For every story tagged #WattPride this month, Wattpad will donate $1 to the ILGA
Pen Your Pride

Mamy Buat Lily (5)

2.2K 122 0

Jika Bukan Dia Siapa Lagi

Toni

Erin tersenyum. Itulah yang kulihat lewat kaca spion mobilku. Aku melihatnya sekilas. Sejak aku mengenalnya aku tak pernah  melihatnya benar-benar tersenyum.

Aku tahu satu dari banyak alasan mengapa Erin tidak bisa tersenyum dan aku tak akan memberitahu siapapun alasan itu. Aku akan jadi manusia terjahat dimatanya jika aku sampai membongkarnya. Itu pasti. Dia selalu melirik sinis pada setiap orang yang berani mengusik hidupnya.

Erin.

Dia bersembunyi dari pergaulan.  Aku tidak mengerti kenapa.

Aku mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Saat Erin membujuk Lily. Erin yang bisa bicara banyak dengan Lily. Tapi kenapa dia tak bisa bicara banyak pada orang orang.

Erin jarang menyapa orang yang jelas dikenalnya.

Erin tak pernah mau banyak bicara tentang hal yang tidak berhubungan dengan kepentingannya. Kecuali saat tadi dia menanyakan maminya Lily. Nindy.

Ah kenapa aku menyebut nama maminya Lily lagi.

Perasaan bodoh ini tiba- tiba menjalar ke seluruh tubuhku.

Aku menghentikan mobilku. Mengatur kembali emosiku.

Aku merindukan Nindy.

Apalagi disaat sulit seperti ini.

*

Empat hari Lily dirawat di rumah sakit. Akhirnya dokter mengizinkannya pulang.

Tiga sahabat almarhum maminya Lily. Vina, Juwe, dan Nita hampir tiap hari datang menenggok. Mama senang dan Omanya Lily juga senang mereka mau jengguk Lily. Tapi setiap kali mereka mendekati Lily, Lily ngambek.

Atau saat mereka mencoba menghentikan tangisan Lily, bukannya berhenti Lily tambah ngamuk ng mau ditolong.

Ah Lily... Bisa aja ngerjain mereka.

Dan ini dimulai lagi. Bikin pusing dan frustasi. Omanya Lily mendesakku untuk menyerahkan Lily padanya. Aku tahu Lily adalah cucu mereka satu satunya dan akan tetap menjadi satu-satunya mengingat maminya Lily anak tunggal. Tapi aku tak mungkin melepaskan Lily karena banyak alasan.

Setiap hari selama empat hari ini Mama mertua setiap ada kesempatan selalu mendesakku.

" Biarkan Lily tinggal sama kita!" ucapnya ketika ikut membawa barang-barang Lily ke mobil.

"Tolong Ma beri aku satu kesempatan lagi?" bujukku.

"Kesempatan macam apa itu? Kamu tak bisa memberinya perhatian sebagai ibu?" ungkapnya blak blakan. Apa dia sadar apa yang dia omongin.

" Maap. Apa Mama juga bisa memberinya kasih sayang ibu?"  tanyaku telak. Aku jenggah. Hilang sudah kehati-hatianku dalam menilai perasaan orang yang kuhormati.

" Kamu tak seharusnya bicara seperti itu?" ungkapnya tersinggung dengan kata-kataku. Aku membanting tas ditanganku. Habis sudah kesabaranku.

Aku tak mengomentari ucapanya dan mengambil Lily dari gendongan Dodi. Membawa Lily menjauh dari mereka semua. Tak bisakah hidup tenang barang sehari tanpa di ganggu masalah macam ini???

Brengsek!

Aku memangku Lily di ayuan taman. Kutenangkan emosiku. Mengembalikan akal sehatku. Sakitnya Lily. Desakan Omanya. Dan kerjaan yang memburuku. Ah galau beratt.

"Mas disini?" Doni menyusulku dan duduk di ayunan sebelahku.

"Mas nggak ingin pulang apa?" katanya sambil melihat Lily yang sudah terlelap di pangkuanku.

LiliLoveBaca cerita ini secara GRATIS!