Perkenalan

109 4 0

 Bagian 1

       “Hallo...ini siapa?”,Dara mengangkat telepon yang sedari tadi mengganggunya, namun tak ada jawaban hingga akhirnya Dara pun mengakhiri telepon tersebut.

        Dara adalah gadis kecil yang begitu cerdas. Ia kini duduk di bangku X SMA Favorit dikota. Tak pernah mengenal lelah, begitulah keseharian Dara. Setiap hari Dara bangun ketika mentari belum tampak, pagi sekali. Ia menyapu dan mengepel semua lantai dirumahnya, termasuk membersihkan teras rumah. Dara tinggal disebuah  dusun kecil yang sangat jauh dari kota tempat ia bersekolah. Namun tetap, ia tak pernah mengenal lelah. Semangat belajarnya yang begitu tinggi membuatnya tetap bertahan dan terus maju. Mencari ilmu walau badai menerjang dan terik memekik.

        Suatu hari, Dara sedang bersantai sembari menyandarkan tubuhnya diteras rumah, ia nampak begitu lelah. Sedangkan handphonenya terus saja berdering. Betapa kesalnya Dara karena telepon yang iseng itu. Bagaimana tidak, diangkat tak ada yang bicara, dimatikan malah telepon lagi. Dara mulai muak dengan itu dan dia pun akhirnya menonaktifkan handphonenya. Ia merasa lega dan lebih nyaman tanpa handphone. Kemudian ia bernyanyi dan melantunkan syair-syair lagu yang begitu disukai olehnya.

Cobalah mengerti semua ini mencari arti...
Selamanya takkan berhenti...

Ketika Dara sedang asyik, tiba-tiba seseorang datang dan memanggil namanya.

“Ra...main yuk!”,panggil teman Dara yang bernama Sinta itu.

“Sinta...”,Dara menghampiri Sinta didekat pagar, “main kemana? Aku lagi ngadem disini nih, lain kali aja ya...”

“Please ra... Sekali ini aja, aku lagi pengen banget jalan, kemana pun itu. Yang penting aku nggak Cuma diam aja. Kamu mau nemenin aku kan Ra?”,pinta Sinta dengan wajah agak murung. Dara yang melihatnya pun tak tega.

“Ya udah, ayo...”, jawab dara akhirnya

                                                                                        ***

 Bagian 2

        “Kok nomornya nggak aktif ya?”, ucap laki-laki yang masih memegang handphone itu, “apa aku mengganggunya?”

      Akhirnya ia meletakkan handphone disampingnya, tak sibuk lagi karena nomor tujuannya sudah tidak aktif lagi. Dialah yang sedari tadi menelepon Dara. Menelepon namun tak mau bicara, menelepon lagi dan tak mau bicara lagi. Dia mulai merasa jadi pengganggu Dara, dan diapun tak lagi menelepon.

        Lelaki itu adalah Christian. Badannya tegap, kulitnya putih, dan rambutnya agak pirang. Begitu tampan, dan sangat menarik perhatian semua wanita yang melihat. Christian, kalian pasti berfikir, dia beragama kristen bukan? Ya...itu dulu. Jauh sebelum dia pindah ke Indonesia. Dahulu, Christian adalah seorang beragama Kristen. Ayahnya, Pak Ihsan beragama Islam sementara ibunya, Ibu maria beragama Kristen karena kedua orangtuanya. Begitu juga Christian yang akhirnya sempat beragama Kristen, karena nenek dan kakeknya yang memaksa. Namun sekarang Christian sudah menjadi seorang Muallaf. Pengetahuan tentang Islam yang dimiliki Christian belum seberapa, tapi berkat bantuan kakek neneknya di Indonesia lah, ia terus belajar dan belajar untuk mendalami Islam dan menjadi anak yang sholeh.

        Christian terkenal sangat ramah dan baik hati. Selain itu, ketampanannya juga yang membuat semua orang mau bergaul dengannya. Dia tidak pernah pilih-pilih, apalagi membedakan antara yang satu dengan lainnya berdasarkan materi atau wajahnya. Siapa pun pasti akan senang bila mengenal Christian. Kini ia duduk di bangku kelas XII SMA, sama dengan SMA tempat Dara bersekolah. Sejak kedatangan dara disekolah itu, Christian jadi lebih rajin, lebih pintar, dan lebih segalanya. Setiap hari Christian selalu mengamati Dara, walaupun dari kejauhan saja. Nampaknya Christian telah jatuh hati pada seorang Dara, Love At The First Sight.

Ini Hidupku !Baca cerita ini secara GRATIS!