3| Pelangi Sesaat

4 2 5
                                              

Sekarang, kamu tidak ada bedanya seperti pelangi.
Datang setelah hujan, atau bahkan ketika hujan masih turun.
Saat tetesannya mulai mereda, kaupun ikut menepi meninggalkan lagit yang masih kelabu.
Aku selalu menganggap setelah hujan pasti kamu akan datang dengan segala warna yang kaumiliki.
Ternyata salah.
Tidak selalu hujan reda akan berakhir dengan hadirnya pelangi.
Ada saja masanya ketika mulai mereda, lalu kembali datang dengan intensitas yang lebih tinggi.

Kalau saja manusia bisa memilih semua apa yang diinginkan dalam hidup, aku akan memilih hidup di waktu dia masih menjalani hari-harinya denganku. Aku akan memilih berdiam saja di sana menikmati anugerah terindah yang diberikan Tuhan. Rasanya waktu itu aku sangat bahagia, meskipun ada banyak hal berat tapi kami berkomitmen untuk melewatinya bersama-sama.

Aku berpikir, kalau saja hari itu Tuhan tidak membuat pertemuan dengan seorang Aldeffa Satria, mungkin hidupku tidak akan pernah berjalan sejauh ini. Mungkin saja sejak lama aku sudah menjadi bagian dari bumi dan menjalani kehidupan selanjutnya. Tapi seorang Deffa mampu membuatku berdoa kepada Tuhan untuk memberikan hidup lebih lama bersamanya.

Masih sangat jelas di ingatanku bagaimana kata-kata bijaknya memeluku sedemikian eratnya sampai-sampai jiwa ini tidak mau dilepas dari sosoknya. Katanya, "kalau Tuhanmu mampu memberikan hidup seseorang dengan cara sedemikian sakitnya, berarti Dia lebih mampu lagi untuk merubah hidup menjadi lebih baik dari apa yang dibayangkan."

Waktu itu aku masih berpikir kalau hidupku akan segera berakhir, bertahan hanya akan membuat keuargaku menjadi miskin. Kanker hati stadium tiga menjadi hasil akhir dari diagnosa dokter yang menanganiku saat itu. Tentu saja duniaku runtuh dalam sekejap, kabar itu membuat sakit semuanya. Termasuk mamah, dia menangis setiap aku menjalani kemo.

Waktu Pran mengetahui berita ini, dia menghubungiku tanpa henti di saat aku tidak ingin bertemu siapapun. Pranaja menjadi orang pertama yang meberikanku kata-kata motivasi paling panjang untuk menyemangatiku. Ada sedikit keharuan saat melihatnya ternyata lebih dari apa yang Pran kupikirkan.

"Yas, aku yakin banget kalo kamu tuh perempuan terkuat yang pernah hidup sedekat ini dengan hidupku. Kamu jangan pernah mau kalah sama keadaan, yah, kamu harus lawan sakitnya biar nanti nggak berani dateng lagi." waktu Naja menceramahiku panjang lebar, ingin sekali rasanya aku bilang padanya kalau aku juga senang bisa berteman dengannya selama ini. Aku pengen bilang terima kasih sudah menjadi abang sekaligus teman yang baik. Bahkan jauh lebih baik. Tubuhku tidak sanggup untuk mengatakan semuanya, kesadaranku sudah lebih dulu lenyap.

Kata mamah, waktu melihat aku yang tidak sadarkan diri, Pran menggendongku sambil menangis. Apalagi ketika orang-orang berseragam putih itu tidak cepat-cepat menjawab pertanyaanya. Padahal waktu itu Pran sangat ingin mendengar kalau aku baik-baik saja.

Siang itu Pranaja datang, katanya, sih, berniat menjengukku sekalian menyemangati manusia memprihatinkan sepertiku. Bujukannya Masih sama seperti kemarin-kemarinnya, menyetujui saran dokter untuk operasi pengangkatan sel kanker yang membuatku menderita ini. Tapi kalau dipikir-pikir, aku melanjutkan hidup untuk apa? Sampai seorang Aldeffa Satria --teman sekaligus sahabat dari Pranaja Putra-- bertemu denganku dan mengajakku jalan-jalan di taman rumah sakit.

Tidak ada yang spesial dari taman ini, namanya juga taman rumah sakit. Ya jelas diperuntukan guna pasien yang sakit atau keluarga pasien yang mengunjungi. Semua perkataan Deffa membuatku tenang, belum lagi wujudnya yang seperti pangeran dari negeri dongeng. Sampai-sampai rasanya ingin menanyakan sesuatu pada siapapun, apa aku sudah sampai surga? Dia seperti penghuni surga yang kesempurnaanya sering diceritakan banyak orang.

Hingga sampai di salah satu bangku taman panjang berwarna putih dia berhenti mendorong kursi roda yang sedang kududuki. Bukannya duduk, dia malah berlutut di hadapanku tanpa malu dan menggenggam jemariku dengan lembut. Jujur saja senyumku tidak bisa ditahan lagi, ini seperti adegan seorang pangeran dan puteri di dunia dongeng yang sering kutonton waktu kecil.

Nyanyian Hujan | Jeon WonwooTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang