BAB 3 : Dua Kali Sehari (Revised)

54K 5.7K 29
                                    

Tokk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tokk.. tokk..

"Permisi, mba.." panggil Nita sambil melongok di sela-sela pintu.

"Iya, masuk aja, Nit"

Nita masuk ke dalam ruangan dan menghampiri meja kerjanya Nayara.

"Ada apa?" tanya Nayara ketika Nita sudah berdiri di seberang meja kerjanya.

"Ini, mba, aku mau kasih laporan penjualan bulan ini" jawab Nita seraya memberikan laporan yang dimaksud.

"Oke..Terima kasih, Nit. Nanti mba cek yah"

"Iya, mba.."

Nayara pikir Nita akan langsung meninggalkan ruangannya setelah menyerahkan laporan penjualan bulanan padanya. Alih-alih pergi, Nita malah tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya berdiri. Hal itu membuat Nayara bingung.

"Ada apa, Nit? Ada yang mau kamu sampaikan lagi?"

"Hmm.. itu mba.. Aku boleh ijin untuk gak masuk kerja hari senin?" jawab Nita meminta ijin.

"Ohh.. Untuk?"

"Aku mau bimbingan skripsi"

"Oke, mba ijinkan"

"Terima kasih, mba.. Oh iya mba, satu lagi" tambah Nita.

"Apa?"

"Customer yang tadi siang, itu siapa mba? Kayaknya mba sama mas yang tadi saling kenal?" tanya Nita dengan tingkat keingintahuannya yang sangat tinggi.

Nayara sudah menduga Nita akan bertanya soal kejadian tadi siang. Kejadian tadi siang memang seperti bukan Nayara. Nayara yang Nita kenal tidak akan menolak permintaan pelanggannya selagi masih dalam batas wajar dan tidak melanggar norma maupun etika.

"Bukan siapa-siapa, Nit. Cuma tadi mba emang lagi ada kerjaan lain yang harus diurus aja" jawab Nayara dengan berusaha tetap tenang.

Nita menyipitkan matanya tidak percaya.

"Tapi kayaknya Mas-nya tadi kenal sama mba. Aku liat dari cara dy yang gk berhenti natap ke arah mba"

Nayara bingung mau menjawab apa lagi.

Dilihatnya jam di dinding menunjukkan pukul 4 sore, tanda kalau Nita seharusnya sudah bersiap untuk pergi ke kampusnya. Seketika Nayara mendapatkan ide untuk mengalihkan pembicaraan ini.

"Nit, kamu belum mau pulang? Bukannya kamu ada jadwal kuliah hari ini?"

"Oh iya! Lupa aku, mba! Makasih mba udah ingetin aku"

Yes! Berhasil!!

Nayara menganggukkan kepalanya sebagai respon.

"Yaudah sana berangkat. Nanti kamu terlambat sampai ke kampus" ujar Nayara.

"Iya, mba. Aku pamit pulang yah mba. Terima kasih"

"Sama-sama. Hati-hati, jangan ngebut naik motornya"

"Iya mba.."

Sepeninggalan Nita, Nayara mencoba menyibukan dirinya dengan memeriksa laporan penjualan bulanan toko bunganya. Hal ini ia lakukan untuk mengusir Arsen dari pikirannya. Tetapi usahanya itu hanya bertahan 20 menit saja. Nama Arsen terus berputar di dalam kepalanya beserta kenangan pahit di masa lalunya.

Akhirnya Nayara menyerah. Ia mengirim pesan ke Kirana dan Reyna, sahabatnya, mengajak mereka ketemuan. Nayara butuh mengalihkan pikirannya dari Arsen. Siapa tau dengan bertemu kedua sahabatnya dan mengobrol dengan mereka dapat mengalihkan pikirannya dari Arsen.

Nayara : "Ki~ Rey~ Ketemuan yuk? Di café biasa? Sumpek niihhhh"

Reyna : "Gas!! Jam 5 teng-go gw jalan"

Nayara : "Sipp! Ki!!! Lo gimana????"

Kirana : "Sabaaaarrrrr.. Iya gw ikut, sama jam 5 teng-go. Eh, 5 lewat dikit deh kayaknya"

Nayara : "Awas lo yeh klo ngaret banget"

Kirana : "Iye baweell"

Nayara : "Okii. . kalian terbaik memang /ketjup basah/"

Kirana : "NAJISS"

Reyna : "JIJIIIKK"

Nayara tertawa kecil melihat balasan terakhir dari kedua sahabatnya. Lalu, ia segera merapihkan mejanya dan bersiap-siap menutup toko bunganya dan pergi ke café untuk bertemu Kirana dan Reyna.

Nayara lebih dulu sampai di café langganan mereka. Disusul Reyna 15 menit kemudian, lalu terakhir Kirana.

"Rey, lo mau minum apa? Gw pesenin sekalian, mumpung belom duduk nih gw" tawar Kirana.

"Ice Latte aja. 2 shot" jawab Reyna.

"Lo, Nay?"

"Gw mau burnt cheese cake"

"Oke"

Sepeninggalan Kirana yang memesan minuman dan makanan, Reyna yang duduk dihadapan Nayara bertanya pada sahabatnya itu. Karena tumben sekali Nayara mengajak ketemuan duluan, biasanya selalu Kirana atau Reyna yang mengajak ketemuan duluan.

"Sumpek kenapa lo, sampe ngajak ketemuan duluan?"

"Nanti deh, tunggu Kiran. Biar gk ngulang 2 kali ceritanya"

"Oke"

Tidak lama kemudian, Kirana datang dengan membawa nampan berisi pesanan mereka. Mereka masing-masing menyantap pesanan mereka dan bercerita ringan satu sama lagi sampai Kirana menanyakan hal yang tadi sempat ditanyakan Reyna pada Nayara.

"Nay, lagi sumpek kenapa lo? Orderan overload? Tumben banget ngajak ketemuan duluan"

"Jadi gini..."

Nayara mulai menceritakan pertemuannya dengan Arsen di toko bunganya. Kirana dan Reyna menyimak sampai Nayara selesai bercerita tanpa memotongnya sama sekali. Kirana tau pasti yang dialami Nayara sewaktu SMA, karna ia berada disana juga waktu itu. Sedangkan Reyna, ia baru menjadi sahabat Nayara sewaktu kuliah di UGM, ia hanya tau dari cerita Nayara dan Kirana saja.

Nayara masih terus bercerita sampai ia mendengar seseorang memanggil namanya. Ia menolehkan kepala untuk melihat siapa yang memanggilnya. Matanya membulat sempurna melihat siapa yang memanggilnya dan laki-laki yang berdiri disebelah orang yang memanggilnya.

"Ka Ara!!!"

Lagi?!? Kenapa kayak minum obat gini sih. Dua kali sehari!!

 Dua kali sehari!!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Enchanté, Ex!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang