*Psst* Notice anything different? 👀 Find out more about Wattpad's new look!

Learn More

Dua

23.8K 1.2K 4

Rin menghentikan larinya. Nafasnya sudah satu dua. Ia terduduk lemas di warung tenda yang cukup ramai. Amara tak kalah ngos-ngosannya dengan Rin.

" Ulahmu membuatku lelah harus berlari seperti dikejar seekor anjing." protes Amara setelah meneguk habis satu botol air minum yang baru saja Rin ambil dari lemari pendingin di warung tenda itu.

" Jadi kau menyalahkanku?"

Rin tak terima. Amara menjawab dengan anggukan kepala. Keduanya terdiam mengatur napas.

" Ra, untuk apa kita lari?"

Amara mendelik. Rin bertanya untuk apa? Bukankah tadi dia yang menjerit histeris dengan paniknya menyuruh untuk segera berlari dari pria asing itu?

" Kau kenapa menyuruhku?" sungut Amara.

" Pria itu terlalu ganteng untuk kita lewatkan! Oh, God. Bodoh! Kenapa tadi aku berteriak menyuruhmu untuk berlari?" gumam Rin menyesali keputusannya.

" Hey, hanya karena pria asing itu ganteng terus kau menyesali perbuatanmu? Rin. Oh, God! Rasanya aku perlu melapor pada Araz."

" Kau mau tidak?" tanya Rin menggoda Amara dengan kedipan matanya.

" Sinting!" umpat Amara.

Rin terkekeh. Sekilas ia melihat Amara tersenyum tak jelas. Ia tau sahabatnya mulai tergoda. Rin memang suka menggoda Amara untuk hal yang cukup tidak baik. Cowok!! Bukan yang lain.

" Akhirnya aku menemukan kalian."

Rin tersentak. Pria asing nan handsome itu!!! Ia berdiri tepat di belakang Rin. Rin menegang saat pria itu mengambil duduk di sampingnya. Pria itu mengulum senyum melihat ketakutan dan kepanikan yang melanda gadis itu.

" Kau tak berniat untuk meminta maaf padaku?" tanya pria asing itu menjengitkan alisnya.

Rin menggeleng cepat.

" Baik. Aku akan membawa paksa kameramu..."

" Jangan!!" potong Rin cepat.

" Berarti.."

" Okey, aku minta maaf sudah mengambil gambarmu tanpa ijin." ucap Rin cepat.

Rin menundukkan kepalanya. Kakinya sengaja menyenggol kaki Amara yang sedari tadi hanya diam terpana menatap pria asing itu.

" Aku pasti memaafkanmu tapi tidak semudah itu."

Rin mendelik. Apa yang akan pria itu lakukan padanya? Jangan-jangan dia akan memaksa Rin untuk kencan semalam dengannya. Tidak! Tidak! Atau bisa saja pria itu meminta uang ganti rugi sekian juta. Tunggu!! ganti rugi? Kenapa pria itu merasa dirugikan? Tidak ada yang berkurang dari tubuh pria itu, bukan? Rin bergidik ngeri membayangkan hal-hal buruk yang akan pria itu lakukan padanya.

" Aku bukan pria mesum seperti yang sedang kau bayangkan!!"

Rin menoleh cepat menatap pria itu. Bagaimana ia bisa tau kalau Rin sedang berpikir yang tidak-tidak tentang pria itu.

" Wajahmu mengatakan semuanya." ujar pria itu santai.

" Jadi..."

" Siapa namamu?" tanya pria itu.

" Amara!!"

" Rin!" celetuk Amara tak terima.

Pria itu mengerutkan keningnya menatap kedua gadis itu yang saling melotot.

" Jadi Amara atau Rin sebenarnya?"

" Rin." ucap Amara cepat.

Rin mengerucutkan bibirnya sambil mengumpat tak jelas. Sekali lagi ia mendelik ke arah Amara yang menjulurkan lidahnya.

MOVE ON??Baca cerita ini secara GRATIS!