Run 6

21 0 0

“Kenapa mobil lo ga dipake sih Gar?”

Gue ga habis pikir, sama otak dia, jelas-jelas dia punya mobil, kenapa ga dipake  buat lari? Akan lebih efisien jika kami pake mobil dia, bukan  jalan kaki kaya gini, dengan posisi  gue harus mapah dia.

“Biar lo kurusan Jen”

Spontan gue langsung mlotot ke arahnya. Dia tatap balik gue, dengan tatapan tak bersalah.

“Maksud lo, gue gendut gitu?”

Dia cuman mengangkat bahu acuh. Bikin gue masang muka garang di depanya.

Haish, ternyata efek pukulan gempur berdampak pada kosletnya otak Garry.

“Gue bercanda Jen. Terlalu berbahaya kalo kita pergi pake mobil gue. Mereka pasti akan lebih mudah mengenali kita.”

Kening gue mengkerut. Selama beberapa detik mencerna maksud perkataan Garry, lalu mengangguk lemah, setelah mengerti arti ucapanya.

“Terus kenapa kita ga lewat jalan utama aja? Kan lebih cepet, ga muter-muter kaya gini. Mana lebih jauh lagi”

Gue masih memberondonginya pertanyaan yang lain.

“Karena gue yakin, gempur dkk bakal menghadang laju lari kita jika kita lewat jalan utama. Gue hapal banget sama sifat dia, sebelum dia mendapatkan sesuatu yang dia inginkan dia ga bakal nyerah.”

Gue mengangguk. Jadi begitu. Logis juga sih alasan Garry ini.

Kami melanjutkan perjalanan. Menyusuri gang-gang kecil, pemukiman sekitar Surabaya.

“Kok kita pake lo-guean lagi ya Jen?”

Gue tertawa. Baru nyadar, ternyata panggilan kami jadi berubah.

“Iya juga sih Gar. kok gue baru sadar yak?”

Di ujung gang, sudah ada mobil box  menunggu kami. Sang sopir langsung turun dari bangku kemudi, membantu Garry naik ke mobilnya. Jangan bayangkan kami bakal naik di ruang kemudi, melainkan kami naik di bagian belakang, diantara bejubelnya sembako yang diangkut oleh sang sopir.

Gue masih berdiri mematung, belum nggeh sama tujuan Garry.

“Dek, Ayo naik”

Panggilan kami kembali berubah. Garry mengulurkan tanganya, bantu gue naik ke dalam mobil.

“Kenapa harus truk sih Mas? Kenapa ga yang lain aja?”

Gue menggerutu, mengikuti Garry yang udah duduk di pojokan. Si sopir langsung balik kanan, masuk ke ruang kemudi, dan menjalankan mobilnya.

“Biar ga ketahuan,Dek. mereka pasti ngiranya, mobil box ini kaya mobil box yang lain, yang cuman ngangkutin barang-barang doang, tanpa ada manusia di dalamnya.”

Meskipun penjelasan Garry rasional di kepala gue, tapi bagi gue ini tetep ga lazim buat digunain. Tanpa sadar bibir gue udah maju lima centi,mirip omas.  Gue sebel lah, kenapa harus mobil box sih? Mana harus desek-desekan sama sembako lagi. beruntung, ini mobil pintunya ga dikunci. Kalo dikunci, ga tau deh, nanti gimana. Megap-megap kali gue.

“Dek, Marah ya?”

Gue diem. Ga nanggepin. Masih tetep monyongin bibir. Garry pun ikutan diem, mungkin dia peka, kalo gue lagi sebel.  Pilihan bijak, daripada dia kena semprot gue.

Selama beberapa menit, kami saling diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga keheningan diantara kami dipecahkan oleh suara dering dari handphone Garry. Buru-buru mengangkat panggilan si penelpon.

“Iya Lang, ada apa?”

Gue menoleh, memperhatikan Garry. Dari jarak sedekat ini, luka-luka lebam dia terlihat jelas. Bahkan terlalu jelas.

“Gue udah tau lang, kalo mereka nungguin gue di jalan utama.”

“Iya gue ga papa. Gue udah di mobil kok. thanks ya lang”

Telfon terputus. Segera Garry mematikan hadphonenya, dan mematahkan kartu yang selama ini dia gunakan.

Dia menoleh ke arah gue yang tengah memperhatikan dia.

“Kenapa?”

Gue menggeleng. mengambil obat dari kantong kresek. Gue ambil kapas, betadine, dan langsung menempelkanya di luka lebam Garry.

“Tahan sedikit”

Gue mengingatkan, ketika dia mulai meringis kesakitan.Tangan gue terus bergerak, mengobati setiap luka yang ditimbulkan oleh Gempur.

“Pekerjaan kamu gimana?”

Gue kembali membubuhkan betadine ke kapas, menempelkanya ke pipi Garry yang belum diobati.

“Pilihanya dua, kalo ga dipecat, ya keluar. Tapi kayaknya lebih condong yang ke satu deh, habis tadi Mas langsung pergi gitu aja.”

Gue terkekeh, masih mengelapi pipinya.

“Kamu udah ga marah sama Mas?”

“Siapa yang marah?”

Gue balik tanya, pura-pura bego. Padahal tau maksud dia.

Garry berdecak kesal, menyingkirkan tangan gue dari wajahnya, dan membunuh jarak yang diantara kami.

“Mau main-main hem?”

Garry semakin mendekati wajahnya, yang bikin gue kelabakan. Gue Semakin memundurkan badan  ke belakan, terus dan menerus hingga badan gue udah mentok, ga bisa bergerak lagi. Di belakang gue udah ada setumpuk sembako yang menghalangi pergerakan gue.

Mampus, gue kudu ngapain ini,sedangkan di hadapan gue, Garry semakin mendekat, tersenyum misterius, yang bikin gue pengin nelen dia idup-idup.

Dia terus mendekat, kepalanya sudah sempurna dimiringkan, dan hanya tinggal beberapa centi wajah kami bertemu, ketika tiba-tiba gue tubrukin kening gue ke kening dia. spontan dia mengaduh kesakitan, memegangi kening dia yang tadi gue tubruk pake kening gue.

“Sangar lo Jen. Sakit nih kening gue”

“Makanya jangan mesum deh. Inget tempat napa. Ini bukan kamar Garry” ucap gue tanpa dosa.

Dia mencebikkan bibirnya. Dia menoleh, dengan senyum misterius yang masih dia tampakkan.

“Berarti kalo di kamar, boleh gitu ya?”

“Kalo gue inget. Lagian kita mau ke mana sih?”

Garry menghela napas kasar. Masih memegangi kening dia yang  tadi gue tubruk.

“Ntar kamu juga tau. Pokoknya kamu pasti suka deh”

Gue cuman diem, tak berkomentar lagi.

Something About LoveBaca cerita ini secara GRATIS!