Aku, terasing

68 3 16
                                    

"Kak buruan berangkat, keburu telat nanti!" teriak Bu Siti ketika tahu anak keduanya belum berangkat juga ke sekolah.

Ia adalah Andi saputra. Anak kedua dari 4 bersaudara. Hari ini akan menjadi waktu yang bersejarah baginya. Karena tepat pada senin ini, ia akan menjadi siswa tingkat menengah pertama. Senyum Andi begitu merekah. Tak bosannya ia berkaca dengan baju putih birunya. Akhirnya a bukan anak-anak lagi. Masa muda yang menyenangkan. Pacaran dan main dengan banyak teman. Pikiran mengasyikkan membiusnya sampai lupa sudah lima menit berkaca di depan lemari.

"Iya mah," jawab Andi sambil mengambil tas dan memakai sepatu.

Senin pagi ini sangat cerah. Semoga menjadi pertanda baik baginya. Hari yang cerah untuk petualangan baru yang akan cerah. Semoga!

"Aku berangkat ya, assalamualaikum." Ucap Andi setelah cium tangan dan meminta doa untuk hari ini. Hal yang sudah jadi kebiasaan sejak dulu. Meminta doa saat mau berangkat sekolah. Kata gurunya dahulu supaya hari berjalan dengan baik, jangan lupa salim dan minta doa ke orang tua. Nasihat yang mujarab dan bekerja dengan baik selama Andi berada di sekolahnya dulu.

Langkah kakinya berjalan dengan riang. Kepalanya tegak dengan dada kurusnya yang membusung. Terlihat betul ia bangga sekali dengan seragam barunya. Baju seragam putih biru yang agak kebesaran. Ditambah sepatu hitam yang mengkilap dan tas yang masih belum ada bekas coretan atau robek karena tercolok pensil. Perlengkapan baru untuk menemainya di dunia yang baru. Sangat pas bukan?

Agenda hari ini adalah upacara penerimaan murid baru. Setelah melewati masa orientasi siswa yang lumayan melelahkan, rasanya hari ini bisa menjadi obat bagi para siswa baru. Karena pada hari ini mereka akan diresmikan sebagai murid dengan seragam putih biru.

Siswa dan siswi sudah berbaris rapih di lapangan sekolah. Andi menjadi salah satu diantaranya. Ia beridiri di barisan kelas 7a, tempat dia akan menetap selama 2 semester ke depan. Upacara di mulai dengan rangkaian persiapan upacara. Setiap ketua kelas menyiapkan barisan, melapor dan seterusnya.

Kemudian upacara memasuki acara inti. Mulai dari pengibaran bendera merah putih. Pembacaraan tesk pancasila dan pembukaan undang-undang dasar. Amanat dari pemibina upacara. Menyanyikan lagu wajib. Pengucapan janji siswa dan secara simbolis peresmian siswa baru dengan memangsakan dasi dan topi kepada perwakilan siswa baru yang mendapat nilai ujian masuk paling tinggi.

Upacara hari ini begitu hikmat. Apalagi bagi para murid baru di SMP ini. Denga suka rela mereka menikmati panasnya matahari pagi tanpa mengeluh. Termasuk untuk andi. Sedari awal ia mengikuti rangkaian upacara dengan hikmat. Mendengarkan amanat dari pembina upacara. Mengucapkan janji siswa bahkan sampai bulu khuduknya merinding. Baginya ini adalah fase penting. Sebagai ceremonial penyambutan untuk awal yang baru. Karena setelah ini perjalanan masa mudanya pasti tidak akan sedatar waktu ia duduk di bangku sekolah dasar.

***

[teeettt teeettt teetttt] bunyi bel jam istirahat berakhir.

Ramai suasana kelas siang ini. Semua asik dengan lingkaran sosial masing-masing. Banyak macam obrolan yang menggema di ruang kelas. Mulai dari sekedar basa-basi, sampai obrolan acak yang dilempar begitu saja. Maklum baru seminggu kami sekolah dengan seragam putih biru ini. Banyak orang yang sedang melakukan pendekatan, mencari-cari orang yang kiranya nyambung untuk dijadikan teman. Sementara andi sedang asik melihat rizki melanjutkan gambar robot yang ada di buku tulisnya.

[tok tok tok] suara ketukan pintu

"Assalamulaikum" ucap seorang guru sambil berjalan memasuki ruang kelas.

Ia seorang perempuan hampir tua. Mungkin umurnya sekitar 40an. Terlihat dari garis muka dan cara berpakainnya yang sangat normal. Di tangannya sebuah buku paket dan LKS matematika bersandar dengan nyaman. Tapi sepertinya nyaman itu tidak hadir di dalam kelas ini.

Kotak SuratTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang