*Psst* Notice anything different? 👀 Find out more about Wattpad's new look!

Learn More

Part 3 - Coincidence?

1.2K 41 1

Ketika Adrian dan Senna –tetangga Cloudy- sudah masuk ke dalam apartemennya, rasa penasaran pun muncul di benak Cloudy.

Jadi, kak Senna juga suka berondong, astaga.

Cloudy dihinggapi rasa bimbang, dalam hatinya ia penasaran dengan teman barunya itu namun otaknya berkata kalau dia tidak boleh mencampuri urusan orang lain. Setelah beberapa menit berkutat dengan pikirannya, akhirnya Cloudy lebih memilih mengikuti kata hatinya.

Daripada gue kepo, ntar kalo kepo nggak bisa tidur, terus kalo gak bisa tidur besok bangun kesiangan, kalo gue telat nanti pasti diomelin sama guru piket yang killer itu. Jadi intinya lebih baik nguping daripada disembur naga pagi-pagi.

Dengan langkah perlahan Cloudy mulai mendekati apartemen bernomor 421 itu, lalu ia menempelkan telinganya ke celah pintu, bermaksud untuk menguping.

"Sampe kapan sih kamu mau gini terus?"

"Kamu tau sendiri kan aku paling nggak bisa cuma sama satu cowok, Dri."

Terdengar suara dari dalam yang membuat Cloudy semakin penasaran.

"Apa sih yang belum kamu punya? Kamu nggak cukup puas selama ini?"

Wah wah itu anak baru diem-diem kelakuannya... astaghfirullah. Bisa bahaya kalo anak-anak satu sekolah tau.

"Bukan gitu, tapi apa salahnya main-main kan selagi masih muda?"

"Tapi nggak gini caranya!! Kamu punya perasaan nggak sih sebenernya?!"

Buset, galak juga nih cowok.

"Udah ya udah, kamu jangan marah-marah mulu, kan baru pulang masih capek, kamu nggak laper? Atau mau susu aja?"

Cloudy membelalakan matanya, lantas semakin menempelkan telinganya ke pintu.

Gila udah SMA masih minum susu, atau jangan-jangan... aduh sumpah makin absurd otak gue. Oh Gosh, tampar aku sekarang, tampar saja biar terkulai lemah sampai ke rawa-rawa. Oke gue bukan hayati.

"Nggak usah, aku mau keluar aja!"

Bukkk

Cloudy yang masih menguping, tiba-tiba saja terbentur pintu dengan sangat keras. Saking kerasnya tubuhnya sampai tersungkur ke lantai.

"Aduh sakitttt." rintihnya sambil mengusap-usap kepalanya.

"Lo ngapain sih disitu?!" Adrian pun semakin kesal melihat Cloudy "Lo nggak kenapa-kenapa? Mana yang sakit?" suaranya melembut dan raut wajahnya menunjukkan rasa khawatir.

-----

"Pelan-pelan keleus, nggak tau apa nih benjolnya segede gaban!" rintih Cloudy saat Adrian mengobati lukanya. Saat ini mereka sedang berada disebuah tempat nongkrong anak-anak gawl tiap malem minggu, yap! Seven eleven.

"Lagian siapa suruh nguping, untung nggak kena azab lo." Balas Adrian dengan ketus seperti biasa.

"Lo mau apaan?" tanya Adrian setelah selesai mengolesi salep pada luka Cloudy. Meski pun masih kesal karena Cloudy sudah menguping pembicaraannya, Adrian tetap bertanggung jawab untuk mengobati luka pada dahi Cloudy.

"Hot chocolate aja sama yang single satu." Ucap Cloudy sambil berkaca untuk melihat lukanya itu.

"Lo depresi banget kayanya jadi jomblo, sampe minta dicariin yang single." Ejek Adrian.

Cloudy mendengus sebal. "Maksud gue pisang, liat dong tulisannya single!"

Adrian pun hanya mengangguk-angguk kemudian berlalu dari hadapan Cloudy.

Only One [Completed]Read this story for FREE!