Part 3 - Ibu Pejuang

37 28 13
                                    

Malam yang cukup tegang bagi Nisa, ia tengah makan malam dengan keluarganya. Selepas makan malam nanti, Abi Irawan akan mengajak Nisa berbicara empat mata dengannya. Inilah yang membuat hatinya seketika tidak tenang.

"Fa, selesai makan kamu bawa Akira ke kamarnya, Abi mau bicara sebentar sama Nisa," ujar sang abi pada Fafa.

"Iya, Bi." Menoleh ke arah anak kecil yang duduk di sampingnya. "Akira, ikut Onty, yuk. Onty ajarin jahit baju barbie gimana?" ucap Fafa dengan raut senyum manisnya.

"Auuu," sahut Akira dengan girang. Nisa tersenyum lepas melihat Akira yang selalu terlihat bahagia, Akira seperti tidak kekurangan kasih sayang di mata Nisa, semua orang menyayangi Akira.

"Nisa, Abi tunggu di ruang utama," ucap sang abi dan beralih meninggalkan meja makan. Nisa hanya mengangguk.

Tepat pada pukul 09.12 malam, Nisa menyegerakan pinta sang abi menuju ruang utama.  Terlihat Abi Irawan tengah berbincang dengan seseorang di telpon. Menyadari kedatangan Nisa, sang abi langsung menutup telponnya.


"Baik, besok kita bicarakan lagi."

Sekilas hanya pernyataan itu yang terdengar oleh pendengaran Nisa, tidak terlalu memikirkannya.

"Kenapa, Bi?" tanya Nisa.

"Duduk di sini," ajak sang abi menepuk-nepuk sofa di sampingnya, Nisa lekas duduk.

"Menikah ya, Nak." Kalimat pertama yang diutarakan Abi Irawan sontak membuat Nisa menjadi murung seketika.

"Nisa butuh waktu Bi, Nisa pengen berdua dulu sama Kira," rajuknya, tak berani menatap sang Abi yang saat ini tengah menatapnya penuh lekat.

"Abi tahu, alasan kamu tidak menikah bukan karena Akira. Tapi karena masalalu kamu. Akira butuh Papa Nak, kamu nggak boleh jadi ibu yang egois," lirih sang abi.

Tubuh Nisa mulai melemah, butiran air matanya mengalir dengan sangat tenang.

"Maafkan Abi, Nak. seburuk dan sekelam apapun masalalu seseorang, bukan berarti dia tidak berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik," terang sang abi, ia lekas meninggalkan Nisa di ruang utama. Kini luka itu menjadi semakin dalam.

Di sela-sela isak tangisnya, Nisa mencoba tetap tenang, menutup mata dan berusaha menemukan jawaban.

"Seburuk dan sekelam apapun masalalu seseorang, bukan berarti dia tidak berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik."

Kalimat-kalimat itu melayang dan membekas di ingatannya, semoga Tuhan lekas memberikan jalannya.

Malam hampir mencapai puncak larutnya, kesunyian malam yang dihadapi Nisa mengingatkannya pada tugas-tugas kantor yang belum ia kerjakan, ia harus menyusun strategi untuk keperluan promosinya besok.

Perlahan Nisa mulai larut dalam seni menemukan ide, ia tengah bergulat keras dengan pikirannya, entah konsep seperti apa yang akan ia terapkan.

Sembari menimbang-nimbang sesuatu yang tidak pasti, telpon Nisa berdering. Terpampang jelas digit nomor tak dikenal di layar ponselnya.

The Past [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang