Turnamen Pertama

38 8 4
                                    

PUK!! PUK!!

Hinataa tak mengerti. Ia terus menepuk pipinya. Seperti baru kemarin ia menyemangati rekannya selama latihan. Mendadak tiba-tiba saja ia sudah ada disini- tempat dimana pertandingan itu diadakan.

"Wuaaahhh!!!" semua berdecak kagum. Melintasi lorong yang sebenarnya kelihatan biasa saja. 

"Tim mereka ikut tanding tahun lalu?"

"Ah, sepertinya tidak." Jawab temannya, " Kalaupun iya, mungkin mereka tim yang selalu gagal diawal."

"Haha.., mungkin ya." " Huh! Aku jadi kasihan melihat mereka."

"Benar. Kecil, pendek, dan sepertinya kurang pengalaman. Ekspresi mereka kaku sekali."

Oke! Tim Hinata jadi pusat perhatian sekarang.

Hinata mencebik kesal, sampai-sampai meremat sisi samping jarseynya hingga kusut.

Ya ampun, jika ia datang kesini bukan sebagai pemain mungkin sudah disumpal mulut anak-anak itu. Memang apa yang salah dengan tubuh pendek hah?! Benar-benar menyebalkan!

Kalau dilihat dari penampilan, memang sih anak-anak SMP Yukigaoka seperti barisan murid SD. Dari segi fisik saja kalah jauh jika dibandingkan dengan tim lain-yang setidaknya punya beberapa anggota berbadan besar.

'tapi raksasasa kecil idolanya juga punya tubuh yang mungil, kan?'

'Jadi harapan itu masih ada kan'

Hinata sendiri berusaha membayangkan sesuatu yang positif. Mental nya yang masih labil agak membuatnya kesulitan ditanding pertamanya ini.

Wajah Hinata merah. Anak itu jongkok kelelahan seperti menahan beban muatan yang banyak.

"Shou-chan!" Izumi mendekat takut-takut. Cowok dari klub sepak bola itu memang paling mengerti soal perasaan.

"Hm?"

"Tentang yang tadi..ano..lupakan saja. Lagi pula Shou-Chan,  lompatanmu bagus. Jangan marah, okay? rileksssss..."

"I..izumi, a..aku tidak marah kok." Hinata  jongkok, menyeringai kesakitan. "Eh, memang sih tadi sempat begitu, tapi ada yang jauh menyulitkan saat ini."

"Eh?!" Izumi terperangah-Ia baru sadar wajah Hinata memerah dengan bibir sedikit pucat. Laki-laki itu bergegas memanggil Koji dan yang lainnya untuk segera mendekat.

"Hinata?!" Koji membantu Hinata berdiri. "Kenapa?Apa yang sakit?"

"To..to..." Hinata terbata-bata. Wajahnya makin merah berkeringat.

"To?"

"TOILETTTT!!!" Hinata bergegas lari. Meninggalkan teman setimnya yang sweatdrop melihat kelakuan absurdnya.

"Kirain apaan.." Koji menggaruk leher belakangnya.

"Syukurlah, kukira Shou chan sakit tadi." Izumi menghela napas lega. Setidaknya pemeran utama tim ini masih ada itu sudah lebih cukup.

🏐

Sementara itu Hinata mondar-mandir-mencari letak toilet. Tangannya terus menekan perut, berusaha menahan.

"Permisi, to-toilet dimana ya?"

"mm.. ujung lorong bagian..."

"Arigatou!" Hinata buru-buru pergi.

'Kenapa bisa ada bocah sd disini?' lelaki itu menyesap susu kotak favoritnya sambil mengernyit heran. "Ah, ada-ada saja."

🏐

We Fly Together [KageHina]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang