Hembusan angin sejuk menyentuh wajahku, lembut bagai belaian. Aku memejamkan mata, menikmati keteduhan di bawah pohon tempatku bersandar bersama seorang pria. Saat kelopak bunga gugur dan jatuh di antara kami, aku tahu ini bukan sekadar kebetulan.
Aku mengenalnya begitu baik. Mata birunya berkilau bagaikan riak ombak, kontras dengan surai hitam legam yang tergerai indah. Aku tak pernah membayangkan jarak kami bisa sedekat ini—semuanya terasa bagai mimpi.
Senyum merekah di bibirku saat jemarinya menyentuh pipiku. Hangat, lembut, membuatku merasa seakan aku satu-satunya wanita yang ia cintai. Langit senja menjadi saksi, mewarnai pertemuan itu dengan cahaya keemasan. Aku meraih tangannya, menahannya di wajahku. Ia pun mendekat, hingga kening kami bersentuhan. Dengan mata terpejam, aku menangkup kedua pipinya, seakan tak ingin melepaskan momen itu.
Namun kata-katanya datang, lirih tapi menghancurkan.
"Maafkan aku... aku mencintai wanita lain."
Aku terbelalak. Air mata jatuh tanpa bisa kutahan. "Maafkan aku, Al," ucapnya lagi, sebelum berbalik meninggalkanku seorang diri.
Langit yang tadi berwarna senja berubah muram, lalu pekat. Hujan deras mengguyur, guntur menggelegar, dan udara mendadak menusuk tulang. Surai putihku basah dan lepek, gaun putihku ternoda tanah cokelat. Namun aku tak peduli.
Aku menangis sejadi-jadinya, suara parauku nyaris bercampur dengan dentuman langit. Mengapa aku selalu ditinggalkan? Mengapa dunia begitu kejam padaku?
Sakit.
Sesak.
Kecewa.
Semuanya bertumpuk, menenggelamkanku.
Hingga pandanganku jatuh pada sebuah belati, entah dari mana datangnya. Aku meraihnya dengan tangan gemetar. Mungkin... ini jalan keluar. Bukankah tak ada lagi yang menginginkanku?
Kugenggam gagang belati itu erat, menahannya di depan dadaku. Jantungku berdegup tak beraturan. Tepat ketika aku hendak mengakhirinya, kilat menyambar, guntur menggelegar begitu keras hingga tubuhku tersentak.
Tunggu.. itu tadi mimpi?
BẠN ĐANG ĐỌC
Alhena
Viễn tưởngMimpi. Bagi kebanyakan orang, ia hanyalah bunga tidur-sekilas bayangan yang datang lalu menghilang begitu saja. Tidak nyata, sering terputus, dan jarang meninggalkan jejak. Namun, bagiku mimpi bukan sekadar ilusi. Ia begitu hidup, seolah menyulam du...
