Chapter 3: Fixing the Bond

34 0 0

Friedrich


"Bagaimana perasaanmu?"

"Lebih baik... kurasa," jawabku. Aku tidak menatap ibuku yang duduk di hadapanku. Sorot mataku mengarah pada lantai koridor rumah sakit seolah ada sesuatu yang menarik di sana. Namun setelah beberapa saat akhirnya aku memutar bola mataku ke arah ibuku. Beliau tersenyum lembut, cantik dan manis sekali. Selain Anja dan Mama Wanda, nyaris tidak ada wanita yang pernah tersenyum seperti itu padaku.

"Apa kau marah padaku?"

"Apa?" tanyaku bingung.

"Kau terlihat bingung, dan seperti ingin menghindari tatapanku tadi. Jujurlah, apa kau marah padaku karena selama seminggu ini tidak menghubungimu?"

"Tidak, tidak seperti itu, Mom. Elsa bilang kau perlu menemani Paman Ivan merawat orang-orang di tempat pengungsian. Dan aku memahami itu," jawabku apa adanya. Tapi aku memang tidak sepenuhnya jujur, karena biar bagaimanapun seorang anak pasti tidak nyaman jika putus kontak dari ibunya tanpa banyak penjelasan, seperti yang terjadi di antara aku dan ibuku selama kurang lebih seminggu ini.

"Biar bagaimanapun, aku tetap ingin meminta maaf padamu. Bukannya aku tidak ingin menghubungimu, tapi aku memang tidak bisa karena aku sibuk sekali. Aku sungguh menyesal, Sayang."

"Tidak apa-apa, Mom. Sudah kubilang tidak apa-apa, Elsa sudah memberitahuku banyak mengenai sesibuk apa kalian di sana." Aku hanya ingin kami berhenti membicarakan hal ini, sekaligus berhenti mencari alasan mengenai sibuk ini dan sibuk itu. Karena mau dikatakan seperti apapun, itu alasan yang klise, bahkan terkesan lebih buruk jika kesibukan itu mengurangi interaksi antara sesama anggota keluarga.

"Oke, baguslah, kalau begitu." Ibuku tampak canggung, jelas ia tidak mengharapkan reuni kami terisi dengan tidak hangat seperti ini. Setelah lama tidak bertemu, sulit bagi kami untuk tidak merasa canggung satu sama lain seperti ini. Ironis, kami sepasang ibu dan anak, tapi sepertinya sulit sekali mencari bahan pembicaraan. Sementara ibuku sepertinya lancar-lancar saja mengobrol dengan anggota keluarganya yang lain seperti Elsa. Dan walau aku jarang bertemu Elias, kembaran Elsa, aku pernah beberapa kali melihatnya mengobrol dengan sangat akrab dengan ibuku. Aku iri bagaimana mereka bisa begitu akrab dengan ibuku, sedangkan aku sendiri sulit sekali bergaul dengan ibuku.

"Jadi, maukah kau menceritakan padaku apa yang terjadi?" tanya ibuku, setelah mungkin satu menit berlalu hanya dengan keheningan yang tak nyaman di antara kami.

"Kupikir Mom sudah mendengarnya dari..."

"Ya, Pyotr dan Wanda beserta Elsa memang sudah menceritakannya padaku. Tapi aku masih ingin mendengar versi ceritamu, biar bagaimanapun kau yang mengalaminya," kata ibuku dengan nada yang lebih serius.

Aku mengeluarkan suara tak nyaman, seperti erangan. Aku berusaha menghindari tatapan mata ibuku. Aku tidak ingin membahas topik itu karena aku tidak ingin kenangan akan insiden buruk itu terus-menerus ada dalam pikiranku. Aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan, tapi entah bagaimana, saat ini otakku tidak bisa diajak bekerjasama untuk memikirkan topik pembicaraan lain yang lebih bagus.

Sebelum aku benar-benar bisa memikirkan sesuatu untuk mengalihkan topik pembicaraan, tiba-tiba ibuku bangkit dari tempat duduknya. Kupikir dia kecewa aku tidak jujur padanya sehingga ia ingin pergi meninggalkanku, makanya aku langsung berusaha mengatakan sesuatu agar ia tidak meninggalkanku. Tapi di luar dugaanku, dia pergi ke belakangku untuk mendorong dan menggerakkan hoverchair tempatku duduk.

"Tunggu, Mom mau membawaku ke mana?"

"Kupikir ini bukan tempat yang bagus untuk bicara soal itu. Maka sebaiknya kita lanjut mengobrol di kamar istirahat perawat saja," jawabnya.

Dream, Delusion, and RealityBaca cerita ini secara GRATIS!