Gilina tak henti berdoa selama diperjalanan, agar Ano tidak terluka terlalu parah, dadanya sesak memikirkan apa yang menimpa Ano.

"Permisi saya Bundanya Ano, bagaimana keadaan anak saya" Gilina terlihat panik dan bertanya keadaan Ano kepada salah satu guru yang bertugas di meja piket.

"Oh Bundanya Ano ya, Ano tidak apa-apa Bunda hanya lecet aja di keningnya, tadi dia terlalu semangat bermain dengan teman-temannya dan tidak sadar menginjak lobang dan terjatuh" Gilina membuang nafas tanda bersyukur setelah mendengar penjelasan guru piket tadi.

"Sekarang Ano dimana Ibu?" Tanyanya lagi, Guru piket tadi menunjukkan jalan menuju UKS dan ketika memasuki ruang UKS Gilina melihat Ano tertawa dengan teman-temannya,bahkan seperti tidak terjadi apa-apa.

"Bunda...." teriak Ano girang, Gilina menghampiri Ano dan melihat luka di keningnya.

"Ano gak apa-apa Bun, hanya lecet kecil aja kok, teacher aja yang terlalu heboh, lihat deh cuma lecet biasa" Ano membuka perban dan memperlihatkan luka kecil, tapi tetap saja Gilina merasa bersalah membuat tubuh anaknya terluka.

"Kamu sukses buat Bunda kalang kabut, Bunda bahkan kabur begitu saja setelah menabrak orang, aduh bagaimana kalo orang tadi terluka"  Gilina menoel hidung bangir Ano dan dibalas dengan cengengesan ala Ano, gaya yang sangat menyerupai Jilino.

"Maafin Ano Bun, gak ulang lagi deh lari-lariannya asal Bunda gak sedih lagi" Ano mengusap pipi Gilina dan itu cukup membuat Gilina bangga mempunyai anak pengertian dan baik hati.

"Ya udah, kamu ke mobil dulu... Bunda mau bicara dengan teacher kamu dulu" Ano mengangguk dan menerima kunci mobil yang diberikan Gilina.

Setelah melihat Ano pergi, Gilina keluar dari ruang UKS dan mencari guru kelas Ano diruang guru.

"Saya Bundanya Ano, Teacher Selmi ada?" Tanya Gilina ramah, seorang guru pria menunjuk ruang disamping mejanya tanpa sedikitpun menoleh kearahnya, Gilina mendengus kesal.

"Sok banget sih" rutuk hati Gilina menerima perlakuan tidak menyenangkan dari guru lelaki tadi.

Tok tok tok

Gilina mengetuk pintu dan membukanya pelan, teacher Selmi sedang membaca buku pelajaran melihat kearah pintu dan tersenyum ramah.

"Bunda Gilina, silahkan masuk... maaf kita harus bertemu dalam keadaan seperti ini" teacher Selmi menyalami Gilina dan menyuruhnya untuk duduk.

"Bunda minum apa?" Tawar teacher Selmi, Gilina menggeleng dan duduk dihadapan Teacher Selmi.

"Saya kaget teacher menghubungi saya dan mendengar Ano jatuh membuat dada saya sakit" teacher Selmi mengerti dan mengangguk, teacher Selmi membuka lacinya dan mengeluarkan selembar kertas.

"Tadi di kelas kami belajar mengambar dan saya meminta anak-anak melukis apapun yang mereka inginkan dimasa depan dan saya terpukau dengan lukisannya" lembaran kertas itu diserahkan teacher Selmi kepada Gilina, lukisan yang tidak bisa dibilang bagus dan sempurna tapi apa yang ingin disampaikan Ano melalui lukisan mampu membuat airmata Gilina tumpah ruah, selama ini Ia bertahan dengan tidak menangis lagi, tapi melihat lukisan Ia, Ano dan sosok ayah membuat Gilina merasa terpukul dan terluka.

"Saya tau Ano anak yatim, saya sudah mendengar apa yang terjadi dengan ayahnya, anak seumur Ano sedang membutuhkan kasih sayang serta perhatian dari sosok ayah, melihat lukisan ini siapapun akan menitikkan airmata" ujar teacher Selmi, Gilina tertawa pelan dan menghapus airmatanya.

"Ayahnya memang sudah meninggal, tapi dihati saya dan Ano ayahnya masih hidup dan selalu menjaga kami" teacher Selmi tersenyum dan mengangguk tanda setuju.

2. GilinanoBaca cerita ini secara GRATIS!