Enam : Gebetan

Mulai dari awal

Aku sama sekali tidak menjawab pertanyaan bang Gafrin. Melirik saja aku gak. Tujuanku saat ini hanya kamar. Aku akan merenungkan semuanya.

Aku sampai di kamar atau menurutku tempat rahasia di mana aku menyembunyikan perasaan perasaan aku di sana. Aku membukkan jendela kamar. Aku merentangkan tangan sambil tiduran.

"aku mengaku pada kalian, aku akan menyakatakan kepada kalian yang sebenarnya, aku sudah sejak lama nge stalk Angga, aku pertama kali bertemu dengannya setahun yang lalu, di Bis umum. Aku jatuh hati padanya saat itu juga. Alasan aku pindah ke sekolah ini juga karena dia. Sebenarnya dulu dia sempat nge tweet, dan kini tweet-tweetnya telah ia hapus dan berubah menjadi re-tweetan. Aku mengaku, aku bisa satu perempat melupakan Fikri karena Angga. Sebenernya aku mengganggap Angga sebagai gebetan. Dari dulu."

Tiba tiba saja air mata mengalir ke pipiku. Oke aku kecewa dengan kata katanya yang ternyata hanya sebuah ToD. Untung saja aku tidak terlalu berharap. 

Bayangkan aja deh kalo kalian ada di posisi kayak gue? Ga bisa di jelaskan, perasaan hancur. Tapi apa kalian pikir dengan begini aku tidak akan menyukai Angga lagi? Oh jelas aku tetap menyukainya. Masalah seperti ini akan segera kulupakan dan aku akan merasa semuanya tidak terjadi.

Kini air mataku terbawa tidur. Oke aku ketiduran, tapi setelah ku lihat jam, kini jam menuju angka 3 sore, berarti aku hanya terlelap 30 menit. Benar, aku selalu sampai di rumah sekitar pukul 2 siang. Dan hari ini aku sampai di rumah jam 2 lebih 15. 15 menitnya aku merenungkan kejadian.

Nada dering hpkuu berbunyi. ada telfon rupanya. Tanpa nomor. Lalu? siapa dia?

-via telefon-

Keyla : Siapa?

...... : Ini.. gue.. maaf ya La

Keyla: siapa?

Tut..tut..tut..tut..

Telefonnya sudah dia matikan. Dia siapa? Aku ga bakalan ambil pusing. Aku mulai membuka social media. Sebuah notifikasi muncul di layar handphoneku, ada line masuk, dari Angga.

Tunggu! Sejak kapan aku dan Angga menjadi teman di line? ketika aku melihat, ternyata dia menambahkanku sebagai teman dari no telepon. Jangan jangan yang tadi nelfon Angga? Iya sih suaranya emang ga asing. Tapi gue gak boleh berharap.

-LINE-

Angga : La, maaf yaa

Keyla : ....... (cuman di read)

Angga: La, maaf. La, maaf.

Keyla : Ya

Percakapan berakhir.

sebenarnya aku malas untuk membalas pesannya itu. pesan yang malah akan terus mengigatku tentang kejadian memalukan tadi. Pas ngangguk tampang aku tuh sungguh caleuy, watados culun gajelas. BETE.

Aku melihat lihat tl Angga. Dia ga berubah. Dulu aku sempat berteman dengan Angga di linenya yang lama. Isi Timelinenya? gaada. Sekarang? gaada. Dia ga berubah.

Klik

Tapi.

Tak sengaja ku melihat timeline Fikri. Kepencet.

JLEB

Kulihat ada foto di postnya, foto bersama seorang perempuan, rasa cemburu? kalian pasti bisa menebaknya aku merasakan kecemburuan, sedikit kok cuman sedikit.

Fikri dengan matanya yang hitam, wajah yang menawan, senyum yang manis. Perempuan itu.. seperti gadis blasteran Indonesia-Belanda. Perempuan itu.. perempuan yang terakhir kupergoki berdua dengan Fikri di taman, taman kota. Pada saat itu kupergoki Fikri sedang leor dengan perempuan itu.. leor? Fikri mencium kening perempuan itu tepat di depan mataku dan.. Bang Gafrin.

Kalian pasti tau.

Bagaimana perasaanku pada saat itu. perasaanku hancur, hancur.. ketika kejadian itu berlangsung aku.. nanti akan aku ceritakan.

Perlu kalian tau, setiap kali aku melihat emot "❤" entah aku harus senang atau sedih. Yang jelas emot itu.. emot tang selalu Fikri berikan kepadaku. Aku menyukai Fikri, Fikri.. cowok yang.. ah sudalah, aku sudah cukup galau dengan hari ini, aku tak akan menambahkan kegalauanku hanya dengan orang yang sudah berlalu.

Tokktokkk

Seseorang membuka pintu kamarku sambil membawa makan nasi dan coklat dingin.

Bang Gafrin.

"Bang.."

entah deh gue makan apaan yang jelas pas gue natep bang Gafrin, air mata gue turun (lagi) dengan sendirinya. Tatapan mataku kini tertuju pada mata Bang Gafrin.

Bang Gafrin segera menghampiriku, memelukku, mengelus rambutku.

"La kamu kenapa?"

Aku tak menjawab pertanyaan bang Gafrin, aku hanya terus menangis, semakin keras, sampai mataku.. bengkak? oke jika aku menangis berlebihan mataku bengkak.

"Okey, sekarang lo nangis aja di pelukkan abang, sampai lo puas, nangis aja meski itu ga akan menyelesaikan masalah yang lo hadapi emang gue gatau masalahnya, tapi emang itulah hukumnya menangis gaakan menyelesaikan masalah"

bang Gafrin...

ada benarnya menangis tak akan menyelesaikan masalah, tapi setidaknya bagiku menangis membuatku tenang.

"Lo panas La" kini bang Gafrin menyuruhku untuk kembali tiduran.

Aku di selimuti dengan selimut hadiah pemberian dari kakekku. bang Gafrin merawatku, aku senang melihat bang Gafrin seperti ini.

Dari dulu bang Gafrin selalu begini. Jika aku sakit, ia yang paling perhatian. bang Gafrin bisa di sebut sebagai orang tua bagiku. jika aku bukan saudara bang Gafrin, mungkin dari kecil aku sudah menyukai bang Gafrin.

Kalian tau? jelas tidak.

Wajah raut bang Gafrin ketika panik, sangat amat lucu, aku suka raut wajahnya! aku akan menceritakan kepada kalian sedikit tentang bang Gafrin.

Bang Gafrin

Gafrin Affi Manovo, yaitulah nama panjang bang Gafrin. mataku dan bang Gafrin sama, sama sama agak sipit. Senyum bang Gafrin sangat indah dilihat. senyumannya.. seakan akan membuat dunia tenang. Tapi kemarahannya seakan akan dunia tak aman. Aku dan bang Gafrin dari kecil selalu bermain bersama. Umurku dan bang Gafrin tak jauh beda. bang Gafrin kini sedang kuliah, bang Gafrin memiliki pacar? Tidak dia tak pernah berani menembak seseorang. bang Gafrin adalah anak dari kakak ibuku. bang Gafrin tak memiliki adik, ia sama denganku anak tunggal. bang Gafrin juga tinggalnya sama denganku di Indonesia, kami setahun sekali mengunjungi nenek dan kakek kami yang berada di Korea. bang Gafrin juga yang menyebabkan aku putus dengan Fikri, sesuatu yang berhubungan dengan Fikri akan aku ceritakan lain kali.

Sampai sampai, aku kembali tertidur. Aku tertidur tanpa mimpi. kosong. aku terbangun dengan terik matahari yang sangat menyorot ke mataku. Ya kamarku dekat dengan jendela, kamarku berada di atas.

"ini udah siang?" aku berkata dalam hati sambil mengucek ngucek mataku.

Aku membuka mataku. Aku melihat seorang anak laki laki duduk di sampingku sambil memegang tanganku, kepalanya tertunduk, bang Gafrin kah? tidak jelas dia bukan bang Gafrin, rambutnya berbeda. rambut ini mirip rambut.

Angga?

Kini aku melihat jam yang berada di meja belajarku, jam itu menunjukan pukul 8 pagi. Hah? Gamungkin kan kalo itu Angga? mimpi gue aja kali ya kalau itu Angga? tapi rambutnya.. terus gamungkinkan orang sekarang sekolah kok

Aku terus menatap rambut itu.

Kini ia sudah tak menundukkan kembali kepalanya, kini kepalanya terangkat dan wajahnya sudah terlihat. Matanya yang indah..

**********
HAI!

Duh gaje banget yaa wkwk, semoga suka deh yaa! maaf kalo aku telat nge post✌

Bantu Vote sama commentnya makasih......

Stalker✨Baca cerita ini secara GRATIS!