Chapter 17

83 28 177
                                              

Happy Reading❤️

Sudah beberapa hari terakhir ini Qeyra berangkat dan pulang sekolah bersama Geovan. Hubungan mereka pun semakin dekat. Bahkan sudah banyak siswa yang tahu tentang itu, dan banyak juga yang mengira kalau mereka berdua berpacaran. Namun nyatanya, hubungan mereka hanya sebatas adik kelas dan kakak kelas saja.

Hari ini Geovan ada jadwal untuk ekstrakurikuler bola basket. Qeyra memutuskan untuk menunggu Geovan. Awalnya gadis itu ingin pulang terlebih dahulu dengan naik taksi, namun Geovan melarangnya dan meminta untuk pulang bersamanya.

Mereka berdua berjalan beriringan menuju lapangan basket. "Ternyata Kak Geovan ikut basket?"

Geovan sedikit membenarkan baju olahraga yang ia kenakan. "Iya, emang lo baru tau?"

"Iya," jawab Qeyra menganggukkan kepalanya.

Beberapa siswa lain yang juga mengikuti basket sudah terlihat di lapangan. Tampak berlatih tanpa guru pembimbing.

Qeyra mengambil posisi duduk pada kursi yang tersedia di pinggir lapangan setelah Geovan meminta untuk menunggunya di situ. Tepat di sebelahnya ia menaruh tas Geovan yang tadi dititipkan kepadanya.

Bisa Qeyra lihat banyak siswa perempuan yang duduk berjejer pada kursi lainnya. Mungkin mereka juga menunggu sama seperti Qeyra atau mungkin sengaja melihat para anak laki-laki bermain basket. Anak basket emang idaman ciwi-ciwi deh kayaknya.

Hari ini begitu panas. Teriknya sinar matahari bisa Qeyra rasakan sendiri yang seakan mampu membakar kulit. Gadis itu mengabaikan sinar matahari yang menghangati kulitnya. Ia mengambil ponsel di sakunya yang kemudian ia mainkan sebagai bentuk untuk melampiaskan diri dari panas matahari.

Qeyra begitu asik dengan ponsel miliknya, hingga tersadar bahwa ia tak lagi merasakan panasnya matahari. Seperti ada sesuatu yang menghalangi sinarnya sehingga panasnya tak sampai tubuh Qeyra. Qeyra mengangkat kepalanya mendapati dua orang gadis sedang berkacak pinggang.

Silaunya sinar matahari sedikit menggangu Qeyra saat mengenali kedua gadis itu. Ia mencoba melihatnya kembali dengan teliti.

"Hai, Kak." Qeyra mengukir senyum, menyapa kedua gadis tersebut yang ia kenal merupakan kakak kelasnya seangkatan dengan Geovan.

"Nggak usah sok manis deh. Lo pikir lo itu siapa bisa seenaknya deketin Geovan, HAH?!" gadis berisi yang berpenampilan mini itu membuka suaranya, membentak dan menunjuk-nunjuk Qeyra. Suara lantang yang ke luar dari mulutnya mampu mengalihkan atensi para orang di sana. Banyak pasang mata menatap mengarah pada posisi Qeyra saat ini, tak terkecuali Geovan yang berada di tengah lapangan.

Kalimat yang gadis itu lontarkan begitu menusuk Qeyra. Bahkan, dari sekian kata-kata tadi sama sekali tidak benar. Nyatanya Qeyra memang tidak punya niatan untuk mendekati Geovan. Ditambah lagi, kini banyak orang yang melihatnya, malu, gugup, dan takut, rasa itu menjadi satu dalam dirinya.

"Maaf Kak, tapi aku nggak pernah ngedeketin Kak Geovan." suara lirih milik Qeyra terdengar. Dengan sedikit keberanian yang dimilikinya ia menjawab penuh kepercayaan diri.

"Udah ngaku aja lo! Lo emang sengaja kan deketin Si Geovan biar bisa jadi pacarnya dan jadi terkenal di sekolah. Dasar murahan!" bentak gadis satunya yang ber-make-up tebal dan berambut keriting menekankan kata terakhir seraya menunjuk kening Qeyra dan menekannya, membuat kepala Qeyra terdorong ke belakang. Qeyra menggeleng cepat menanggapi ucapan itu.

Benar-benar, Qeyra sudah dibuat malu oleh mereka berdua. Bagaimanapun Qeyra tidak bisa diam saja dikatakan seperti itu, ia harus memberanikan diri untuk menghadapi kedua gadis cabe ini.

QEYRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang