2

133 12 0
                                              

Lekat-lekat, Farah melihat pantulan dirinya dari cermin di kamar mandi. Dirinya bukan hanya sekali memakai pakaian setransparan ini, tapi tetap saja ia masih merasa malu untuk berada dalam balutan lingerie berwarna coklat tua yang baru saja ia dapat.

"Gimana di kamu? Let me see!" sumber suara itu begitu terdengar demanding penuh harapan agar segera bisa melihat apa yang segera ingin dia lihat.

Tubuh Farah terperanjat, ia sempat lupa bahwa ia sedang video call. Memang Farah sengaja menyimpan ponselnya dengan kamera menghadap kearah lain. Ia ingin membuat orang di sebrang sana menunggu dengan harap-harap cemas. Setelah merapikan rambutnya yang padahal sudah rapi, Farah meraih ponselnya untuk diletakkan secara benar dan menyorot dirinya.

Respon yang Farah dapat masih sama sejak bagaimana ia pertama kali memperlihatkan dirinya dalam pakaian setransparan ini. Dengan tanpa diminta, Farah memperlihatkan penampilannya dari sisi depan dan belakang.

"Suka?" tanya Farah.

"Farah, sayang! Kamu selalu bisa untuk bikin aku pengen cepet pulang." Ucapnya dengan antusias dari lubuk hati paling dalam.

Farah terkekeh. Ia melihat sosok kekasihnya yang berada di Kota lain itu dengan antusias yang sama. "Kenapa aku tiba-tiba dikirim yang baru?"

"Aku lagi mau makan roti sebelum berangkat kerja tadi, aku punya beberapa selai dan aku milih Hershey's. Terus aku ingat kamu belum punya warna coklat tua, aku segera pesan dan minta antar ke kamu on the same day. Supaya aku bisa lihat sneak peeknya. I think a little sneak peek won't hurt. Tapi malah bikin aku kesakitan banget begitu sadar harus nunggu 3 hari lagi untuk bisa lihat langsung." Terangnya panjang lebar mendeskripsikan apa yang ia alami.

"Kamu nih ada-ada aja! Terus kamu bukannya istirahat malah mantengin ponsel!"

"It's been a tough week buatku. Bisa bersama kamu di weekend nanti merupakan pelipur laraku."

"Ya Tuhan, Adri! Kayaknya emang beneran lagi minggu berat ya, sampe kamu mendayu-dayu gini! Ok, sekarang, kamu makan malam. Terus siap-siap untuk besok kerja yang bener then you'll get all of me in weekend."

"Wow!! Kamu benar-benar memotivasi aku dijalan yang bagus. Ok, sayang udahan dulu kalo begitu. I love you, Farahku."

"I love you too, Dri." Farah lantas menutup sambungan. Ia sama rindunya dengan Adi. Tapi dirinya terus memberikan afirmasi positif agar bisa kuat karena hanya 3 hari lagi mereka akan bertemu.

Adrion adalah pacarnya dalam setengah tahun terakhir. Dikenalkan oleh temannya teman Farah pada di pesta ulang tahun kenalan mereka berdua. Beberapa bulan perkenalan membuat Farah tertarik pada sosok Adrion yang tulus, baik hati, berpikiran luas dan begitu sabar. Dan kesamaannya, mereka berdua adalah 'pelancong' sehingga memang mengandalkan satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari. Itulah yang membuat mereka memutuskan untuk tinggal bersama.

Farah kembali memakai piyamanya setelah melakukan sedikit pertunjukan barusan. Setelah menempatkan lingerienya kembali ke dalam kotak, Farah melanjutkan masakan yang barusan ia jeda karena mendapati orang mengirimkannya paket dari salah satu toko underwear terkenal. Dengan satu nama yang ada di otaknya, maka Farah lantas mendial kontak orang tersebut untuk dimintai keterangan dan benar saja. Itu dari Adrion.

Lagipula itu untuk kekasihnya, maka Farah tidak merasa keberatan. Adrion merupakan satu-satunya orang yang melindungi Farah dalam perantauan selama hampir satu tahun. Ya mereka berdua sudah saling kenal sejak beberapa minggu dari kepindahan Farah ke tempat tersebut. Sejak dari dalam lingkar pertemanan saja Farah sudah merasa bahwa Adrion begitu tulus menemaninya.

Ketika Farah dipaksa menerima kenyataan dari realita hidup lewat bunyi alarmnya, ia lantas memaksa dirinya untuk duduk sambil mengumpulkan nyawa. Melihat kembali ke atas nakas dimana ada satu figura foto yang menggambarkan dirinya dan Adrion saat kencan pertama setelah jadian membuat Farah mengembangkan senyum. Hari berpindah hari membuat Farah semakin yakin bahwa Adrion akan menjadi pelabuhan dalam hidupnya. Cepat atau lambat tidak masalah, selama Adrion selalu ada disampingnya.

Dalam balutan blazer berwarna putih gading sepinggang, tanktop khaki dan rok slim fit selutut berwarna putih gading, Farah lalu mengikat rambutnya menjadi sanggul kecil. Ia memakai kitten heels berwarna hitam dan tas yang sama lantas pergi menuju tempat kerjanya.

Setahun dia bekerja tentu memiliki tantangannya sendiri namun nyatanya ia betah untuk berada di La Blavski sebagai asisten front office manager. Banyak yang ia keluh kesahkan dalam profesinya namun lebih banyak yang ia syukuri selama menjabat posisi tersebut.

La Blavski merupakan hotel bintang empat yang memiliki cabang di beberapa negara dari hasil pengembangan hotel dengan nama yang sama yang berpusat di Eropa. Salah satu hal yang Farah syukuri menjadi bagian dari La Blavski adalah, dia selalu mendapat tamu dengan berbagai macam latar belakang karena memang La Blavski merupakan hotel yang cukup terkenal namanya.

"Good morning, Bu." Sapa beberapa crew front office yang sedang bersiap pulang di base setelah berganti shift.

"Morning. Terimakasih sudah bekerja dengan tulus." Salah satu dari bermacam compliment yang Farah berikan terhadap crewnya. Ia selalu memberikan afirmasi positif kepada crewnya atau orang yang bekerja bersamanya karena bagaimanapun Farah bekerja di bidang hospitality sehingga ia merasa bertanggung jawab untuk tetap ramah terhadap siapapun. "Hati-hati ya, pulangnya. Dan tetap jaga kesahatan." Lanjut Farah lagi.

Ia lantas menyimpan tasnya di meja setelah absen finger print, mengambil dokumen dari kumpulan map yang berada diatas meja, lantas Farah mulai memeriksa ulang draf atas jadwal kerja Receptionist, Concierge, Telephone Operator dan Guest Relation Officer yang akan diusul bulan depan guna perputaran shift dan jadwal. Hal ini disesuaikan atas evaluasi kinerja bulan ini. Farah berusaha untuk mencicil apa yang akan menjadi tanggung jawabnya kepada manager front office sehingga saat waktunya evaluasi kinerja yang dilakukan setiap akhir bulan dapat mendapatkan improvement kearah yang lebih baik.

Farah mencintai apa yang ia kerjakan. Mungkin saja nanti jika ada waktunya ia harus pindah perusahaan, maka Farah akan memilih untuk bekerja pada bidang yang sama. Tidak pernah ia pikir bahwa bidang hospitality akan semenyenangkan ini sehingga ia tidak terpikir olehnya akan menjajakan pekerjaan pada bidang lain. Farah harap ia bisa merasakan jenjang karir yang lebih baik pada bidang ini.

Terimakasih sudah voting❤️❤️

WORST DISTRACTION.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang