around the world

168 30 2
                                              

bertumpu pada sebelah hasta, direbahkannya kepala di atas meja yang langsung bersua dengan jendela menyuguhkan panorama langit biru batavia

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

bertumpu pada sebelah hasta, direbahkannya kepala di atas meja yang langsung bersua dengan jendela menyuguhkan panorama langit biru batavia. sudah berjam-jam duduk merunduk tak kunjung membuatnya lelah, yang dilakukannya hanya sibuk memutar bola dunia sembari melamun dan menambah beban dalam kepala.

"gue pengen keliling dunia." ocehan tak karuan terus keluar dari bilah ranumnya.

berkali-kali pula ia menghela napas penuh bagai manusia yang tak punya semangat hidup. suasana hatinya hari ini sedang buruk, atmosfer di sekitarnya jadi turut terasa redup.

"ayo, kita pergi bareng!" tanpa permisi, seperti biasa nawa datang dan langsung membuka pintu kamar. turut berbaur pada celotehan cetta perihal keinginan asal yang baru saja ia dengar.

lihat saja, sudah pasti berujung jadi wacana.

"emang lo mau kemana?"

melirik sekilas si pelaku pencipta gaduh, cetta hanya mengedikkan bahu tak acuh tanda ia jua tak tahu tempat mana yang ingin ia tuju.

rasanya menyenangkan, membayangkan esok setelah dewasa ia bisa bebas menjelajah tanpa tujuan dan bertualang ke segala penjuru dunia tanpa batas waktu.

namun, mendadak pikirannya terpaku pada ucapan arghi dua hari lalu. tepat di sisi lapangan sekolah ramai sukma di bawah sorot jingga bergurat kelabu.

tentang pemeran pengganti yang menyembuhkan patah hati. cetta menggeleng kepala, berupaya menepis seluruh pemikiran yang jauh di luar ekspektasi. karena, arghi tetaplah teman masa kecil yang tak pernah ia tunggu presensinya untuk kembali.

"arghi pasti cuma bercanda."

setelah berjam-jam duduk termenung di meja belajar, mungkin karena sudah merasa pegal. alhasil, gadis akasha dengan kaus kebesaran dan muka muram itu beralih posisi.

merebahkan raganya asal di atas lantai dingin, sembari memejam mata rapat-rapat berharap otaknya berhenti memikirkan sesuatu yang membuatnya lebih pusing lagi.

"nawa," panggilnya tanpa menoleh ke lawan bicara yang juga tengah fokus menatap layar gawai.

"hm?"

"na,"
"nawasena,"
"sena."

cetta tergelak seketika. tak memanggil nawa dengan nama itu— rasanya sudah cukup lama. seketika dia jadi rindu masa kecil. dengusan napas kesal sekaligus pasrah dari nawa menjadi penghibur bagi gadis akasha yang hari ini tampak kusut.

"iya, ada apa cantik?"

"lo punya pacar ya?"

"kalau punya, kenapa?"

sederet kalimat yang keluar dari bibir pemuda itu berhasil membuat cetta bangkit dari posisi berbaringnya. mengerjap mata berkali-kali, menetralkan reaksi kejut yang terlalu kentara. nawa yang merasa puas melihat ekspresi cetta malah menyuarakan tawa tanpa rasa bersalah.

"oh, beneran ya. padahal cuma iseng nanya."

"hehe. nggak, gue bercanda."

menggeser duduknya lebih dekat ke sebelah gadis yang kini tengah menatapnya malas, tangan jahilnya mulai beraksi mengacak rambut cetta dengan bebas.

"soalnya kasian kalau nanti gue punya pacar, manusia cengeng satu ini pasti bakal nangis gara-gara kesepian."

cetta masih ingat jelas, senyum manis itu dari dulu tak pernah berubah. kini satu hal yang sudah tak lagi sama dari dua belas tahun saling terbiasa, mengekang cara pandang atas perasaan bukanlah perkara mudah.

nawa, anak cengeng yang gemar bersenandika kala hujan turun itu sekarang sudah beranjak dewasa.

selepas beberapa sekon terdiam, nawa turut membaringkan raganya di atas lantai persis di sebelah cetta yang masih duduk menatap kosong dinding dengan wajah yang kembali suram. mendadak lengannya ditarik pelan, membuatnya jatuh pada posisi berbaring yang kelewat dekat pada sang adam.

"kenapa diem aja? lo marah ya sama gue?" katanya, dengan suara lirih nyaris berbisik.

"udah tau masih nanya." ingin sekali cetta berucap demikian, tapi ia tak bisa. dengan segala alasan, cetta berusaha membuat jarak yang tak terlalu gamblang.

"emang gue ada alesan buat marah? nggak ada, na. kalau lo punya pacar itu juga hak lo, gue nggak berhak ngelarang dan gue nggak bakal peduli."

ck, pembohong.

"udah sana nggak usah deket-deket, gerah."

sibuk membicarakan banyak hal─ entah perihal masa putih abu yang sebentar lagi akan berakhir, mendebatkan genre musik favorit nawa yang tak sesuai selera cetta, kartun yang selalu cetta tonton berulang kali, rencana setelah kelulusan, atau hobi nawa yang membuat cetta marah. perlahan, membuat sepasang kelopak mata itu digantung kantuk yang merangkap lelah.

lagu ladies and gentleman we are floating in space oleh spiritualized dari ipod hitam kesayangan nawa mengalun memenuhi kamar hangat sebagai melodi pelengkap dan siap menghantar sukma yang sudah nyaris rebah.

walau setengah terpejam masih sempat mulut cetta berceloteh, "selera lo klasik banget."

nawa hanya terkekeh dengan kelopak yang sudah tertutup sempurna. tarikan napas dalam terdengar setelahnya, meraup segala kenangan yang terselip dalam aroma khas ocean escape— varian favorit cetta. kalau-kalau suatu saat ia tak bisa lagi kembali ke sini.

kala lelap semakin memaksa untuk bermuara pada lautan mimpi di tengah hari yang sedikit demi sedikit tak lagi terang. sebab dalam beberapa jam mendatang, nabastala harus mengantar sang baskara pulang ke pelataran.

sayup-sayup di pendengaran seiring jemari yang terasa bergerak pelan mengusap surai, cetta menangkap untaian frasa yang nyaris tak terdengar jelas.

"ta, kalau nanti tiba-tiba gue keliling dunia sendirian nggak bareng lo. lo bakal marah nggak?"

"tapi seandainya itu beneran terjadi, gue janji untuk pulang secepatnya buat ketemu lo lagi."

ada suatu alasan bagi nawa untuk mengatakan kalimat itu saat kesadarannya tak lagi penuh.

beralasan berat dan tak sanggup, ia takut gadisnya menangis.

sebab, terlalu mustahil agar tetap bersama untuk waktu yang sangat panjang. dalam hidup tiap insan,  setidaknya akan bertemu perpisahan yang berakhir kehilangan.

dan kehilangan, pasti berakhir menyedihkan.

dan kehilangan, pasti berakhir menyedihkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

to be continue

penghujung dekap batavia, yedam.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang