MDIMH 2 - 01

36.1K 2.6K 118
                                    

Kalau ada typo,tolong dikoreksi^^

|HAPPY READING|

















Di depan sebuah rumah mewah, terdapat seorang remaja laki laki yang sedang sibuk mencuci sebuah mobil sambil sesekali bernyanyi dan menggoyangkan pantatnya.

Plak

Nyanyian dan goyangan remaja itu berhenti saat seseorang dengan tidak sopannya memukul pantat mulusnya.

"Papi ngapain mukul pantat Arvin?" tanya remaja itu pada orang yang memukul pantatnya.

"Nyuci mobil yang bener, jangan pake goyang segala. nggak malu kamu diliatin tetangga?" omel sang Papi.

"Bodoamat sama tetangga," sahut remaja itu cuek.

"Buruan nyuci mobilnya," ujar El kemudian melenggang memasuki rumahnya.

"Jangan lupa uang lima jutanya, pi!" teriak Arvin pada Pak El.

"Nggak ada lima juta ya Arvin!" teriak Zila dari dalam rumah.

Arvin hanya meringis mendengar teriakan Maminya. bisa-bisanya ia lupa kalau ada ibu negara di rumah, lenyap sudah uang lima jutanya.

Setelah selesai mencuci mobil milik El, Arvin memilih rebahan di atas sofa ruang keluarga sambil memainkan ponselnya. namun, kegiatan tak berlangsung lama akibat kedatangan adik ter-lucknut nya.

Bruk...

"Astaghfirullah," ucap Arvin meringis saat merasakan sakit di bagian perut akibat ulah adiknya yang dengan tidak sopannya duduk di atas perutnya.

"Kenapa, bang?" tanya bocah berusia 7 tahun itu dengan santai.

"Sakit bego!" seru Arvin ngegas.

"Mami! Bang Arvin ngatain aku bego!" teriak bocah itu  sambil berlari ke arah tangga.

"Arvin!" teriak Zila dari arah dapur.

"Ampun, dah, kalau bukan adek gue, udah gue tendang ke sungai Amazon," gerutu Arvin kesal. Remaja itu bangkit dan berjalan menuju kamarnya.

🐰🐰🐰

"Mas, kamu pergi deh," usir Zila pada El yang terus mengganggunya.

"Kamu usir aku?" tanya El polos.

"Iya, pergi sana. Yang jauh sekalian!" teriak Zila yang sudah kesal bukan main.

El yang mendengar teriakan Zila, langsung berlari keluar dapur sebelum telinga panas karena mendengar amukan istrinya itu.

Terdengar suara dering dari ponsel yang berhasil menghentikan langkah El. dirinya memilih duduk di atas sofa ruang keluarga untuk mengangkat sambungan video call dari anak perempuannya.

"Kok papi sih yang angkat?" tanya Ara sedikit kesal karena yang terpampang dilayar ponsel adalah wajah Papinya.

"Ya, jelas papi yang angkat, orang ini handphone Papi," jawab El nyolot.

"Ohh salah nomor ternyata. Mami mana?" tanya Ara mencari keberadaan Zila.

"Lagi di dapur," jawab El.

"Panggil dong, pi, kangen banget aku sama Mami," perintah Ara dengan tidak sopannya.

"Nggak sopan kamu nyuruh-nyuruh orang tua," sahut El yang menatap anaknya kesal.

"Nyadar juga kalau udah tua," ejek Ara pada El.

"Kamu kalau ada disini, udah Papi pites mbull," ucap Pak El gregetan.

"Papi, panggilin Mami," rengek Ara yang sudah menahan rindu pada maminya.

"SAYANG!! DICARIIN GEMBUL NIH!" teriak Pak El agar Zila mendengar suaranya.

Zila muncul dari arah dapur dengan tangan yang memegang sebuah piring berisi brownies kesukaan El.

"Nih," kata Zila sambil menyerahkan piring yang dipegang kepada El dan mengambil alih handphone El.

El berbinar saat Zila menyerahkan sepiring brownies padanya, dengan suka hati El menerima piring itu dan menyerahkan handphonenya pada Zila.

"Mami," ucap Ara bahagia saat sudah melihat wajah Maminya dilayar ponsel.

"Apa kabar? Sehatkan kamu disana?" tanya Zila pada Ara.

"Aku baik-baik aja, kok, Mami juga baik-baik ajakan disana?  Papi nggak macem-macemkan sama Mami? Jangan sampe aku pulang, langsung dapat kabar kalau Mami hamil," cerocos Ara yang membuat Zila terkekeh sedangkan El hanya mendengus kesal.

"Mami juga baik-baik aja, kamu tenang aja, Papi kamu nggak akan berani macem-macem sama Mami," jawab Zila yang membuat Ara bernafas lega.

"Kangen banget aku sama Mami," ucap Ara lesu. Sudah hampir tiga tahun ia pergi meninggalkan rumah untuk melanjutkan pendidikannya di London.

"Masa udah kangen, baru satu minggu yang lalu Mami sama Papi kesana," sahut Zila tertawa pelan. Baru satu minggu yang lalu dirinya dan El pergi ke London untuk menjenguk anak kesayangannya itu, masa sekarang anaknya udah kangen lagi.

"Udahlah, aku kuliah di Indonesia aja. disini nggak enak, nggak ada Mami sama Papi," ucap Ara yang membuat s El sontak menoleh.

"Boleh, mau Papi pesenin tiket pulang sekarang?" tanya El yang membuat Ara mengangguk antusias.

"Mau pi, kalau bisa keberangkatan hari ini," jawab Ara.

"Oke." sahut El sambil mengacuhkan jempolnya.

"Yakin kamu, mau pulang?" tanya Zila pada Ara.

"Yakin dong, mi. Lagian kuliah disini ataupun disana sama aja," jawab Ara.

"Udah ya, mi, aku mau packing dulu. bye-bye Mami." lanjut Ara dengan melambaikan tangannya.

Zila mengembalikan ponselnya kepada El.

"Mami, bang Arvin kunci aku di kamar mandi Mami!" teriak Kenan dari lantai atas.

"Heh bocil, kagak usah nuduh gue, lo," sahut Arvin yang ikut berteriak.

Zila mengelus dadanya sabar, dia heran kenapa anaknya bisa seperti itu kelakuannya.

"Anak kamu itu, Mas, pengen aku jual di Shopee," ucap Zila yang bangkit dan berjalan menuju lantai atas.

"Kelakuan kayak gitu dari siapa coba?" lirih El yang didengar oleh Zila.

Tanpa aba-aba, Zila melepas sandal yang dirinya pakai dan melemparnya ke arah El. tepat sasaran,sandal itu tepat mengenai kepala El.

"Aduh," ringis El dengan mengusap kepalanya yang terasa sangat sakit.

"Sakit, ya?" tanya Zila lembut.

El menganggukkan kepalanya.

"Syukurin, masih untung nggak aku lempar pakai pisau," ketus Zila dan melanjutkan jalannya menuju kamar Ken.

"Kejam amat."

🐰🐰🐰

Lanjut kagak nih?.....

Kalau lanjut vote dan komen sebanyak-banyaknya.

See you next part:)

SULTENG, 08 FEBRUARI 2021

|TO BE CONTINUED|

My Dosen Is My Husband 2 [Revisi]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang