Nebula Sebelah Rumah - Monica Veralda

89 2 1
                                    

Mungkin ini akan terdengar seperti cerita cinta

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mungkin ini akan terdengar seperti cerita cinta. Boleh, kan? Lagian, tidak ada manusia di dunia ini yang bisa hidup tanpa cinta. Aku akan berusaha menyampaikannya tanpa terdengar seperti orang yang sedang kasmaran.

Dengarkan dirimu sendiri. Mudah sekali. Itu hal yang sudah kulakukan bertahun-tahun. Mungkin pada kasus ini, aku terlalu lama mendengarkan diriku sendiri tanpa mendengar orang lain. Jadi, ini cerita tentang mendengarkan diri sendiri yang suaranya berasal dari orang lain.

Banyak hal di masa laluku yang kurang menyenangkan. Hal itu membuatku menanamkan sebuah pemikiran toksik; aku tidak layak mendapatkan cinta. Aku bukan orang baik. Jadi, buat apa aku mendapatkan dan merasakan cinta?

Bertahun-tahun aku hidup dalam lingkaran setan buatanku sendiri. Aku mulai menyerah soal 'cinta' ini. Heh. Cinta hanya untuk orang-orang lemah yang tidak tahu caranya hidup sendiri. Aku? Aku bisa. Aku kuat. Akan kubuat benteng pertahanan penangkal cinta. Pemikiran itu terus bertumbuh dan berkembang dalam benakku, sampai aku mati rasa.

Lalu, dia datang dan berkata:

"Ya, memang. Cinta itu aneh. Berantakan. Menyeramkan. Cinta membuat kita mengatakan dan melakukan hal-hal yang seharusnya tidak kita lakukan. Itulah mengapa cinta bukan sesuatu yang ingin kita lakukan sendirian."

"Cinta? Mungkin ada mereka yang cukup beruntung dan menemukan cinta sejatinya, tapi itu hanya satu dari sekian banyak! Pernikahan dilakukan sebagai formalitas, tuntutan sosial dan budaya. Aku sudah cukup dewasa untuk mengetahui bahwa cinta akan memudar seiring berjalannya waktu. Ikatan pernikahan hanya sebuah tali yang mempersatukan dua individu, yang pada akhirnya akan menipis dan— kalau mereka tidak cukup kuat untuk mempertahankannya— putus."

Ah, buang-buang waktu saja. Banyak hal lain yang bisa kulakukan untuk diriku sendiri.

Lalu, dia datang lagi: "Ya, memang. Tidak semua orang bisa mempertahankannya, tapi aku akan menanggung resikonya."

"Tidak, terima kasih. Cinta hanya akan membuatmu terpuruk. Tenggelam sedalam Palung Mariana. Aku sudah merasakannya. Aku tahu kamu juga sudah merasakannya. Aku bisa melihatnya di matamu."

"Aku setuju. Tapi cinta juga akan mengangkatmu. Mengangkatmu sampai ke langit, ke angkasa sana yang tidak pernah kamu lihat. Tidakkah kau ingin melihatnya bersamaku?"

"Aku..."

"Aku tahu impianmu adalah untuk melihat lahirnya bintang baru dari tengah gumpalan nebula. Sambil menunggu ia lahir, kita bisa duduk berdua di tengah planet kecil sambil membangun rumah untuk kita tinggali."

"Tidak, tidak. Terlalu banyak ketidakpastian. Terlalu tinggi resikonya. Apa yang terjadi bila bintang itu akhirnya mati? Semua bintang akan mati, kau tahu itu, kan?"

"Kita akan cari nebula baru, planet baru. Alam semesta tidak terbatas! Banyak yang bisa kita temukan."

"Tapi..."

"Bila kau tanya 1000 kali, jawabanku tetap sama. Aku akan mengambil resikonya. Karena kesempatan yang kita miliki sekarang besar peluangnya bahkan lebih kecil dari peluang seseorang tersambar petir."

Aku tertawa kecil.

"Kau aneh."

"Ya, begitulah. Aku memang aneh. Maaf bila aku sering bercanda. Itu memang sifatku. Tapi aku tidak bercanda soal perasaanku. Oke. Apakah kamu sudah siap?"

"Siap apa?"

"Aku sudah menemukan rumah untuk kita tinggali. Kita. Itulah rumahnya. Aku, kamu, di dalam 'kita'."

Lagi-lagi aku tertawa. Kali ini, dia menggenggam tanganku sambil tersenyum.

"Ayo, kita pulang."

Suara bising dalam benakku perlahan surut, digantikan suaranya yang tenang. Aku terhanyut dalam gelombang hangat yang terasa asing, namun di saat yang sama, terasa akrab.

Aku tahu aku tidak bisa meyakinkan diriku bahwa dialah yang sejati. Tapi, suaranya mengingatkanku pada diriku yang dulu. Aku yang penuh asa, aku yang naif, aku yang percaya akan keajaiban di dunia yang muram ini.

Dia suara masa laluku yang lama terpendam.

Aku meraih tangannya dan ikut tersenyum.

Untuk pertama kalinya, aku tidak menolak.

Suara dari Manzil: Handai TolanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang