Part 6

1.3K 70 0

. greyson .

Aku kembali ke kamar dan langsung membaringkan badan di atas kasur. Pikiranku mulai tak beres. Seketika memikirkan tentang permasalahan yang sedang dihadapi Merri dan juga pacarnya. Aku mendengar banyak cerita dari teman-temanku yang hubungannya sedang tidak baik. Namun mendengar cerita Merri, seperti membuatku juga ikut pada kelelahannya dalam menjalani hubungannya. Aku berharap semoga hubungannya segera membaik.

--

"Greyson, bangunlah". Aku mendengar suara Staci tepat sekali di telinga kiriku. “Hey, Greyson. Bangunlah"

"Hmm". Aku kembali menarik selimutku. "Lima menit lagi"

Staci menarik selimutku. "Aku benci jika kau mengatakan itu. Ayolah. Merri sudah menunggu kita dibawah untuk sarapan"

Aku membuka mataku dan bangun dari kasur. "Jam berapa sekarang?"

"Enam pagi. Cepatlah!"

"Iya iya", kataku.

"Aku akan menunggumu dibawah"

"Okay"

Staci membuka pintu dan keluar. Baru saja aku ingin membaringkan badanku, Staci kembali membuka pintu kamarku. "Greyson. Bangunlah!"

"Aku bangun", kataku sambil berdiri dan segera menuju kamar mandi.

--

“Selamat pagi”, kataku menyapa semuanya termasuk Merri.

“Selamat pagi juga Greyson", kata Staci.

"Merri?", sapaku. Dia diam saja. "Selamat pagi"

"Selamat pagi, Greyson", katanya seraya tersenyum padaku. "Bagaimana tidurmu?"

"Aku masih mengantuk", kataku. "Kau bagaimana?"

"Lumayan", katanya. "Lebih baik kita mengambil makanan karena kita tidak memiliki waktu yang banyak"

"Kalian duluan saja", ujar Staci. "Aku ingin mengecek para kru"

"Baiklah kalau begitu", kataku sambil bangkit dari kursi. "Ayo, Merri"

Merri mengikutiku menuju bagian tempat pengambilan makan.

"Kau mau apa?", tanyaku.

"Roti saja"

Kami berdua menuju bagian roti. Merri mengambil roti dan mulai mengoleskan mentega diatasnya. "Bagaimana perasaanmu?"

Dia melihatku masih sambil mengoles. "Lumayan. Terimakasih, Greyson"

"Kau terlihat berbeda sekali hari ini. Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa", katanya.

Aku tahu dia berbohong. Dia bukan seperti Merri yang semalam. Dia begitu tertutup dan bukan seperti dirinya hari ini. "Ada apa?"

Dia diam. Sebelum dia pergi, aku tarik lengannya dan meremasnya. Dia mendengus. "Lepaskan Greyson"

"Katakan"

"Aku tak bisa terlalu dekat dengan artis-ku", katanya dan melepas paksa genggamanku.

Aku kembali duduk di meja dengan Merri sementara Staci mengambil makanan bersama seluruh kru-ku. "Kenapa kau tak bisa terlalu dekat dengan artis-mu?"

Merri masih tak mau menjawab. Jadi aku injak saja kakinya. Dia berjengit. "Bisakah kau tak banyak bertanya?"

"Apa susahnya tinggal menjawab?"

"Aku tak bisa", jawabnya lalu pergi.

Tak berapa lama Staci datang. "Dimana Merri?"

"Tak tahu". Aku langsung diam sambil menghabiskan sarapanku.

--

"Aku tidak mau naik mobil ini", kataku bersikukuh pada Staci sebelum memasuki mobil yang akan membawa kami semua ke venue. "Dimana Merri?"

"Aku tak tahu", kata Staci.

Aku bertanya pada supir mobil itu. "Dimana bos-mu?"

"Maksud anda Nona Merri?"

"Siapa lagi?"

Supir itu menggeleng. "Aku tidak tahu, Tuan"

Tak lama Mercedes Putih masuk ke dalam lobby. Itu mobilnya Merri. Dia keluar mobil dan menuju mobil yang akan aku naiki dan Staci. "Apa yang terjadi?"

"Greyson tak ingin naik mobil ini", kata Staci geram. "Mungkin kau bisa membantu?"

"Ada apa Greyson?"

"Aku tak ingin naik mobil ini. Aku bisa mual"

"Lalu kau mau naik mobil apa?"

"Aku ingin naik mobil bersamamu", kataku. "Kau tak keberatan 'kan?"

Merri melihat Staci yang sedang menunggu jawaban. "Baiklah kalau itu yang kau mau. Kau naik mobil bersamaku"

Aku segera menuju mobil Merri. Saat Merri sudah menyalakan mesin dan menuju jalanan Jakarta. "Kau belum menjawab pertanyaanku"

"Pertanyaan yang mana?"

"Kenapa kau tak bisa terlalu dengan artis-mu?"

Dia menghela nafas dan menghembuskannya perlahan. "Karena itu adalah perjanjian yang telah kubuat selama aku menjadi seorang promotor dan tak akan ku langgar"

"Kenapa kau berubah?"

"Itu adalah sebuah profesionalitas", katanya. "Aku harus tahu dimana aku harus menempatkan diriku saat sedang dan tidak sedang bekerja"

"Jadi kau memiliki dua kepribadian?"

"Tidak"

"Jika tidak kenapa kau harus menjadi berbeda?"

"Oh ayolah Greyson, kenapa kau menanyakan hal ini padaku? Kau tahu, hanya kau saja artis-ku yang mempersalahkan masalah ini"

"Itu karena aku peduli padamu"

Dia diam.

"Jadilah dirimu yang aku temui semalam. Bukan seperti ini. Aku seperti harus berkenalan lagi dengan kepribadianmu yang ini"

"Baiklah", katanya. "Aku akan melakukannya"

"Akhirnya"

"Kau kenapa?"

"Tidak. Aku hanya senang bahwa kau tak harus berpura-pura lagi di depanku"

[ BOOK 1 ] - D I V E | Greyson ChanceRead this story for FREE!