Mamy Buat Lily (4)

2.7K 154 1

Mendekat dan Merapatlah

Erin
Aku terperangkap takdir. Again. Again. Again.

Aku memang merindukannya. Pertemuanku dengan Lily. Dia memberiku banyak semangat bahwa aku harus terus berjuang. Memperjuangkan apa yang menjadi tanggung jawabku.

Yes. Aku bukan bayi lagi aku adalah Erin yang harus menjadi dewasa menjalani hidupnya sesuai apa yang digariskan untukku.

Ya. Semangat itu datang. Aku bukan bayi yang bisanya cuma nanggis karena ng cukup tahu dunia.

Aku punya kemampuan dan tekad yang kuat. Aku bukan Lily si Bayi gaban unyu.

Dan saat semangat itu kendor. Allah mempertemukanku dengan Lily lagi. Apa Dia mencoba memperingatkanku bahwa aku bukan bayi gaban yang bisanya cuma nanggis duank.

Aku memejamkan mataku saat tetes- tetes darahku mulai mengalir ke selang menuju kantong darah. Donor ini benar- benar menyakitkan. Sungguh sis. Kenapa juga aku mau menolong Toni dari kecemasannya.

Mungkin karena aku berkaca pada diriku. Saat beberapa bulan lalu ayah drop dan aku begitu panik dan kelimpungan mencari bantuan kesana kemari. Aku dan Toni dalam kesulitan yang sama. Mencemaskan hal yang sama. Dan aku ingin Toni merasakan apa yang tak sempat aku alami selama enam bulan ini. Tapi aku punya Allah yang karena Dialah aku sanggup melaluinya walaupun dengan begitu banyak perjuangan.

"Mbak. Sudah selesai. Apa mbak merasa pusing atau mual?" tanya perawat yang sekarang mencopot selang dari lengan kiriku.

Aku membuka mataku. Rasanya emang sedikit kliyengan tapi masih sebatas normal untuk ku.

" Oh. Ngak kok. Aku hanya perlu duduk sebentar." aku bangun dari pembaringanku dan menatap hampa ke satu sudut ruangan mencoba berkonsentrasi agar staminaku pulih.

" Minum ini vitamin dan penambah darah." perawat itu menyodorkan dua butir obat yang segera kutelan.

" Dan ini juga minumlah nanti saat malam dan pagi harinya." Perawat menyodorkan lagi beberapa obat yang sudah dibungkus dalam wadah plastik.

" Terima kasih."

" Kami yang seharusnya berterima kasih." dia tersenyum tulus.

Aku membalas senyumnya yang tulus dengan senyuman getir. Aku berdiri dan merapikan penampilanku.

" Saya pamit."

Kemudian aku keluar dari ruang donor. Di luar ruangan wanita paruh baya menungguku.

" Kamu Erin kan?" sapanya.

" Iya."

" Terima kasih mau menolong cucu saya!" ungkapnya tulus.

Aku memberikan senyum. Setidaknya aku memberikan sedikit ketenangan padanya.

" Sama sama." jawabku lalu aku bergegas melanjutkan langkahku.

" Kamu mau kemana?" tanyanya.

" Saya harus segera kembali."

" Toni memintaku untuk menahanmu sampai dia datang." Dia mencoba menahanku. Apa aku bisa dihentikan dengan cara ini. Tidak.

" Maap tapi saya benar benar tidak bisa. Dan saya mengerti apa yang ingin disampaikannya. Katakan saja saya senang bisa membantu." ungkapku kemudian kembali melangkah.

" Tunggu. Setidaknya kamu melihat Lily. Bukankah dulu kamu yang menjaganya saat kami kehilangan dia?" katanya memperulur waktu.

Tapi bagaimana dia bisa tahu aku gadis yang sama yang menolong cucunya.

LiliLoveBaca cerita ini secara GRATIS!