Chapter 1 Hantu

50 1 1

        Hari ini begitu cerah untuk memulai aktivitas baru, seperti biasa, sebagai seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi terkenal di kotaku, berangkat ke kampus untuk berkuliah adalah agenda wajib. Hari ini rumah terasa sepi, tidak terdengar suara menggelegar kakak perempuanku, yang setiap pagi menelpon pacarnya dan marah-marah, mama yang biasanya mondar mandir di dapur juga tidak terlihat begitupun ayah yang biasanya sudah membuka Koran sebelum pergi kerja. Sejenak kulihat ada sepucuk surat di atas meja makan keluarga yang dibungkus dengan amplop merah yang begitu kontras dengan warna putih taplak meja. Sangat mudah sekali melihat surat yang menarik perhatian itu. Aku mengambil surat yang bertuliskan “SURAT KECIL UNTUK DANIEL” dan membukanya.

        “Alay banget sih” aku berbisik, Memang terkesan alay, ya begitulah keluargaku kami semua entah mengapa tercipta rada alay, contohnya kebiasaan mama yang setiap melakukan apapun harus dengan senyuman, gembira, dan optimise entah aku tidak bisa membayangkan ekspresi mama ketika buang air besar atau mengubur mayat kucing korban tabrak lari dengan ekspresi seperti itu, menyeramkan, creepy, intinya hal itu gak lazim. Contoh lainnya adalah kakak ku yang setiap bangun tidur harus melakukan ritual update status “SEMANGAT PAGI…..Aku siap memulai hari ini dengan gembira dan memancarkan keindahan ke semesta” di seluruh sosial media miliknya yag tidak jarang di like oleh ribuan temannya entah teman bayaran atau apa, kemudian dilanjutkan dengan menelpon pacarnya dengan suaranya yang TOA banget. Aku heran ada juga laki – laki yang mau dengan kaka ku, ya memang sih dia gak jelek – jelek amat.

        Ayahku yang begitu kritis dengan pola hidup sehat, selalu menyarankan kami anak-anaknya untuk exercise walaupun yang bergerak hanya jempol kaki karena malas banget ketika baru bangun tidur, masih malas-malasnya bergerak dan ngumpulkan nyawa, eh dipaksa bergerak, rasanya itu badan nambah beratnya 60 kilo, ga bisa gerak bro..minum air putih 8 gelas (kalau bisa lebih) menjadi hal yang wajib di keluarga kami. Mungkin dari semua anggota keluarga aku saja yang waras, MUNGKIN.

        Aku membuka lipatan surat itu, dan membaca isinya sambil berjalan menuju kulkas untuk mengambil susu. Isi surat itu tidak terlalu banyak tapi seperti yang kubilang tadi, rada ALAY.

Daniel, ini ayah dan mamamu nak, melalui surat ini, kami memberitahukan bahwasanya ayah dan ibumu ini sedang berangkat ke luar kota untuk urusan bisnis sekalian liburan selama seminggu. Kamu jangan nakal ya nak, uang jajanmu di tempat biasa, kalau mau makan beli aja, tapi ingat belinya harus ditempat yang bersih *kalau bisa masak sendiri* dan ingat selalu optimis dan gembira dan jangan lupa olahraga dan minum air putih 8 gelas sehari. Kami akan selalu merindukanmu nak.

 

P.S: mobil dibawa kakakmu liburan dengan temannya, pakai motor saja, tapi kayaknya ban-nya bocor jadi kami serahkan semuanya ke tanganmu…kamu pasti bisa sayang..SEMANGAT..

                                                            With love

                                    Mama dan Papa Sayank Kamu Clalu

        Jedeeerrrr…seperti tersambar petir disiang bolong, apalagi yang paling mengesalkan kalau ditinggal keluarga sendiri yang lagi asik pergi liburan “Arghhhhh,,,,” aku membuka kulkas yang di dalamnya tertempel sebuah kertas bertuliskan “SURAT DI ATAS MEJA SUDAH DIBACA KAN?” aku makin kesal dan membanting pintu kulkas.

        Aku menengok jam, dan ternyata sudah pukul setengah delapan, “asemmm,, lengkap dah ni… gimana mau pergi ke kampus? Mobil dipake, motor bocor, jalan kaki belum setengah jalan pasti kuliah udah pulangan huaaaaaaa…” Aku berpikir dan tiba –tiba terlintas nama “DINA” dipikiranku “Oh iyaaa…telpon Dina aja..”

I Love You My AngelBaca cerita ini secara GRATIS!