PDKT-10

318 52 37
                                                  

Raut wajah Rena langsung lesu saat tahu bahwa Adara pagi ini jatuh sakit. "Yahh, Raaaa. Lo beneran gak ikut nih?"

Padahal Rena sudah bahagia sekali ketika Adara telah sampai di villa mereka tadi malam. Dan seharusnya pagi ini mereka pergi berwisata. Namun sayangnya badan Adara tiba-tiba panas dan kepalanya pusing sehingga ia tak bisa ikut pergi.

"Enggak, Ren. Kepala gue pusing banget nih. Kalian aja yang pergi. Ntar gue nyusul deh kalau misalnya kondisi gue membaik," kata Adara yang saat ini masih terbaring di atas kasur sambil mencium minyak kayu putih dan memijat dahi.

"Yaudah deh," kata Rena yang tak bisa memaksa. Ia menatap ke arah Roland yang barusan datang ke kamar mereka untuk memberikan minyak kayu putih kepada Adara lalu berbaring di sofa. "Jagain ya, Lan. Jangan ngebo mulu lo."

"Iyaa. Dah pergi sana lu," kata Roland dengan kode tangan menyuruh Rena untuk cepat-cepat pergi.

"Dih, kok ngusir sih?" Sewot Rena langsung. Ia mengambil tasnya karena sudah bersiap mau pergi.

"Ya gue kan mau berduaan ama ayang gue," balas Roland sambil memeletkan lidahnya pada Rena.

Rena menatapnya sinis sambil berkacak pinggang. "Jangan diapa-apain anak orang! Gue aduin tante Rosa baru tau rasa lu!"

"Duhh, cerewer banget sih. Ntar Adara makin pusing nih denger ocehan lo."

Rena pun memilih untuk tak memedulikan Roland. Ia berkata pada Adara, "Gue pergi ya, Ra. Kalau pengen nitip atau apa chat gue aja."

"Okey. Hati-hati," balas Adara sambil melambaikan tangannya. Rena pun pergi meninggalkan mereka berdua.

Roland langsung berdiri dan mendekati Adara yang kini matanya mulai terpejam.

"Sarapan dulu yuk baru bobo lagi," ajak Roland agar perut Adara terisi.

"Males ah," tolak Adara. Ia tak merasa lapar.

"Gak boleh males. Ntar yang ada makin sakit," kata Roland yang tak mau dibantah. "Badannya masih panas ya?" Roland pun mengulurkan tangannya untuk memeriksa dahi Adara. "Tuhkan. Duduk dulu, biar gue yang ambil sarapannya."

Roland berjalan keluar kamar untuk mengambil sarapan yang diletakkan di meja makan. Setelah itu ia kembali ke kamar Adara dengan sepiring nasi goreng dan segelas air putih hangat.

"Lidah gue mati rasa, Lan," kata Adara saat dirinya terpaksa duduk untuk menuruti Roland.

"Lima suap aja," kata Roland yang kini ikut duduk di hadapan Adara sambil memegang piring dan sendok. Ia sudah bersiap untuk menyuapi Adara.

Namun Adara masih berusaha untuk menolaknya. "Gak enak."

"Lima suap aja sayang," kata Roland lagi agar Adara luluh.

Adara tanpa sadar menatapnya sinis. Entah kenapa ia merasa merinding jika mendengar Roland memanggilnya dengan sebutan sayang. "Jangan panggil gue sayang."

"Lima suap aja, Adara," ulang Roland. Tapi Adara tetap tak mau.

"Males."

"Lima suappp ajaaaa."

Adara menatap Roland sebentar dan akhirnya menyetujuinya karena sadar bahwa ini tak akan selesai sebelum ia menuruti Roland. "Yaudah deh ah."

"Nah gitu dong."

Roland pun menyuapi nasi goreng tersebut kepada Adara. Ia bahkan memperlakukan Adara seperti anak kecil yang menjadikan sendok sebagai pesawat yang meluncur ke mulut Adara.

"Ihhh gue bukan anak kecil," protes Adara. Roland hanya tertawa.

Setelah selesai, Adara pun meminum obatnya dan kembali tidur agar kondisinya bisa lebih membaik. Roland mengusahakan segala cara agar Adara bisa nyaman dan tidur nyenyak.

PDKTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang