1| Senja Terindah

27 10 18
                                              

"Mengapa kini kau pergi meninggalkan aku. Hancurlah aku. Separuh ruh hatiku pergi meninggalkan cinta ini. Ini terlau perih."
Magic Hour -  Rendi Matari

Jemarinya terasa dingin saat ruas kekar itu menyatu bertautan di sela jariku, mungkin saja angin laut sore ini penyebabnya. Sepertinya sore ini tidak akan pernah bisa dilupakan walau ditimbun seribu kenangan manis lagi. Senja ini akan menjadi saksi bahwa kami pernah sebahagia ini dalam menjalani hidup. Aku bersyukur masih bisa bernapas sampai saat ini.

Dengan balutan kaos polos hitam, lalu dilapisi jaket denim cokelat muda serta celana chino yang senada, dia semakin terlihat tampan. Apapun potongan rambutnya mau kelimis ataupun gondrong, aku menyukainya. Belum lagi senyuman manisnya semakin membuatku tahu bagaimana rasanya jatuh cinta berulang kali pada orang yang sama tanpa bosan. Ditambah lagi kaca mata yang bertengger di pangkal hidung mancungnya membuat terlihat berlipat-lipat lebih tampan.

"Kalau Tuhan memberikan satu hadiah untuk dikabulkan lagi, kamu mau minta apa?" tanyanya tiba-tiba.

"Nggak ada." jawabku mantap.

Memangnya apalagi yang mau diminta? Aku sudah hidup bersama orang yang sangat kucintai dan tentu saja mencintaiku. Ini lebih dari cukup dari apa yang kuinginkan. Dulu aku selalu minta hari yang cerah kepada Tuhan, tapi Tuhan  selalu saja memberi yang lebih. Mau alasan apa lagi untuk mengatakan tidak bahagia?

"kalau begitu, biarkan aku yang meminta." katanya pelan.

Mataku langsung tertuju padanya tanpa diperintah. Memangnya dia punya permintaan apa? Apa selama ini aku belum bisa membahagiakannya?

"aku mau minta sama Tuhan buat selalu membahagiakan orang di sampingku ini. Jangan lagi biarkan dia bersedih apalagi berantakan."

Setiap kata yang keluar darinya langsung menghujam relung bagian terdalam. Aku merasakan sakit dan bahagia di waktu yang bersamaan. Aku memang tidak salah mencintai dia yang se-sempurna ini. Darinya aku bisa merasakan bagaimana cinta yang mengalir deras mampu membahagiakan.

Terima kasih Tuhan.

"tapi aku ragu, orang ini mau mengabulkannya atau tidak." lanjutnya lagi.

Matanya menerawang senja yang masih tersisa di ujung sana, lalu memejamkan matanya sebentar, mungkin merasakan semilir angin laut menerpa pipinya sebelum akhirnya menatap mataku dengan dalam. Sangat dalam sampai rasanya aku dengannya bisa menyatu melengkapi satu sama lain. Ah, mata indah ini selalu saja menjadi yang kusuka melebihi apapun. Tapi, apa maksud perkataannya tadi?

Matanya seakan bertanya apakah kamu mau
mengabulkannya? Tentu saja, tanpa sadar dialah yang menjadikan keinginannya menjadi kenyataan. Sekarang, hidupku sudah lebih baik.

"tinggalkan aku." katanya.

Hah?! Apa katanya tadi? Yang benar saja.
Aku terseyum manis, semanis mungkin agar mampu menghilangkan lelahnya. Dulu dia bilang kalau segala lelahnya bisa hilang dengan melihat senyumku, dan mungkin saja sekarang dia lagi capek. Dari pagi kami hanya melakukan hal-hal manis seperti ini.

"pulang yuk."

"aku mohon"

Apa? Dia memohon untuk apa? Untuk sesuatu yang mustahil kulakukan?

"yank, kamu kalo cape kita pulang, bukan ngomong nggak jelas gini. Nanti kalo ada waktu, kita kaya gini lagi."

"sebelum kamu hancur karenaku, sebaiknya kamu pergi, Yas."

Hatiku semakin sakit, dia sampai menyebut namaku berarti ini perintah tegas. Siapapun, tolong beritahu caranya bernapas dengan baik. Meninggalkannya itu sama saja meminta aku mati atau bernafas tanpa hidup. Bagaimana?

Nyanyian Hujan | Jeon WonwooTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang