"Apa kau masih menyukai daging sapi panggang?" Ellena tampak sibuk memilih-milih bahan makanan yang akan Ia beli. Dia tak begitu tahu apa yang harus dimasak untuk makan malam, yang Ia tahu mereka akan mengadakan sebuah makan malam romantis dengan lilin diatas meja.

Edward menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

"Jadi apa kesukaanmu sekarang?" Tanya Ellena sekali lagi. Gadis itu kemudian mengambil beberapa paprika dan selada lalu menaruhnya pada keranjang belanja. "Kau suka salad tidak?"

"Ellena, kau tahu aku sangat benci sayuran dalam bentuk apapun" Gadis itu tertawa mendengar jawaban yang keluar dari mulut kekasihnya itu. "Apa yang lucu hingga membuatmu tertawa?"

"Kau sangat lucu dan menggemaskan" Kata Ellena gemas. "Aku benci melihat cowok yang menggemaskan"

Edward menyeringai. Memilih untuk diam dan mendengarkan Ellena, padahal sejujurnya Edward begitu tak suka dengan wanita yang menyebutnya menggemaskan. Itu terdengar dia seperti bayi mungil tak berdaya.

"Kalau begitu kita masak steak saja" Usul Ellena sambil mendorong trolley-nya yang sudah setengah penuh dengan makanan dan bahan makanan di dalamnya. Hanya untuk berjaga-jaga kalau mereka harus pergi lebih cepat dari perkiraam mereka.

Edward tiba-tiba saja menyelipkan tangannya pada pinggang Ellena. "Ada apa?"

"Laki-laki disana sedari tadi melihatimu. Aku tak suka. Ayo cepat kita pulang"

Ellena POV

Edward dapat menjadi orang paling tak peduli dimuka bumi ini namun Edward juga bisa menjadi orang paling protective di muka bumi ini. Agak menyebalkan memang. Dia hanya perhatian disaat Ia ingin mendapatkan perhatian lebih.

Tangannya tak bisa tidak menggenggam tanganku selama kami berbelanja, membuat gerakku sedikit terhambat. "Edward, kalau kau terus-terus menggenggam atau merangkulku, aku akan susah mengambil barangnya"

"Orang diujung sana terus memperhatikanmu, El. Kau tahu aku benci hal seperti itu" Kini dia merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Oh Pria ini benar-benar. "Dia seperti hendak menarikmu pergi, El"

Aku terkekeh pelan mendengar ucapannya. Tentu dia hanya mengada-ada, tak mungkin karna aku tak memiliki kenalan di Victoria. Kurasa ini sudah cukup jauh dari siapapun yang dekat denganku. Apa pelarian ini membuatnya sedikit khawatir denganku?

"Ayolah El, itu sama sekali tidak lucu dan aku serius. Pria itu seperti hendak menarikmu pergi. Aku hanya mengantisipasi" Keluhnya. Edward yang sekarang berada dibelakangku memeluk tubuhku kemudian menyandarkan kepalanya pada bahuku. "El, ayo kita pulang" 

"Kau ini seperti anak laki-laki manja saja. Aku masih harus membeli beberapa bahan lagi, Ed. Jika kau sudah lelah kau bisa menunggu di mobil" Tawarku. Tanganku menggapai rambutnya yang sudah mulai panjang itu, memberinya belaian lembut yang membuatnya tertawa dan mencium pipi kiriku.

Entah mengapa aku merasa beberapa orang seperti melihat ke arah kami, ha-ha. Dan mengapa aku menjadi merasa bangga bermesraan dengan Edward di tempat umum.

"Aku akan menunggu sampai kau selesai, Rosie" 

Ini pertama kalinya semenjak beberapa tahun yang lalu, dia memanggilku Rosie. Nama tengahku.

"Kalau begitu ayo cepat bantu aku mencari bahan-bahan lainnya sehingga kita bisa pulang lebih cepat"

...

Sudah hampir pukul 3 sore ketika kami tiba di rumah. Edward dengan senang hati membawakan belanjaan walau sebenarnya itu cukup berat, ditambah lagi dia bersikeras untuk tidak menerima bantuan dariku.

"Kau bukakan saja pintunya.Biar aku saja yang membawa belanjaannya" 

Pun aku tersenyum lalu memasukkan kuncinya pada lubang pintu. 

Tak bisa kusembunyikan senyum bahagiaku ini. Ya, aku memang sangat bahagia sekarang meski aku harus jauh dari Ayah sekalipun. Aku benci mengakui bahwa aku lebih menyayangi Edward ketimbang orang tuaku, namun bagaimana lagi?

"Taruh saja belanjaannya di dapur. Aku akan ganti baju dulu sebentar" Ucapku padanya. Kami berjalan terpisah.

Membuka koperku lalu mengeluarkan beberapa pakaian yang mungkin akan kugunakan beberapa hari kedepan. Ku ambil kaus warna putih dan celana pendek berwarna hitam, perlahan kubuka satu per satu kancing kemejaku. Rasanya begitu gerah seharian ini menggunakan kemeja, ditambah lagi udara hari ini yang cukup terik.

Belum selesai aku membuka kemejaku, tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dengan Edward yang ada dibalik pintunya. Aku agak terkejut, jujur. 

"Maaf jika kau terkejut" Katanya sembari masuk ke dalam kamar. 

Kalau ditanya aku sedikit canggung? Ya. Aku tahu bahwa Edward adalah tipe yang tak menginginkan batas diantara kita. Aku mengenalnya sejak dulu. Aku paham dia. Tapi berdua di dalam kamar bersamanya dengan aku yang hanya menggunakan bra dan celana panjang? Serius?

"Edward kau tahukan aku--"

"Ya. Aku tahu bahwa kau tak percaya dengan hubungan seks pra nikah. Aku paham. Tak apa" 

Kugaruk kepalaku yang tak gatal. Oh Ya Tuhan, maafkan aku Edward.

"Aku hanya ingin mengambil bantal untuk tidur siang. Aku lelah sekali" Sambungnya sembari berjalan mendekati kasur lalu mengambil bantal. 

"Edward," Kataku ketika Ia hendak meninggalkan kamar. Ia berbalik dan memandangku sejenak. Aku tak yakin dengan apa yang akan kuucapkan, aku bingung dan merasa aneh. Aku ingin tapi juga tak ingin. Ini membingungkan. "Kau bisa tidur bersamaku. Punggungmu akan pegal jika kau tidur di sofa. Ditambah lagi sofa disini sudah tidak empuk seperti sofa baru"

Dia tersenyum. Kemudian berjalan masuk dan naik ke atas ranjang. Ranjang kami karna kami akan tidur berdua disini selama beberapa malam.

"Kau tidur yang nyenyak, oke?" Aku meninggalkannya di kamar dan berjalan ke dapur untuk memasak makan malam kami.

Edward POV

Punggungku ini rasanya sudah kelewat pegal dan terkadang masih nyeri. Jika dibilang aku belum sembuh dari cideraku waktu itu, memang benar. Rasa sakitnya kadang masih menjalar ketika aku bergerak terlalu banyak.

Semoga Ellena tak mengetahuinya.

Aku agak bosan setelah beberapa menit tak kunjung tertidur. Mataku ini rasanya berat sekali untuk sekedar menutup dan membawaku ke alam mimpi menghilangkan rasa sakit pada sekujur tubuhku.

Kuputuskan untuk menghidupkan ponselku. Siapa sangka wajah Sienna masih menjadi screenlock-ku?  

Oh tidak kau mengingatkanku tentangmu sekarang. Sialan karna kau begitu cantik dan seksi. Sialannya lagi kau hanya selingkuhanku. Dan yang paling sialan dari segalanya adalah kau pergi disaat aku begitu menginginkanmu. Keparat!

Aku berpikir untuk menghubunginya lagi sekarang. Aku gila.

Namun sedetik kemudian ponselku bergetar dengan satu pesan masuk.

Kau dimana, Edward? Kapan kita menyelesaikan kencan tertunda kita? 

Nomor tak dikenal lagi.

Heyy i'm back lol. Gimana nih tanggapan kalian tentang ini. Oke fix gue amatiran ya. Maafkan gue belum bisa buat feel cute moment hahah :'') Tell your opinion guys on #TheTripletsWattpad in twitter hehe. Beri komentar kalian dong kurangnya cerita ini dimana jadi guenya bisa memperbaiki. Oh ya, gue udah dapet ide buat endingnya hahaha lol tenang ini masih rada lama kok Next chapter Marcel and Kelsey, tapi gue buat singkat ya, soalnya kan tokoh utama di ff ini sebenernya harry sama blue. oke fix gue kayak pidato panjang banget. Kenalan dong yang belum kenal gue, yang belum gue kenal komen nama, umur, kelas hehe.

Nama gue BLUE. Ga ding Rahma gue lol. Umur gue 15 ke 16 so plis dont call me qaqa ea gaez.

Follow twitter gue : RahmaDyah99

Soundcloud : Rahmaa 

Promosi mulu guenya. Baca ss gue judulnya Malik 1993 dong heheh thank you.

The Triplets // harry stylesBaca cerita ini secara GRATIS!