*Psst* Notice anything different? 👀 Find out more about Wattpad's new look!

Learn More

Sembilan

16.8K 1K 6

Pagi-pagi Sein meluncurkan mobilnya ke rumah Rin. Sein tampak sedikit kacau. Ia tak bisa tidur semalaman karena memikirkan gadis konyol itu. Beruntung Bibi Nin membukakan pintu untuknya. Ia tahu Rin sendiri. Ibunya hanya pulang sebulan sekali meski masih sama-sama di Jakarta.

" Rin.."

" Masuk saja, Tuan."

Sein mengangguk terima kasih. Ia segera menaiki anak tangga menuju ke kamar Rin. Pintunya terbuka sedikit.

" Rin, ini aku Sein." ucap Sein mengetuk kamar Rin.

Tak ada jawaban. Sein menguak pintu itu. Ada Rin yang masih meringkuk di tengah kasur besarnya. Sein mendekat pelan, tangannya terulur menyingkap anak rambut yang menutupi wajah Rin. Ia tersenyum lega melihat Rin baik-baik saja dan tengah terlelap dalam tidurnya.

Kau sangat cantik, Rin. Gumam Sein diantara senyumnya.

Rin menggeliat kala merasakan ada yang menyentuh lembut wajahnya.

" Bibi Nin, Rin masih ingin tidur." sahutnya manja dengan mata masih terpejam.

Sein terkekeh. Rin sangat menggemaskan pagi ini.

" Hey, wake up, Baby." bisik Sein menjawil hidung kecilnya.

" Aargh! Kak Dan. Kau menyebalkan." geram Rin.

" Come on, wake up!" bisik Sein lagi, menahan geli.

Rin mengerjabkan matanya. Ia bersiap menyemprot siapa saja yang berani mengganggu tidurnya. Namun Rin hanya terbengong ketika matanya menangkap sosok pria asing tengah menatap gemas padanya. Rin mengerjabkan matanya sekali lagi.

" This is me, Sein, Baby."

" Sein?!!!"

Rin terlonjak bangun dari tidurnya. Matanya membulat, mulutnya yang terbuka lebar tertutup separuhnya dengan ketiga jarinya. Sein melebarkan senyumnya.

" Sein, kau nampak kacau sekali." ucap Rin mengamati wajah Sein.

Tangannya menyentuh dagu Sein lembut.

" Hey, kau baik-baik saja?"

Rin mengangguk. Ia bergeser ke tepi ranjang, memeluk hangat Sein.

" Araz akan pulang dalam waktu dekat. Ia akan melamarku."

Sejenak Sein memejamkan matanya, meyakinkan hatinya kalau saat ini hatinya baik-baik saja.

" Bisa kau ulangi sekali lagi?" pinta Sein lirih.

" Ia akan melamarku, Sein."

" Kau akan menerimanya? Oh, aku salah. Tentu saja kau akan menerimanya. Karena kau sangat mencintainya, bukan?"

Rin terdiam. Ia menatap pria yang tengah tertawa lirih tak jelas. Sein menertawakan dirinya sendiri.

" Jika aku tak menerimanya apa kau akan menikahiku?"

Sein terpaku. Pertanyaan Rin membuat tubuhnya sedikit menegang.

Tentu saja, Rin. Karena aku mencintaimu, menginginkanmu. Takkan kubiarkan ada pria lain yang memilikimu apalagi dekat denganmu.

" Sein.."

" Apa itu berarti kau siap menerimaku?" tanya Sein sendu.

Rin mengangguk.

" Aku tau aku hanya pelarianmu saja."

" Sein, aku sudah bilang, bantu aku."

" Bagaimana bisa aku membantumu sedang kamu masih berhubungan dengannya, Rin?"

MOVE ON??Baca cerita ini secara GRATIS!