawab, harus!" Bentak Bram tanpa basa-basi.

"Apa salah Grisel Pa.. Ma..?" Grisel menatap Lavina san Bram secara bergantian.

"Rosa kehilangan banyak darah. Kami disini menunggumu pulang, untuk membawamu ke kantor polisi untuk bertanggung jawab!" Bram tak pernah menurunkan nada bicaranya. Selalu penuh akan bentakan.

"Dan ya.. Benar. Jika saja kau tak hadir dalam keluarga ini sudah pasti tidak akan ada kesialan. Kau itu pembawa sial! Kau membuat anakku masuk rumah sakit! Rosa tak berdaya sekarang! Karena dirimu! Anak tak berguna!!." Lavina mendekat pada Grisel. Berteriak dengan nada tingginya, seolah Grisel paling salah sekarang.

Lavina mencengkeram dagu Grisel erat. Sakit.. perih.. luka lama saja belum sembuh. Namun kini? Haha terlampau dari kata biasa.

Grisel meneteskan air matanya, jujur saja ia tak mau terlihat lemah. Air matanya lolos begitu saja.

"Lalu siapa aku?! Siapa aku di mata kalian? Pa.. Ma.. lirik Grisel sedikit saja. Berikan kasih sayang untuk Gris! Gris hidup tanpa kebahagiaan, itu semua karena kalian! Kal—,"

Plakkk!

Satu tamparan keras membuat Grisel tersungkur ke lantai.

"Beraninya kau membentakku! Kau pikir dirimu siapa ha?! Anak remaja pembawa sial!! Saya harap kamu menghilang dari dunia ini. Saya tidak ingin melihatmu terus hidup!" Bentak Lavina lagi, setelah tamparan keras itu.

Degg! Hati Grisel lebih hancur. Hancur lagi...

Sebuah luka tercipta. Semakin lama terus menjadi luka yang membekas seolah tak bisa menghilang. Ini adalah akhirnya.. Grisel menyerah.

"Kalian ingin aku menghilang dari dunia ini bukan? Ya.. iti keinginan Grisel sejak dulu. Sangat ingin jauh dari kalian dan kembali pada Tuhan!," Grisel mengeluarkan cutter dari dalam nakas disampingnya.

Grisel menunjukkan cutter itu, cutter mengkilap tajam. Mungkin akan terasa sangat mudah untuk menggores secara nyata.

Air mata Grisel masih mengalir, menekuk lengan bajunya. Kulit putih tangan Grisel terlihat jelas sudah banyak bekas cutter disana, ditambah lagi bekas goresan kaca.

Grisel menggoreskan cutter itu dekat dengan nadinya. Seringaian puas terukir di bibir Grisel. Berbeda dengan Lavina dan Bram yang terkejut tak percaya dengan laku Grisel sekarang.

Goresan demi Goresan terus terjadi. Tawa kesakitan hati terus lolos. Menjadi sebuah hiburan diri tanpa sadar akan laku saat ini.

Tersesat dalam hati, tak menemukan jalan kembali. Terus tersakiti dan memilih mengakhiri.

Srttt-

RAPUHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang