"Lo udah bangun?" Kini suaranya yang lembut, memasuki telingaku. Matanya menatapku dengan tatapan matanya yang unik.

Mata itu.

Angga. Kok bisa?

Aku langsung terduduk diam sambil menatap matanya. Ya Tuhan kenapa matanya indah? Aku masih tak bisa berkata apapun mulutku.. seperti di gembok, dan kuncinya hilang.

"Ada yang sakit?"

DEG

JANTUNG GUE BERDEGUP SANGAT KENCANG. YA TUHAN GUE KENAPAA.

Tangannya memegang pipiku,"Lo masih panas, minum obat dulu, tapi makan dulu, gue suapin ya?"

MIMPI KALI YA, KENAPA ANGGA ADA DISINI COBA? YA TUHAN KENAPA MIMPI INI KAYAK NYATA

PLAAAAKKK

Aku menampar pipiku sendiri. Aku sangat amat tak percaya dengan yang terjadi. Percaya ga percaya pipiku sakit. Ini nyata.

"Lo kenapa nampar pipi lo sendiri? inii makannn" Kini tangannya menyondorkan ku sendok dengan makanan ke mulutku. Dia menyuapiku dengan hati hati

Kini aku mulai membuka mulutku untuk bicara.

"Kenapa lo bisa disini? lo ga sekolah?"kini mataku menatap matanya. setiap kali kami bertatapan mataku serasa tak bisa bergerak. Matanya sangat indah. Ayolahh kalian harus menatap matanya juga.

"Gafrin kakak sepupu lo kan? tadi jam setengah 7 gue mempir rencananya mau ngajak lo bareng, tapi katanya lo sakit. bang Gafrin kan mau kuliah jadi gue bilang gue bisa ngejaga lo, selama bang Gafrin kuliah."

"Jadi... lo ga sekolah?"

"Ya enggaklah, asalnya yang mau nemenin lo Anggi, cuman gue ngerasa bersalah juga sama lo, jadi gue yang jagain lo"

"Ini bukan ToD lagi kan?"kini aku mengerutkan dahiku.

"Bukan, woles aja La. ortu lo kemana?"

"Kerja Ga" aku menjawabnya malas.

Angga menemaniku hari ini. kami bercanda dan tertawa bersama. ia mengukir sebuah senyuman di wajahku. Meski terkadang tingkahnya yang tak masuk akal membuat senyumku hidup. Aku menyukainya dari dulu.

"Lo inget gue ga sih?" Sampai kata kata yang dari dulu ingin kuungkapkan kini terungkap.

"Maksud lo?"

"Ihh lo inget ga dulu"

-Flshbck-

Hari ini, aku pergi ke sebuah tempat. Tempat di mana aku bisa melampiaskan kekesalanku. Aku pergi ke perpustakaan kota.

Hari ini, musim hujan. Hanya sekolahku yang diliburkan.

Aku menaiki bis, bis kota tepatnya. Bisnya sudah penuh terpaksa aku harus berdiri bergelantungan

Aku melihatnya di belakangku. Laki laki dengan tinggi setinggi Fikri. Mata yang unik, wajah yang ganteng. Dia cogan.

Aku melirik namanya.

Angga

Ohh ternyata namanya Angga. Bapak bapak di depanku mundur-mundur terus, alhasil kan aku hampir jatuh, tapi untung aja ada dia, Angga. Dia memegang bahuku supaya aku tak terjatuh sambil menyelipkan sebuah kata kata "Hati hati"

Mataku dan matanya pada saat itu bertatapan. Jarak antara kami mungkin sekitar 10 cm, cukup jauh memang karena dia tinggi.

Menurut kalian hanya karena itu aku terpikat padanya? Jelas tidak.

Stalker✨Baca cerita ini secara GRATIS!