For every story tagged #WattPride this month, Wattpad will donate $1 to the ILGA
Pen Your Pride

Lemon and mint

90 10 1

Masa remaja memang masa-masa yang sulit. Itulah kata-kata yang selalu ada dalam benakku. Kadang aku begitu takut untuk melangkah ke depan. Takut akan hal buruk yang kadang kala terjadi. Takut untuk mengambil sedikit resiko. Tentang pekerjaan rumah dan tugas yang begitu banyaknya, teman-teman sebaya, atau bahkan dengan perasaanku sendiri. Perasaan yang lembut seperti kapas, takut untuk terluka. Aku, Bianca, seorang gadis biasa yang sama sekali tidak menonjol, dan sedang mencari jati diri.

            Hari ini seharusnya menjadi hari yang cerah seperti biasanya. Awan diatas sana terlihat seputih kapas, matahari juga tersenyum menyambut datangnya pagi. Tapi kenangan masa itu telah kembali lagi. Aku mengingatnya, sangat mengingatnya dengan jelas, mengingatnya seperti semuanya baru terjadi kemaren sore. Aku tak akan pernah bisa melupakan wajah itu, wajah orang yang telah membuat hatiku menjadi sedingin dan sebeku es. Orang yang telah memberi serta menghapus warna dalam hidupku. Wajah Liang yang takkan pernah bisa aku lupakan sampai kapanpun juga. Bukan kerena aku benci atau dendam kepadanya, tapi kenangan yang ditinggalkannya terhadapku membuat aku sakit. Aku akui memang aku kesal terhadapnya, bahkan sangat kesal, kesal yang hampir sama kadarnya dengan benci. Aku merasa dikhianati.

            Pagi ini Liang berdiri tepat di depan rumahku, di sebelah pohon mangga tempat dimana biasanya dia menungguku. Entah sejak berapa lama dia berdiri disana. Aku tak mampu menyapanya, rasanya berat sekali untuk bertemu dengannya lagi setelah apa yang telah ia lakukan. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat sangat tidak bersemangat, aku tak tahu apa yang telah terjadi kepadanya. Aku berjalan keluar rumah, mencoba untuk tak mengacuhkannya.

            “Bi, aku minta maaf,” Katanya kemudian, dengan suara yang teramat pelan, hampir tak terdengar.

            Aku tak menjawab apapun, bahkan melihat ke arahnyapun tidak. Aku hanya terus berjalan.

“Aku minta maaf Bi, aku mengaku salah, aku telah menyakitimu, tapi please Bi, maafin aku.” Katanya sekali lagi dengan nada memelas, kali ini dia menahan langkahku dengan memegang salah satu lenganku.

Aku berbalik menghadapnya dan melontarkan senyuman termanisku.

“Aku sudah memaafkanmu kok.” Dengan jawaban itu aku berbalik dan meninggalkannya. Hatiku sakit, sakit sekali, aku hanya berharap dengan jawaban itu dia takkan pernah muncul dihadapanku lagi. Hanya itu harapanku.

Aku memang tak bisa berkonsentrasi sepanjang pagi, semua pelajaran yang aku terima tak bisa masuk ke dalam otakku, hanya lewat saja. Kepalaku pusing, terasa seperti ada suatu beban besar yang tak kelihatan bertengger di kepalaku. Beban yang selama ini tak pernah bisa aku hilangkan, hanya aku pendam. Dan akhirnya beban itu kini muncul lagi ketika aku bertemu kembali dengan Liang. Akhirnya aku meminta izin untuk pergi ke ruang kesehatan. Disana aku terbaring sendirian, berusaha untuk memikirkan satu saja hal yang menyenangkan.

Kejadian tadi pagi memang sangat mengganggu pikiranku. Seperti baru sedetik tadi aku bertemu dengan Liang, wajah Liang selalu saja tergambar tanpa sadar. Meskipun aku berusaha untuk memikirkan hal yang lain, wajah Liang selalu saja muncul disela-sela pikiran itu. Bahkan semakin aku mencoba untuk melupakannya, semakin jelas wajah Liang yang tergambar. Perasaanku semakin sakit. Aku memang takkan pernah bisa melupakannnya sampai kapanpun. Liang, cinta pertamaku.

***

Malam ini aku teringat lagi kejadian itu. Kejadian dimana aku bertemu Liang untuk pertama kalinya. Sebelumnya, aku merupakan seorang gadis yang kekanak-kanakan dan selalu riang, kadang malah terlalu berlebihan, tapi aku mempunyai hukum sendiri dalam kehidupanku. Hukum yang selalu aku patuhi, dan aku berjanji untuk tak pernah sekalipun melanggar hukum itu. Aku memang tak sekalipun melanggarnya, sampai akhirnya Liang datang dan masuk dalam kehidupanku.

Lemon MintBaca cerita ini secara GRATIS!